Jumat (16/10/2026) di Jakarta International Convention Center, Director Utama PT Bank Syariah Nasional atau Bank BSN, Alex Sofjan Noor, berdiri bersama sejumlah pimpinan perbankan sambil menampilkan naskah perjanjian yang baru ditandatangani. Isu yang dibahas bukan merger dan bukan akuisisi. Yang dibahas adalah likuiditas, hal yang jarang masuk berita umum tapi menentukan apakah sebuah bank masih bisa menambah ruang kredit.
Yang Ditandatangani di JICC
Akses Cepat
Bank BSN memperkuat kolaborasi antarbank melalui Pasar Uang Antarbank Syariah atau PUAS. Langkah ini untuk mengelola likuiditas, memperkuat konektivitas antarbank syariah, dan membangun pasar keuangan syariah yang lebih efisien.
Melalui kolaborasi tersebut, Bank BSN menyatakan diri memperkuat ekosistem keuangan syariah sekaligus memperluas peran pasar keuangan syariah dalam mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Kalimat itu penting karena pasar uang antarbank adalah lapisan paling bawah dari sistem keuangan. Di situlah bank-bank syariah saling memindahkan kelebihan dan kekurangan dana sebelum dikumpulkan jadi pembiayaan.
PUAS adalah kepanjangan dari Pasar Uang Antarbank Syariah. Fungsinya sederhana, yaitu menjadi tempat bank-bank syariah kirim dan terima dana dalam jangka pendek supaya semua pihak bisa lebih optimal menempatkan likuiditasnya.
Bentuk transaksi yang paling banyak dibicarakan adalah SiPA atau Sertifikat Pengelolaan Dana Berdasarkan Prinsip Syariah Antarbank. Satu bank menempatkan dana berjangka di bank lain dengan agunan, lalu dana itu dikembalikan pada jatuh tempo dengan imbal hasil yang disepakati.
Menurut Alex Sofjan Noor, penerapannya diharapkan memberi rasa aman bagi pelaku industri sekaligus meningkatkan efisiensi pasar. Soal agunan, Alex menyebut penggunaan Surat Berharga Syariah Negara atau SBSN dan SukBI.
Ini bagian yang paling menarik buat investor, karena kedua instrumen itu bisa dibeli langsung di pasar dan tidak harus lewat bank.
Konteksnya, Bank BSN bersama Bank Aladin Syariah dan BCA Syariah sudah lebih dulu menandatangani kerja sama SiPA di The Dharmawangsa, Jakarta, Rabu (22/04/2026). Presiden Direktur Bank Aladin Syariah, Koko Tjatur Rachmadi, menyebut instrumen seperti SiPA memungkinkan transaksi antarbank dilakukan lebih efisien, aman, dan tetap sesuai prinsip syariah. Arah itu sejalan dengan Blueprint Pendalaman Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing 2030 atau BPPU 2030.
President Director BCA Syariah Yuli Melati Suryaningrum menyebut kolaborasi tersebut sebagai bentuk konkret penguatan manajemen risiko bagi struktur industri perbankan syariah, sekaligus peluang memperluas pemanfaatan instrumen pasar uang syariah secara kolaboratif.
Tren Instrumen Beragunan Naik Tajam
Yang membuat berita ini terasa lebih dari sekadar kerja sama antarbank adalah angka dari Bank Indonesia. Porsi transaksi instrumen beragunan, termasuk SiPA, naik dari nihil pada 2020 menjadi sekitar 34 persen dari total transaksi PUAS pada 2024. Rata-rata transaksi hariannya mencapai Rp0,8 triliun. Bank Indonesia memproyeksikan porsinya mendekati 40 persen pada 2025.
Pendorongnya adalah pergeseran preferensi pasar. Dulu transaksi antarbank lebih banyak memakai instrumen tanpa agunan, sekarang pemain industri cenderung memilih instrumen yang punya underlying. Kepala Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia, Dadang Muljawan, menyebut ini sebagai tren positif yang mencerminkan kepercayaan industri yang makin kuat.
Dia menambahkan Bank Indonesia akan terus mendorong optimalisasi pemanfaatan instrumen tersebut supaya pasar keuangan syariah menjadi lebih aktif, efisien, dan berdaya tahan.
Kenapa Ini Penting buat Industri Perbankan Syariah
Likuiditas bukan isu seremonial. Kalau dana menganggur bisa berputar lebih efisien, dan dana yang paling dibutuhkan untuk kredit tersedia, margin bank jadi jauh lebih sehat.
Untuk bank yang menandatangani kerja sama ini ada bukti nyata. Bank Aladin Syariah mencatat laba Rp150,7 miliar sampai Desember 2025, dengan total aset mencapai Rp14,4 triliun dan jumlah nasabah aktif tumbuh 35,5 persen secara tahunan.
Koko Tjatur Rachmadi menilai penguatan instrumen PUAS sebagai salah satu faktor kunci meningkatkan ketahanan industri perbankan syariah sekaligus mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan. Ini penting buatmu sebagai investor, karena kesehatan industri bank syariah memengaruhi kemampuan bank menekan biaya dana di masa depan.
Kaitan dengan Pasar Modal Syariah, Sukuk, dan SBSN
SBSN dan SukBI adalah instrumen yang dipakai bank syariah sebagai agunan. Kalau pasar uang syariah makin dalam, pasar sukuk juga ikut terbantu. Bank lebih mudah memperoleh dana dan punya alasan lebih jelas untuk menerbitkan sukuk dengan biaya yang lebih terkendali.
Hal ini juga menyentuh sisi permintaan di Bursa Efek Indonesia. BSI dan bank syariah lain punya kebutuhan pendanaan jangka menengah yang layak masuk ke Daftar Efek Syariah. Semakin sehat pasar uang syariah, semakin wajar bagi mereka menerbitkan obligasi dan sukuk yang masuk ke daftar itu.
Di sisi lain, investor yang memegang sukuk ritel maupun reksa dana sukuk akan merasakan efeknya lewat sisi imbal hasil. Ketika pasar uang syariah memberi alternatif yang lebih tertata, patokan imbal hasil di pasar sukuk ikut bergerak dan perlu dipertimbangkan ulang.
Apa Artinya buat Investor Saham Syariah
- Perhatikan angkanya, bukan cuma headlines kerja sama. Tata cara SiPA memang penting bagi industri, tapi dampaknya baru terlihat di angka pembiayaan dan margin bank.
- SBSN dan SukBI tetap jadi patokan di portofoliomu. Kalau kamu memegang sukuk ritel atau reksa dana sukuk, pergerakan pasar uang syariah ini penting dipantau sebagai penanda tingkat imbal hasil dan likuiditas.
- Hati-hati membandingkan bank lewat satu MOU. Bank yang baru menandatangani SiPA belum tentu punya aset dan laba yang sepadan. Cek laporan keuangan dan pengungkapan resmi sebelum menyimpulkan.
- Ikuti indikator resmi. Statistik PUAS dan porsi transaksi beragunan dari Bank Indonesia adalah indikator paling objektif untuk menilai sejauh mana pendalaman pasar uang syariah berjalan.
Singkatnya, PUAS ini berfungsi sebagai alat untuk mengatur dana. Bank bisa mengelola likuiditas dengan lebih rapi dan ekspansi tetap terjaga oleh prinsip kehati-hatian. Dampaknya belum langsung terlihat di angka indeks, tapi fondasinya sedang dibangun sekarang.
Dirangkum dan ditulis ulang dari IDX Channel, BISNISNEWS.id, dan Okezone Digital (17 Oktober 2026), dengan konteks tambahan dari Infobanknews.