Skip to content
Saham Syariah Indonesia
Banner
  • PANDUAN PEMULA
    • TENTANG SAHAM
    • PROFIL RISIKO
    • MULAI SAHAM
    • KOMUNITAS
    • APA ITU SAHAM SYARIAH
  • SAHAM SYARIAH
    • REGULASI OJK
    • FATWA DSN-MUI
    • INDEKS SAHAM SYARIAH
    • INVESTASI SYARIAH
  • PRODUK
    • CEK SAHAM SYARIAH
    • KELAS FATAMMA
    • KELAS FUNDAMENTAL
    • MM SEDERHANA
  • BLOG
Home - emiten syariah - Page 18
Tag:

emiten syariah

daftar saham syariah
Emiten Syariah

Simak! Daftar Saham Syariah Terbaru dan Terlengkap

by Minsya April 25, 2022
written by Minsya 0 minutes read

Daftar Saham Syariah Update

Setelah memahami pengertian saham syariah secara umum, kini Anda perlu mengetahui beberapa jenis saham syariah yang terdaftar di berbagai indeks saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Daftar Efek Syariah (DES). Perlu diketahui bahwa daftar berikut selalu mengalami perubahan dalam jangka waktu tertentu. Daftar ini dibuat update secara otomatis untuk periode-periode selanjutnya.

daftar saham syariah

Baca Juga : Yuk, Dagang Saham Syariah!

*Database ini akan update secara otomatis, jadi simpan terus link berikut ini ya!

Suka dengan artikel ini? Yuk sharing ke temen-temen kamu ya. Semoga bermanfaat!

April 25, 2022 0 comments
0 FacebookTwitterPinterestEmail
adaro energy
Berita Saham Syariah

Adaro Energy (ADRO) Siap Bagi Dividen Rp 5 Triliun, Simak Jadwalnya

by Minsya December 22, 2021
written by Minsya 3 minutes read

RUPS Adaro Energy

PT Adaro Energy (ADRO) Tbk berencana membagikan dividen interim untuk Tahun Buku 2021 sebesar 350 juta dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp5 triliun. Hal ini disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada 21 Desember 2021.

Berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), dikutip Rabu (22/12/2021), Adaro Energy akan membagikan dividen interim yang berasal dari laba bersih Perseroan periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2021.

Adaro Energy Meraup Laba Bersih

Perlu diketahui, Adaro Energy meraup pendapatan 2,56 miliar dolar AS atau setara Rp36,83 triliun hingga September 2021. Realisasi pendapatan itu tumbuh 31 persen dari periode sembilan bulan pertama 2020 sebesar 1,95 miliar dolar AS atau Rp28,02 triliun.

Adaro Energy mencatat laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk 420,90 juta dolar AS atau Rp6,03 triliun hingga September 2021. Laba itu naik 284,8 persen dari periode sama tahun sebelumnya Rp1,56 triliun.

adaro energy

Dividen Interim

Dikutip dari halaman Kamus Keuangan Tokopedia, dividen merupakan pembagian laba kepada pemegang saham berdasarkan banyaknya saham yang dimiliki. Pembagian ini akan mengurangi laba ditahan dan kas yang tersedia bagi perusahaan, tetapi distribusi keuntungan kepada para pemilik memang adalah tujuan utama suatu bisnis. Dividen terbagi jadi 5 jenis, yaitu dividen tunai, dividen saham, dividen properti, dividen skrip, dan juga dividen likuidasi.

Dividen harus disetujui oleh pemegang saham melalui hak suara mereka. Dividen bisa diibaratkan sebagai hadiah token yang dibayarkan kepada pemegang saham atas investasi mereka dalam ekuitas perusahaan, dan biasanya berasal dari laba bersih perusahaan. Sementara sebagian besar keuntungan disimpan dalam perusahaan sebagai laba ditahan – yang mewakili uang yang akan digunakan untuk kegiatan bisnis perusahaan yang sedang berlangsung dan masa depan – sisanya dapat dialokasikan kepada pemegang saham sebagai dividen. Terkadang, perusahaan masih dapat melakukan pembayaran dividen bahkan ketika mereka tidak menghasilkan keuntungan yang sesuai. Mereka dapat melakukan hal itu untuk mempertahankan rekam jejak yang telah ditetapkan dalam melakukan pembayaran dividen secara teratur.

Dewan direksi dapat memilih untuk menerbitkan dividen dalam berbagai kerangka waktu dan dengan tingkat pembayaran yang berbeda. Dividen dapat dibayarkan pada frekuensi yang dijadwalkan, seperti bulanan, triwulanan, atau tahunan.

