Ada satu angka yang layak kamu catat pagi ini. Akumulasi penerbitan Green Sukuk Indonesia di pasar global sudah mencapai US$7,7 miliar. Obligasi hijau ini sudah jauh melewati tahap eksperimental.
Ini bukan sekadar cerita obligasi pemerintah. Ada empat sudut yang layak kamu perhatikan: angka penerbitannya, alasan investor asing mulai melirik, posisi ekonomi syariah Indonesia di peta global, sampai implikasi praktisnya buat portofolio kamu.
Di Mana Posisi Green Sukuk Indonesia Sekarang?
Akses Cepat
Kalau kamu membandingkan dengan 2018, perbedaannya mencolok. Pada masa itu Green Sukuk Indonesia baru sekadar pernyataan niat: bahwa obligasi halal Indonesia bisa terbit dan laku di pasar internasional. Hari ini posisinya sudah berbeda jauh.
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menjelaskan posisi itu di gelaran Indonesia Sharia Economic Festival atau ISEF 2026 yang berlangsung di Jakarta International Convention Center, Senayan.
Menurut Destry, akumulasi penerbitan Green Sukuk Indonesia di pasar global sejak 2018 sudah mencapai US$7,7 miliar. Angka itu setara sekitar Rp137,8 triliun kalau dikonversi ke rupiah, dan itulah angka yang dipakai Liputan6 dalam laporannya.
Sementara itu, di pasar domestik, serapan Green Sukuk Indonesia tercatat sekitar Rp108,9 triliun. Dua angka ini tidak saling bertentangan karena cakupannya memang berbeda: yang pertama akumulasi penerbitan global, yang kedua adalah nilai yang diserap investor di dalam negeri.
Ada satu angka yang lebih besar dan layak kamu ingat. Outstanding Surat Berharga Syariah Negara atau SBSN per 30 September 2026 tercatat di kisaran Rp1.818,56 triliun, setara 20,29 persen dari total outstanding SBN pemerintah yang mencapai Rp8.962,39 triliun. Angka ini berasal dari Direktorat Jenderal Pembiayaan dan Risiko alias DJPPR Kementerian Keuangan.
Dari total itu, Rp1.714,06 triliun adalah efek yang dapat diperdagangkan di bursa, sedangkan Rp104,49 triliun adalah efek non-tradable alias Sukuk Ritel. Kalau kamu mau melihat wajah sukuk yang benar-benar bisa dibeli di pasar sekunder, bagian yang diperdagangkan itulah yang paling relevan.
Artinya, sekitar dua dari setiap lima rupiah SBN yang diterbitkan pemerintah sekarang berbasis syariah. Ini belum dominan, tapi sudah jauh dari sekadar pelengkap.
Kenapa Bos BI Bilang Investor Asing Sekarang Bergeser ke Sukuk?
Frasa paling menarik dari berita ini bukan angkanya, tapi kalimat yang diucapkan Destry saat membuka ISEF 2026 di Jakarta, Selasa (14/10/2026).
Kata-katanya begini: banyak dari investor juga bergeser, dan biasanya produk keuangan syariah itu relatif stabil, karena dia punya underlying-nya.
Maksudnya begini. Ketika pasar obligasi sedang bergejolak, sebagian investor mulai menggeser pilihannya. Dan di titik itu, sukuk punya keunggulan yang tidak dimiliki obligasi konvensional: ada aset dasar atau proyek nyata yang melekat padanya.
Struktur itu membuat sukuk punya karakteristiknya sendiri. Risiko dan imbal hasilnya bisa dipisah, dan perilakunya tidak selalu bergerak searah dengan obligasi biasa. Kalau obligasi konvensional berdiri di atas janji emiten tanpa aset yang jelas, sukuk berdiri di atas sesuatu yang nyata dan bisa diuji.
Pertanyaan menariknya lalu: kenapa Amerika dan Eropa? Jawaban Destry cukup singkat, karena mereka melihat produk ini yang sustainable. Di negara dengan mandatory green mandate yang kuat, green bond punya pasar yang captive.
Pembeli seperti itu tidak lagi perlu diyakinkan soal mutu produknya. Mereka justru diwajibkan menempatkan dana di aset yang memenuhi kriteria tertentu. Sukuk global punya pasar yang benar-benar menunggu di sana.
