PT Bank Aladin Syariah Tbk (Bank Aladin Syariah) terus memperkuat strategi pengelolaan likuiditas melalui sinergi antarbank. Terbaru, bank berkode saham BANK tersebut menjalin kerja sama transaksi Sertifikat Pengelolaan Dana berdasarkan Prinsip Syariah Antarbank (SiPA) dengan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI), OCBC Syariah, dan Maybank Syariah.
Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan perjanjian transaksi SiPA yang menjadi salah satu instrumen dalam mendukung pengelolaan likuiditas sekaligus pengembangan aktivitas treasury Bank Aladin Syariah.
Transaksi dilakukan dalam rupiah dan dolar AS sesuai kesepakatan para pihak.
Bank Aladin Syariah: SiPA Itu Apa dan Dipakai Untuk Apa
Akses Cepat
Transaksi dilakukan berdasarkan kesepakatan para pihak, termasuk nilai transaksi, mata uang, jangka waktu, serta imbal hasil atau ujrah sesuai struktur akad dan ketentuan yang berlaku. Inisiatif tersebut menjadi bagian dari upaya Bank Aladin Syariah memperkuat pengelolaan likuiditas secara terukur melalui pemanfaatan instrumen pasar uang syariah.
Langkah ini ditujukan untuk mendukung kelancaran operasional sekaligus pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.
Melalui kerja sama SiPA, Bank Aladin Syariah memperluas pilihan dalam mengelola likuiditas sekaligus memperkuat sinergi dengan bank syariah lainnya.
Rupiah dan Dolar AS Dibuka Bersamaan
Dalam kerja sama tersebut, transaksi SiPA antara Bank Aladin Syariah dan BSI akan menggunakan mata uang dolar Amerika Serikat (USD). Sementara itu, transaksi dengan OCBC Syariah dan Maybank Syariah menggunakan mata uang rupiah (IDR).
Kerja sama dengan BSI, OCBC Syariah, dan Maybank Syariah sekaligus memperluas jaringan mitra transaksi Bank Aladin Syariah dan membuka alternatif pengelolaan likuiditas dalam dua mata uang, yakni rupiah dan dolar Amerika Serikat.
Jaringan SiPA yang Terus Panjang
Kerja sama tersebut melanjutkan langkah Bank Aladin Syariah dalam memperluas sinergi antarbank melalui instrumen SiPA. Sebelumnya, pada April 2026, perseroan juga telah menjalin kerja sama serupa dengan Bank Syariah Nasional (BSN) dan BCA Syariah.
Perjanjian kerja sama tersebut ditandatangani oleh Presiden Direktur Bank Aladin Syariah Koko Rachmadi bersama Treasury & Global Market Group Head BSI Kemal Aditya, Direktur OCBC Syariah Andrae Krishnawan W, dan Direktur Maybank Syariah Romy H Buchari dalam ajang Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026.
Kata Manajemen soal Likuiditas
Presiden Direktur Bank Aladin Syariah Koko T Rachmadi mengatakan, kerja sama tersebut memperluas jaringan transaksi antarbank sekaligus menambah alternatif bagi perseroan dalam mengoptimalkan pengelolaan likuiditas. “Inisiatif tersebut merupakan bagian dari pengembangan aktivitas treasury perseroan untuk mendukung pengelolaan dana yang lebih fleksibel dengan tetap memperhatikan prinsip syariah, manajemen risiko, dan prinsip kehati-hatian,” ujar Koko dalam keterangannya, Jumat, 16 Oktober 2026.
Pertumbuhan bisnis perbankan, lanjut Koko, perlu dibarengi dengan pengelolaan likuiditas dan risiko yang prudent.
Dengan demikian, pertumbuhan Bank Aladin Syariah tidak hanya berorientasi pada skala, tetapi juga pada ketahanan dan keberlanjutan bisnis serta kualitas layanan bagi nasabah,” tegas Koko.
Kaitan dengan Obligasi dan Sukuk Emiten
Bursa Efek Indonesia (BEI) telah merealisasikan beberapa pencatatan obligasi dan sukuk di awal 2026. Menurut data yang dirilis Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna, Kamis (15/1), nilai dana yang dihimpun dari penerbitan itu mencapai Rp5,85 triliun.
Beberapa perusahaan yang dimaksud mulai dari Eagle High Plantations, Summarecon Agung, Energi Mega Persada, dan Chandra Asri Pacific. Selain itu, ada juga Permodalan Nasional Madani (PNM), Bank UOB Indonesia, dan Bank Aladin Syariah.
Seperti diketahui, total emisi obligasi dan sukuk yang tercatat di BEI berjumlah 665 emisi dengan nilai nominal outstanding sebesar Rp542,85 triliun dan USD134,01 juta, diterbitkan oleh 137 emiten. Sementara itu, BEI juga masih mencatat 10 emisi dari 5 penerbit yang masih dalam pipeline.
Apa Artinya buat Investor Saham Syariah
- Lihat kualitas pendanaan. Perhatikan rasio likuiditas dan sumber dana utama di laporan keuangan tiap kuartal.
- Perhatikan beban dari obligasi dan sukuk. Makin banyak surat berharga terbit, makin besar beban bunga yang harus ditanggung emiten.
- Ikuti pengumuman pipeline penerbitan. Bursa Efek Indonesia rutin menerbitkan data pipeline emisi obligasi dan sukuk.
Kesimpulan
Kesepakatan SiPA ini menunjukkan arah pengelolaan dana di industri perbankan syariah. Semakin banyak sumber dana yang dibuka, semakin besar ruang gerak bank saat pasar berubah. Investor saham syariah bisa memantau arah ini lewat laporan keuangan dan pengumuman emiten.
Sumber: dirangkum dan ditulis ulang dari Infobanknews (16 Oktober 2026) serta EmitenNews.com (15 Januari 2026). Liputan serupa pada 17 Oktober 2026 juga dimuat detikcom serta beberapa media lokal.