Sedangkan dividen sementara adalah interim dividend yaitu dividen yang dinyatakan dan dibayarkan sebelum laba tahunan perusahaan ditetapkan; biasanya, pembayaran dilakukan secara berkala (per triwulan) selama tahun berjalan; banyak perusahaan berusaha tetap konsisten, merencanakan dividen per triwulan yang mereka yakini dapat mereka pikul, dan mencadangkan perubahan sampai hasil tahun fiskal diketahui.

Jadwal Pembagian Dividen Interim

Berikut jadwal pembagian dividen interim ADRO:

– Tanggal pencatatan pemegang saham yang berhak atas dividen tunai interim pada 3 Januari 2022

– Pengumuman kurs konversi (dengan menggunakan kurs tengah Bank Indonesia) di situs web BEI dan perseroan pada 3 Januari 2022

– Pasar reguler dan negosiasi: Cum dividen pada 29 Desember 2021 Ex dividen pada 30 Desember 2021

– Pasar tunai: Cum dividen pada 3 Januari 2022 Ex dividen pada 4 Januari 2022

– Pembagian dividen interim pada 14 Januari 2022

Adaro Saham Syariah

Perlu diketahui bahwa Adaro Energy (ADRO) adalah termasuk salah satu dari Daftar Efek Syariah. Kamu bisa cek saham itu masuk DES atau tidak melalui fitur dibawah ini.

Cek Saham Syariah

Gimana? Berminat untuk berburu dividen interim?

December 22, 2021 0 comments
0 FacebookTwitterPinterestEmail
Emiten Syariah

Yuk, Taarufan Dengan WMPP, Perusahaan Penghasil Daging Sapi & Unggas

by Minsya November 16, 2021
written by Minsya 6 minutes read

WMPP Induk Widodo Makmur Unggas

Nama Widodo Makmur mungkin tidak asing ditelinga para investor. Karena di awal tahun ini ada nama Widodo Makmur Unggas (Kode saham: WMUU) yang sudah IPO lebih dulu.

Kali ini, ada nama Widodo Makmur Perkasa (Kode saham: WMPP), induk perusahaan WMUU yang akan segera IPO juga di tahun ini.

Untuk mengetahui lebih dalam mengenai WMPP, Jum’at, 12 November 2021 Syariahsaham mengadakan webinar bareng calon emiten yang dihadiri juga oleh Pak Eko Agmi Andriana selaku Chief of Financial Officer (CFO) dan Ibu Mega Nurfitriyana selaku Chief Operational Operation (COO) of Investor Relation, Marketing, & Finance dari WMPP.

Banyak insight menarik yang bisa kita dapat dari persentasi dan sesi tanya jawab dari manajemen. Yang paling utama adalah terkait kondisi, tantangan, prospek dan strategi perusahaan untuk terus bertumbuh.

Nah, barangkali kemarin Anda tidak hadir atau Anda melewatkan beberapa informasi penting. Berikut akan kami review serta analisis perusahaan dari segi fundamental. Baca sampai akhir ya.

Profil Singkat

PT Widodo Makmur Perkasa, Tbk (WMPP) adalah salah satu perusahaan peternakan terintegrasi terbesar di Indonesia yang berfokus pada ternak sapi dan unggas. WMPP memulai bisnis peternakan sapi pada tahun 1996. Kemudian, WMPP telah berkembang ke berbagai bisnis lain termasuk perdagangan komoditas pertanian dan perkebunan, dan pengolahan daging.

Pada tahun 2006, WMPP memperluas peternakan sapi dan pabrik pakan.

Kemudian, pada tahun 2013 membangun rumah potong hewan pertama untuk memasok produk daging di Indonesia.

WMPP merupakan perusahaan keluarga, sehingga pemegang sahamnya dikuasi oleh keluarga Bapak Widodo. Bapak Tumiyana, anak dari Bapak Widodo merupakan pemegang saham mayoritas sekaligus CEO dari WMPP.  WMPP mempunyai 5 anak perusahaan dan 5 “cucu” perusahaan.

WMPP
Sumber: Mini Public Expose WMPP Dalam Acara Bersama Syariahsaham

Model Bisnis

WMPP telah tumbuh dan berkembang selama 26 tahun, memiliki lima lini bisnis yang saling terintergrasi, yaitu:

  1. Peternakan Sapi Terintegrasi
  2. Pengolahan Makanan Berbasis Daging
  3. Peternakan Ayam Terintegrasi
  4. Komoditas Pertanian
  5. Konstruksi & Energi Terbarukan

Model bisnis WMPP terintegrasi secara vertikal (dari pemeliharaan, penyembelihan, dan kemudian ke pengolahan daging) dan terintegrasi secara horizontal (melalui perdagangan komoditas pertanian dan bisnis perkebunan).

