Angka potensi wakaf uang di Indonesia cukup bikin orang terkejut. Badan Wakaf Indonesia (BWI) memperkirakan potensi wakaf uang nasional mencapai Rp180 triliun per tahun.
BRIS Dorong Wakaf: fakta dan angka terbaru yang perlu kamu tahu sebelum mengambil keputusan investasi.
Hanya saja, angka yang benar-benar terkumpul jauh dari situ. Penghimpunan wakaf uang nasional pada 2025 tercatat Rp4,72 triliun, dan untuk 2026 ditargetkan Rp4,79 triliun.
Kalau dihitung kasar, realisasinya baru sekitar 2,6 persen. Masih ada sekitar Rp175 triliun yang berupa niat baik, belum berubah menjadi dana yang bisa bekerja dan hasilnya bisa dipakai banyak orang.
BRIS Dorong Wakaf: BRIS Serius Dorong Wakaf Produktif di Forum GLOW 2026
Akses Cepat
PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk, yang kamu kenal dengan kode saham BRIS, sedang mendorong pengembangan wakaf produktif sebagai instrumen kesejahteraan sekaligus ketahanan ekonomi umat.
Komitmen itu ditegaskan BSI dalam The 2nd Global Conference on Waqf Development (GLOW) 2026 yang dilangsungkan di Jakarta International Convention Center. Forum tersebut mempertemukan regulator, nazhir, akademisi, dan pelaku industri keuangan syariah.
Perwakilan BSI di forum tersebut diwakili Wakil Direktur Utama BSI, Bob Tyasika Ananta. Dia menilai penguatan wakaf produktif menuntut kolaborasi seluruh pemangku kepentingan.
Menurut dia, wakaf adalah warisan kebaikan yang tidak pernah berhenti mengalir. Lewat kolaborasi, setiap wakaf bisa tumbuh produktif dan menghadirkan harapan bagi lebih banyak orang.
Dua Instrumen yang Membuat Wakaf Bisa Bekerja
Kunci perubahannya ada di instrumen. Sebagai Lembaga Keuangan Syariah Penerima Wakaf Uang (LKS-PWU), BSI punya dua alat dengan karakter yang berbeda.
Cash Waqf Linked Deposit (CWLD) bekerja dengan cara menjaga pokok wakaf tetap terjaga, sementara hasil pengelolaannya dapat dipakai untuk berbagai program sosial seperti pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Cash Waqf Linked Sukuk (CWLS) adalah instrumen yang lebih menarik buat kamu. Di sini dana wakaf diarahkan ke dalam sukuk, yaitu obligasi syariah. BSI berperan sebagai mitra distribusi CWLS ritel seri SWR007, sehingga masyarakat punya jalur berwakaf lewat instrumen keuangan syariah, bukan sekadar donasi sekali lalu selesai.
Bedanya cukup jelas. Kalau berwakaf lewat donasi murni, uang berhenti di tangan penerima. Kalau lewat CWLD atau CWLS, pokoknya tetap aman sementara hasilnya tetap bekerja untuk program yang dipilih.
BSI juga mendorong kemudahan berwakaf lewat kanal digital BYOND by BSI. Digitalisasi dinilai penting untuk menjangkau generasi yang semakin terbiasa memakai layanan keuangan digital.
Ini Kaitannya ke Pasar Modal Syariah: Beda antara Saham, Sukuk, dan Indeks Syariah
Sekarang bagian yang paling menarik buat pembaca saham syariah.
Yang perlu diluruskan lebih dulu: CWLS seri SWR007 itu bukan saham, dan tidak ikut terhitung di indeks JII maupun ISSI. Indeks saham syariah di Bursa Efek Indonesia hanya menghitung emiten berbentuk saham, sedangkan sukuk berdiri di ranah obligasi syariah yang masuk ke dalam peta pasar keuangan syariah, bukan peta pasar modal.
Jadi kalau kamu ikut serta dalam SWR007, kamu bukan sedang memegang saham BRIS. Kamu sedang memegang obligasi syariah yang imbal hasilnya ikut putar di program wakaf.
BRIS sebagai emiten punya peran yang berbeda. BRIS adalah salah satu bobot terbesar di indeks syariah JII, dan aktivitas wakaf produktif ini masuk ke dalam penggunaan dana bisnis yang menyumbang ke pendapatan perseroan.