Indonesia Nomor 4 Dunia, Tapi Porsi Domestiknya Masih Ramp
Potret yang lebih besar mulai terlihat. Di ISEF yang sama, Destry menyebut Indonesia berada di peringkat keempat dunia dalam State of the Global Islamic Economy Report 2025-2026.
Posisi keempat di dunia itu achievement yang layak dihargai. Tapi angkanya sendiri tidak berhenti di situ.
Dari sisi ekonomi makro, ekonomi syariah Indonesia menyumbang hampir 25 persen terhadap produk domestik bruto atau PDB, setara sekitar Rp1.524 triliun pada kuartal IV 2025. Sementara total aset keuangan syariah mencapai Rp3.131 triliun dengan pangsa 11,36 persen dari total aset keuangan nasional.
Indonesia juga menempati peringkat ketiga dunia berdasarkan nilai aset sukuk. Posisi yang layak dibanggakan, tapi ada satu angka yang membuat kepala tetap dingin: pangsa pembiayaan perbankan syariah baru 7,44 persen per Agustus 2026.
Pertumbuhannya 11,6 persen secara tahunan dengan total Rp758 triliun. Tumbuh sehat, tapi pangsa marjinalnya terhadap perbankan konvensional masih kecil. Ini PR yang belum terlihat jelas di grafik.
Masalahnya sebenarnya bukan pada performa, tapi pada inklusi. Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan atau SNLIK 2025 mencatat tingkat literasi keuangan syariah di 43 persen, sementara tingkat inklusinya baru 13,24 persen. Dua angka itu menjelaskan sebuah jarak yang cukup lebar: banyak orang mengenal, sedikit yang benar-benar punya akses.
Dari sisi kebijakan, Wamenko Bidang Perekonomian Drajad Wibodo mengaitkannya dengan target pertumbuhan nasional. Ekonomi syariah bisa menjadi andalan mendorong pertumbuhan 6 persen pada 2027 dan 8 persen dalam jangka menengah, sebagai bagian dari peningkatan daya saing.
Bandingkan dua sisi itu, yaitu posisi global yang kuat dengan pangsa domestik yang masih ramping, dan kamu bisa menebak sendiri di mana ruang kerjanya sebenarnya berdiri.
Tiga Program BI yang Diluncurkan di ISEF 2026
ISEF 2026 bukan cuma konvensi biasa. Pada gelaran yang berlangsung 14 sampai 18 Oktober 2026 di Jakarta International Convention Center, Bank Indonesia meluncurkan tiga program unggulan di sektor ekonomi dan keuangan syariah.
Pertama, Islamic Financial Market Code of Conduct atau ICoC. Ini pedoman transaksi pasar keuangan syariah yang disusun bersama oleh APUVINDO dan Indonesia Islamic Global Market Association bersama BI dan OJK. Tujuannya memperkuat integritas dan efisiensi pasar.
Kedua, Indeks Penerapan Prinsip Utama Zakat dengan pembaruan Zakat Core Principles 2.0. Ini hasil pembaruan BAZNAS bersama BI dengan tambahan dimensi manajemen risiko, supaya tata kelola zakat tidak berhenti di soal pungutan, tapi juga bagaimana dananya dikelola.
Ketiga, program beasiswa internasional bagi mahasiswa asing yang dibiayai lewat dana sosial syariah. Tujuannya bukan cuma bersekolah, tapi juga mengoptimalkan zakat, infak, sedekah dan wakaf atau ziswaf supaya dikelola lebih produktif.
Nuansa paling menarik ada di kalimat Destry. Kalau porsinya baru sekitar 20 persen dari total SBN, maka masalahnya jelas: produk apa yang belum tersedia? Destry sendiri mengaku meminta bantuan otoritas agama termasuk Majelis Ulama Indonesia dan Dewan Syariah Nasional untuk merumuskan produk keuangan syariah yang lebih variatif, karena permintaannya sudah ada.
Dan untuk menjangkau generasi baru, BI membawa ISEF ke arah yang agak tidak terduga. Ada ISEF World Island di platform Roblox dan kompetisi Video Kreatif Ekonomi Syariah atau VITRAH. Festival ini juga agarose berdiri berdekatan dengan Trade Expo 2026 supaya buyer dan investor bisa berinteraksi langsung.
Kaitannya dengan DES, ISSI, dan JII
Ini bagian yang biasanya lolos dari perhatian pembaca. Kalau kamu hanya melihat judul Green Sukuk Indonesia Tembus Rp137,8 Triliun, kamu bisa melewatkan why hal ini penting buat investor saham syariah.