Pada tahun 2020, pendapatan dan laba bersih perusahaan turun 16% dan 34% karena imbas pandemi. Namun, CAGR (Compounded Anual Growth Rate) pendapatan dan laba bersih dari tahun 2015 – 2019 berada diangka 3% dan 5%. Laba bersih cenderung lebih fluktuatif, dikarenakan ada keuntungan/kerugian dari foreign exchange.

Bisnis yang terintegrasi dan berada di satu grup menjadi sebuah kelebihan dari WMPP. Sehingga mampu menciptakan efisiensi biaya, sehingga berdampak baik bagi lini bisnis downstream (pengolahan daging).

Dari ke-5 lini bisnis yang dimilik WMPP, hanya 2 lini bisnis yang menjadi ujung tombak dan growth driver WMPP, yaitu pengolahan daging & peternakan sapi dan ayam. Dari sisi margin usaha, pengolahan daging memberikan margin yang lebih besar dibandingkan lini usaha yang lain.   

Lini bisnis energi dan properti WMPP menjadi support system dengan memanfaatkan energy terbarukan. Sehingga kedepan akan menjadi cost efficiency WMPP dan margin bersih diharapkan akan terus meningkat.

Lini bisnis komoditas juga mempunyai peran penting sebagai support system. Dengan mengembangkan sendiri jagung untuk pakan ternak, mengurangi eksposur WMPP terhadap fluktuasi harga jagung yang biasanya mengurangi margin usaha perusahaan di industry ternak hewan.

Sumber: Mini Public Expose WMPP Dalam Acara Bersama Syariahsaham

Efisiensi Usaha: Startegi Cerdas Manajemen

Satu hal lagi yang menarik dari WMPP adalah usaha manajemen untuk melakukan cost efficiency. Secara umum, bisnis daging hewan ini memberikan margin yang tipis. Selain itu, pengaruh fluktuasi harga pakan ternak seperti jagung juga membuat beberapa periode tertentu membuah perusahaan di industri ini mengalami kerugian.    

Selain pemanfaatan energi terbarukan, pemanfaatan kotoran sapi sebagai pupuk kompos dan sisa jagung pakan ayam untuk pakan sapi menjadi salah dua langkah efisiensi yang telah dilakukan.

Bisa dikatakan, langkah efisiensi usaha yang dilakukan manajemen WMPP adalah suatu langkah cerdas dari WMPP untuk menjadi salah satu pemain besar di industri peternakan hewan. 

Baca Juga : Membongkar Rasio ROE UNVR Yang Konsisten >100%

Sumber: Mini Public Expose WMPP Dalam Acara Bersama Syariahsaham

Bedah Pendapatan

Pendapatan WMPP selama periode 2018 – 2020 cenderung stabil. Namun, di Q2 2021, pendapatan WMPP naik signifikan sebesar 80% dibandingkan Q2 2020. Hal ini didorong oleh kenaikan pendapatan di semua lini bisnis WMPP hingga >20%.

Lini bisnis poultry yang naik hingga 155% dan lini livestock yang naik 33% menjadi lini yang berkontrubusi besar bagi pertumbuhan pendapatan WMPP. Maka dari itu, kontribusi lini poultry meningkat menjadi 48% dari total pendapatan WMPP dari sebelunya hanya 38% di tahun 2020.   

Lini poultry yang dijajaki oleh WMPP melalui anak usaha Widodo Makmur Unggas (kode saham: WMUU) mempunyai keunikan dibandingkan kompetitor. WMPP menjual daging karkas, sehingga harga jual lebih stabil dibandingkan kompetitor yang menjual pakan ternak. 

Sumber: Mini Public Expose WMPP Dalam Acara Bersama Syariahsaham

Laba Yang Terus Bertumbuh

Meskipun pendapatan stabil, secara bottom line terjadi kenaikan yang luar biasa. Hal ini juga didorong efisiensi biaya yang dilakukan oleh manajemen sehingga terjadi penurunan beban pokok pendapatan. Gross profit WMPP mengalami kenaikan yang lebih tinggi dibandingkan pendapatannya. Hal ini pun juga terjadi di Q2 2021.

Laba bersih konsolidasi dan laba usaha WMPP pun juga mengalami pola yang sama. Bahkan laba usaha WMPP mampu naik hingga 124% di Q2 2021.