Artinya ada dua pintu berbeda yang bisa kamu pakai. Satu lewat Bursa Efek Indonesia kalau kamu mau memegang saham BRIS sebagai emiten. Satu lagi lewat pasar sukuk kalau kamu mau imbal hasil dari obligasi syariah yang sebagian hasilnya untuk wakaf.
Jangan sampai keduanya ketuker di kepala. Membeli SWR007 tidak membuatmu pemilik BRIS, dan memegang BRIS tidak membuatmu ikut berwakaf.
Wakaf Produktif Itu Serius, Bukan Sekadar Program Sosial
Pertanyaan paling logis begini: ini cuma program sosial, atau ada implikasi bisnis yang nyata? Jawabannya, ada implikasi bisnisnya.
Bayangkan angkanya. Kalau penghimpunan wakaf uang bergerak dari Rp4,72 triliun menuju porsi yang lebih besar dari potensi Rp180 triliun, maka bank-bank syariah punya ruang tambahan untuk mengelola dana sosial syariah yang relatif berisiko rendah dan cukup stabil.
Menurut BSI, pengembangan wakaf produktif butuh ekosistem yang kuat, mulai dari peningkatan literasi masyarakat, penguatan kapasitas nazhir, tata kelola yang amanah, sampai dukungan industri keuangan syariah.
GLOW 2026 diharapkan menjadi katalis yang memperkuat sinergi itu. BSI optimistis Indonesia punya peluang menjadi salah satu rujukan pengembangan wakaf produktif di tingkat global.
Sebagai pembanding, bank syariah lain juga bergerak di jalur serupa. BCA Syariah pada Oktober 2026 menandatangani kerja sama likuiditas antarbank syariah sekaligus membuka kerja sama Cash Waqf Linked Deposit bersama Wakaf Warrior sebagai nazhir, dengan dana yang difokuskan untuk pemberdayaan UMKM.
Artinya pasar ini bukan proyek satu bank. Kalau gerakan ini berkembang sungguhan, permintaan atas instrumen wakaf berbasis keuangan syariah akan naik untuk seluruh industri, bukan cuma untuk BRIS.
Apa Artinya bagi Investor Saham Syariah
Kalau kamu investor saham syariah, ada beberapa hal yang bisa kamu ambil dari cerita ini.
- Pisahkan dulu dua hal yang sering ketuker. BRIS adalah saham di Bursa Efek Indonesia dan masuk perhitungan indeks syariah JII. CWLS seri SWR007 adalah sukuk ritel, bukan saham dan tidak masuk indeks. Jangan subsitusi keduanya.
- Perhatikan kualitas pendapatan, bukan cuma angka total. Pendapatan berbasis dana wakaf dan pembiayaan sosial punya karakter yang relatif stabil dibanding pendapatan berbasis spekulasi pasar modal. Kalau porsi ini makin besar di laporan keuangan bank syariah, itu tanda pertumbuhannya lebih sehat.
- Kenali risikonya dengan jujur. Jangan tergoda masuk hanya karena ada kuota pembagian hasil yang terdengar menarik. Dana wakaf yang dikelola secara halal tetap punya risiko, dan imbal hasilnya tidak otomatis tinggi.
- Pilih sesuai tujuanmu. Kalau mau eksposur lewat indeks, kamu memegang saham emiten. Kalau mau eksposur ke obligasi syariah, itu lewat kanal sukuk terpisah.
Singkatnya, program wakaf produktif ini penting bukan karena cuma kelihatan besar di atas kertas. Yang menentukan adalah seberapa cepat dana itu benar-benar sampai ke sektor produktif, dan seberapa besar dampaknya ke laporan keuangan bank syariah dalam beberapa tahun ke depan.
Untuk kamu yang selama ini hanya mengenal saham syariah lewat indeks JII, ini pengingat bahwa ada lapisan keuangan syariah lain yang bekerja di belakang layar: sukuk, reksa dana syariah, dan instrumen wakaf. Semua punya aturan halal yang berbeda, dan tidak selalu bisa saling menggantikan.
Sumber: dirangkum dan ditulis ulang dari IDX Channel (18 Oktober 2026), IDX Channel (18 Oktober 2026), dan liputan IDX Channel tentang BCA Syariah di ISEF 2026 (17 Oktober 2026).