Titik awalnya sederhana: sukuk dan saham bukan instrumen yang sama, tapi keduanya saling menopang. Perusahaan dan bank yang mendapat dana dari penerbitan sukuk berarti punya akses pendanaan yang lebih luas tanpa harus menebus obligasi konvensional dengan struktur dan spread yang berbeda.
Buat emiten yang lolos dan masuk Daftar Efek Syariah atau DES, sumber pendanaan seperti ini punya efek tidak langsung. Perusahaan yang dinding modalnya lebih longgar biasanya punya ruang lebih besar untuk tumbuh, dan pertumbuhan itu yang akhirnya masuk ke laporan keuangan serta nilai perusahaannya.
Kalau efek yang kamu pegang berasal dari perusahaan yang lolos screening syariah, penerbitan sukuk negara ini secara tidak langsung membentuk bagian dari underlying ekonomi yang kamu pegang. Bukan hubungan yang langsung, tapi bukan juga tidak ada sama sekali.
Di mana ISSI dan JII berdiri? Keduanya ada di sisi ekuitas, bukan sisi debt. ISSI atau Indonesian Islamic Stock Index menghimpun saham-saham dalam DES yang lolos layanan dasar dan disaring berdasarkan ekspektasi imbal hasil, sedangkan JII atau Jakarta Islamic Index adalah subset yang lebih terfokus pada emiten dengan kapitalisasi dan likuiditas yang lebih besar.
Simpulnya begini: green sukuk adalah cerita debt yang menopang sistem, sedangkan DES, ISSI, dan JII adalah cerita equity yang kamu pegang di pasar modal. Dua sistem berbeda, satu arah yang sama, yaitu pendalaman pasar keuangan syariah Indonesia.
Satu catatan penting: status keanggotaan sebuah emiten dalam DES dan indeks syariah berubah secara berkala. Selalu cek versi terbaru, karena yang berlaku bulan lalu belum tentu masih berlaku hari ini.
Apa Artinya bagi Investor Saham Syariah
Kalau kamu cuma pembaca, berita ini enak dibaca tapi tidak ada yang berubah di portofolio. Kalau kamu benar-benar memutuskan untuk mulai, ada beberapa hal yang bisa langsung dipakai.
Pertama, jangan salah baca arah. Green sukuk tumbuh karena ada permintaan global yang nyata, bukan karena pemerintah kebetulan punya agenda hijau. Kalau permintaan ini bertahan, artinya pasar ini siap menyerap penerbitan berikutnya.
Kedua, perhatikan porsinya. Sekitar 20 persen outstanding SBN adalah sukuk, dan bagian non-tradable cukup besar. Kamu lebih mungkin punya pengalaman praktis lewat sukuk yang likuid, atau lewat reksa dana obligasi yang berbasis sukuk, daripada memegang sukuk itu sendiri.
Ketiga, ini juga bukan alasan untuk menunda. Angka inklusi 13,24 persen justru berarti pasar masih punya ruang tumbuh yang besar. Kalau kamu masuk sekarang, kamu termasuk kelompok yang datang lebih awal.
Keempat, dan ini yang paling sering luput: tombol portofolio adalah riwayat dividen, bukan judul berita. Dividen yang rutin, neraca yang sehat, dan bisnis inti yang jelas. Green sukuk itu penting sebagai bagian dari sistem, bukan sebagai alasan untuk membeli saham tertentu.
Dan jangan lupa hal paling sederhana: naik dulu sebelum turun. Kalau indeks syariahmu sedang kuat, jangan buru-buru averaging up. Kalau sedang terkoreksi dengan fundamental yang masih utuh, justru itu momen yang biasanya paling masuk akal untuk menambah porsi dengan dana yang sudah kamu sisihkan.
Kalau ada satu angka yang kamu bawa pulang dari artikel ini, mungkin bukan US$7,7 miliar, tapi yang 7,44 persen. Belum banyak orang yang benar-benar punya akses ke pasar ini. Itu bisa jadi ruang, atau bisa jadi tidak ada artinya sama sekali. Tentukan sendiri.
Dirangkum & ditulis ulang dari CNBC Indonesia, Liputan6, VOI, dan CNBC Syariah, liputan pembukaan Indonesia Sharia Economic Festival 2026 pada 14 Oktober 2026.