ISEF 2026 Tutup dengan Business Matching Rp3,2 Triliun: Ekonomi Syariah 25 Persen PDB, Apa Artinya buat Investor Saham Syariah?

by Minsya
4 minutes read

Gelaran Indonesia Sharia Economic Festival atau ISEF ke-13 baru saja ditutup di Jakarta International Convention Center, Senayan, Minggu (18/10/2026). Angka penutupnya menarik buat dipantau investor keuangan syariah.

Angka Penutup ISEF 2026: Rp3,2 Triliun Kesepakatan Bisnis

Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) ke-13 mencatatkan nilai business matching atau kesepakatan bisnis sebesar Rp 3,2 triliun hingga Sabtu (17/10/2026).

Alhamdulillah, hingga tadi malam ISEF telah dikunjungi oleh sekitar 93.000 orang. Dengan nilai transaksi mencapai Rp 13,8 miliar dan capaian untuk business matching atau business deal sebesar Rp 3,2 triliun,” ujar Solikin dalam penutupan ISEF ke-13 di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Minggu (18/10/2026).

Solikin mengatakan BI mendorong tiga langkah untuk memperkuat ekonomi syariah, yakni mengintegrasikan rantai nilai halal dari hulu ke hilir, memperluas akses pembiayaan syariah, serta meningkatkan literasi dan inklusi keuangan melalui digitalisasi.

Pembiayaan syariah perlu terhubung dengan aktivitas produktif, keuangan sosial syariah juga perlu menjadi bagian dari upaya pemberdayaan yang berkelanjutan,” kata Solikin.

Menurut dia, sinergi pembiayaan dan pemberdayaan dapat memperkuat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), menciptakan lapangan kerja, serta memperluas manfaat ekonomi syariah kepada masyarakat.

Tiga Program BI dan Target Pertumbuhan 6 sampai 8 Persen

Pada momentum itu, Bank Indonesia meluncurkan tiga program unggulan. Pertama, Islamic Financial Market Code of Conduct (ICoC), yakni pedoman transaksi pasar keuangan syariah yang disusun Asosiasi Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing Indonesia (APUVINDO) serta IIGMA bersama Bank Indonesia dan OJK untuk memperkuat integritas dan efisiensi pasar.

Drajad Wibowo mengatakan, ekonomi syariah memiliki potensi besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional menuju 6% pada 2027 dan 8% dalam jangka menengah.

Sebelumnya, ekonomi syariah berkontribusi hampir 25% terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia atau setara Rp 1.524 triliun pada kuartal IV 2025. Namun, pangsa pasar pembiayaan perbankan syariah baru mencapai 7,44% pada Agustus 2026, meskipun pertumbuhannya mencapai 11,6% secara tahunan.

Aset Keuangan Syariah Rp3.131 Triliun dan Indonesia Ketiga Dunia untuk Sukuk

Drajad mengatakan aset keuangan syariah Indonesia mencapai Rp 3.131 triliun dengan pangsa 11,36% dari total aset keuangan nasional.

Dalam laporan State of the Global Islamic Economy (SGIE) 2025/2026, Indonesia bertahan di peringkat keempat dunia. Di dalam negeri, rantai nilai halal tumbuh 5,5% (yoy) pada triwulan II 2026, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional. Sementara itu, penerbitan green sukuk Indonesia sejak 2018 mencapai USD7,7 miliar di pasar global dan Rp108,9 triliun di pasar domestik per Juni 2026.

Pada Agustus 2026, pembiayaan perbankan syariah mencapai Rp 758 triliun atau tumbuh 11,6%. Namun, pangsa pasar yang masih 7,44% menunjukkan ruang pengembangan pembiayaan syariah di Indonesia masih terbuka.

Data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 menunjukkan tingkat literasi keuangan syariah mencapai 43%, sedangkan tingkat inklusinya baru 13,24%.

Kaitan dengan DES, ISSI, dan JII

Kaitan paling langsungnya ada di Daftar Efek Syariah. Sukuk dan obligasi yang terbit dengan dukungan ekosistem seperti ini masuk ke daftar yang bisa dibeli investor ritel, sedangkan pasar uang syariah yang makin dalam ikut menopang permintaan di Indeks Saham Syariah Indonesia, mulai dari JII sampai ISSI.

Contoh Nyata di Lantai ISEF: Bank Syariah Perkuat Likuiditas dan Wakaf

PT Bank BCA Syariah memperkuat kerja sama likuiditas antarbank syariah melalui penandatanganan transaksi Sertifikat Pengelolaan Dana Berdasarkan Prinsip Syariah Antarbank (SiPA) dengan empat bank dalam gelaran Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026.

Keempat bank tersebut adalah PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI), PT OCBC Syariah, PT Bank CIMB Niaga Tbk Unit Usaha Syariah (UUS), dan PT BPD NTB Syariah.

Melalui mekanisme SiPA, perbankan syariah dapat saling mendukung pengelolaan likuiditas sehingga tetap memiliki ruang untuk berekspansi dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian.

Selain kerja sama SiPA, BCA Syariah juga meresmikan kolaborasi Cash Waqf Linked Deposit (CWLD) dengan Wakaf Warrior sebagai nazhir atau pengelola wakaf. Kerja sama ini diarahkan untuk mendorong pemanfaatan wakaf secara produktif dan pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

BCA Syariah merealisasikan pembiayaan kepada PT Toya Perdana Lhokseumawe untuk mendukung pembangunan sistem penyediaan air bersih siap minum dari keran. Program tersebut ditargetkan menjangkau ribuan rumah tangga di Lhokseumawe, Aceh.

Apa Artinya buat Investor Saham Syariah

  • Perhatikan selisih angka 25 persen dan 7,44 persen. Kontribusi ekonomi syariah itu besar, tapi pangsa pembiayaannya masih kecil.
  • Sukuk Indonesia sudah jadi aset global. Green sukuk sejak 2018 mencapai USD7,7 miliar secara global dan Rp108,9 triliun secara domestik.
  • Ikuti angka aset keuangan syariah. Aset keuangan syariah Indonesia mencapai Rp3.131 triliun dengan pangsa 11,36 persen dari total aset keuangan nasional.
  • Literasi dan inklusi masih jadi PR utama. Tingkat literasi keuangan syariah 43 persen dan inklusi 13,24 persen.

Kesimpulannya, ISEF 2026 menunjukkan industri keuangan syariah Indonesia sedang tumbuh cepat dan makin terdalam, dan pasar modal syariah punya ruang tumbuh yang masih lebar.

Dirangkum dan ditulis ulang dari Liputan6, ET INDONESIA, dan Lintas Ekonomi, dengan konteks dari IDX Channel, Kontan, dan Aktual.com.

You may also like

Leave a Comment