Sumber: Mini Public Expose WMPP Dalam Acara Bersama Syariahsaham

Prospek Usaha

Secara umum, prospek industri peternakan punya prospek yang cerah. Populasi Indonesia yang terus mengalami peningkatan sehingga kebutuhan protein juga ikut naik. Peningkatan kelas menengah dan populasi dengan umur dibawah 55 tahun di Indonesia juga menjadi katalis positif terhadap daging ayam dan sapi sebagai sumber protein.

Dibandingkan dengan negara tetangga, konsumsi per kapita Indonesia terhadap daging masih cukup rendah. Bahkan kalah jauh dengan Malaysia. Ini mengindikasikan adanya ruang pertumbuhan yang luas bagi WMPP. 

Sumber: Mini Public Expose WMPP Dalam Acara Bersama Syariahsaham

Penggunaan Dana IPO

Dibandingkan dengan negara tetangga, konsumsi per kapita Indonesia terhadap daging masih cukup rendah. Bahkan kalah jauh dengan Malaysia. Ini mengindikasikan adanya ruang pertumbuhan yang luas bagi WMPP. 

Sebagian besar dana IPO yang didapat oleh WMPP akan digunakan untuk pengembangan usaha. Ini adalah hal yang baik karena tidak sedikit perusahaan yang akan IPO, dananya digunakan hanya untuk melunasi hutang

Berikut rincian penggunaan dana hasil IPO WMPP:

  1. Sekitar 11,43% akan digunakan untuk membiayai pengembangan kerjasama operasi (Joint Operation) export yard, logistik dan rumah potong hewan di Australia.
  2. Sekitar 19,05% akan digunakan untuk membiayai pembangunan fasilitas peternakan terintegrasi dan perkebunan jagung di Sumatera, Sulawesi dan Papua.
  3. Sekitar 19,05% akan digunakan untuk pemberian modal kepada Entitas Anak Perseroan.
  4. Sekitar 17,90% akan digunakan untuk pembayaran utang Perseroan dan grup.
  5. Sekitar 32,57% akan digunakan untuk modal kerja Perseroan, terutama untuk pembelian bahan baku.

Sekian artikel tentang ulasan WMPP. Jika anda tertarik dan membutuhkan informasi lebih dalam, anda bisa membaca prospektus WMPP.

Semoga bermanfaat.

Yoga Ahmad Gifari (Rusia)
Graduated as master of Railway Track Management, but enthusiastic with sharia stock market.

November 16, 2021 2 comments
0 FacebookTwitterPinterestEmail
Saham Pemula

Profit 100% Dalam 3 Bulan, Saham Syariah Ini Salah Harga!!!

by Minsya October 5, 2021
written by Minsya 6 minutes read

Profit 100%?

Yup… Anda tidak salah baca. Profit 100% dalam 3 bulan, 6 bulan atau mungkin 1 tahun bisa saja Anda dapatkan di pasar saham. Tentunya bukan dari saham gorengan atau pompom, tapi yang memiliki histori fundamental cukup baik dengan analisa sederhana, logis dan mudah dipahami.

Naik Turun Harga Saham

Naik turunnya harga saham secara garis besar bisa disebabkan oleh 2 hal. Pertama karena adanya perubahan kinerja dan yang kedua adalah adanya isu/berita yang beredar setiap saat. Penyebab pertama tentu yang dijadikan acuan oleh investor.

Dalam jangka panjang perusahaan dengan kinerja baik tentu akan menghasilkan laba yang akan mendongkrak value perusahaan hingga dihargai lebih oleh pasar. Sedangkan penyebab kedua menjadi pemicu pergerakan harga saham jangka pendek walaupun kadang isu/berita tersebut belum jelas kebenarannya. Jadi, mari kita ambil alasan pertama yang lebih logis yaitu adanya perubahan kinerja.

PT Dharma Samudera Fishing Industries Tbk (DSFI)

Perusahaan ini bergerak di bidang perikanan, termasuk penangkapan, pengolahan, penjualan dan perdagangan produk perikanan. Tuna, udang, cumi, gurita dan semua jenis ikan laut merupakan hasil perikanan yang sebagian besar dijual ke luar negeri. Untuk mejalankan usahanya, perusahaan bermitra dengan nelayan yang memiliki kapal dengan mesin pembeku dan ruang pendingin untuk menjaga mutu hasil tangkapannya.

(source : Laporan Keuangan Q1)

Saat Laporan Keuangan Q1 keluar tanggal 30 Juni 2021, Penulis melihat adanya kenaikan kinerja dari emiten ini. Laba usaha naik hampir 200%, laba bersih juga naik signifikan dari periode sebelumnya yang hanya Rp 23 Juta menjadi Rp 4 Miliar. Dengan harga sahamnya saat itu Rp 64/lembar saham maka PER DSFI hanya 7,2 yang secara sederhana setara return hampir 15%/tahun (100%/7,2 ≈ 15%). Hal ini yang membuat Penulis tertarik untuk mencari informasi lebih dalam terkait gambaran kinerja perusahaan di tahun sebelumnya.

Mengetahui Kinerja Historikal Dengan Membaca Annual Report

(source : Laporan Tahunan 2020)

Terjadi penurunan Laba hingga mengalami kerugian Rp 5,8 Miliar pada laporan keuangan tahun 2020. Penulis menilai hal ini sebagai suatu yang wajar karena masih dalam masa pandemi. Lockdown di beberapa negara pasti langsung berdampak pada penjualan yang sebagian besar ke negara Amerika dan Eropa sehingga kinerja di tahun 2020 bisa diabaikan.

Mari kita fokus pada kinerja 2016-2019. Penjualan di tahun 2019 mengalami penurunan hampir mencapai 27% namun laba bersih hanya turun 2% saja. Rasa penasaran itu terjawab di Annual Report 2019, dimana perusahaan melakukan efisiensi dan fokus pada penjualan produk dengan marjin yang lebih baik.

DSFI Saham Turnaround?

Dari data-data diatas, bisa sedikit menyimpulkan bahwa DSFI di tahun 2020 mengalami kendala penjualan yang disebabkan oleh pandemi covid yang sifatnya sementara. Cepat atau lambat Penulis meyakini bahwa wabah covid akan berakhir dan ekonomi akan pulih kembali, begitupun dengan kinerja perusahaan yang ternyata hasilnya sudah bisa dibuktikan di Laporan Keuangan Q1. Namun hal itu belum cukup meyakinkan Penulis untuk langsung membeli saham DSFI.

Price to Earning Ratio (PER) berada di kisaran 15-21 (melalui aplikasi stockbit), sehingga harga wajar berada di kisaran Rp 134-186/lembar saham (didapat dari perkalian PER dengan 2,3 – EPS Laporan Keuangan Q1). Kita ambil harga terendah agar lebih konservatif yaitu Rp 134/lembar. Inilah yang akan menjadi target harga jual.

Dengan membandingkan harga saham saat itu sebesar Rp 64/lembar maka ada potensi kenaikan lebih dari 100% (1 bagger). Menarik, tapi masih ada hal lain yang harus diamati yaitu GCG (Good Corporate Governanve).

GCG Perusahaan bisa diamati dengan mengetahui siapa saja managementnya dan bagaimana mereka menjalankan perusahaan. Apakah mereka pernah memiliki catatan buruk atau apakah mereka orang yang kompeten di bidangnya? Hal tersebut bisa dicari salahsatunya dengan mengetik nama managementnya di google :). Singkatnya Penulis tidak menemukan GCGnya bermasalah dan kemudian membeli saham tersebut pada awal bulan Juli dengan average Rp 67/lembar saham.

Baca Juga : Value Trap, Saham dan Mobil Bekas

Focus On Value, Not On Price

Profit 100%

Setelah selesai melakukan analisa kuantitatif dan kualitatif maka tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu. Ya… Menunggu pasar mengapresiasi true valuenya, menunggu perusahaan mengadakan Public Expose atau Laporan Keuangan berikutnya.

Sambil menunggu, beberapa kali mencari informasi di website BPS (Badan Pusat Statistik) maupun KKP (kementrian Kelautan dan Perikanan) untuk mengetahui apakah industri perikanan di Indonesia sudah membaik dari tahun sebelumnya. Hindari terlalu sering mengamati grafik pergerakan harga saham karena justru bisa memicu untuk melakukan action-sell.

Sampai dengan pertengah bulan Agustus, rasanya tidak ada update informasi terkait DSFI. Mungkin karena DSFI tidak sepopuler BRIS/BUKA yang beritanya bisa muncul tiap hari di semua media elektronik. Ini bisa jadi hal positif agar Analisa kita tidak terombang-ambing isu yang beredar yang belum jelas kebenarannya.

Update Analisa Hasil Public Expose & Laporan Keuangan Q2

Pada akhir bulan Agustus, DSFI mengadakan Public Expose yang isinya menguatkan analisa sebelumnya. Management menyampaikan bahwa permintaan ekspor sudah meningkat dan optimis mencapai target angka penjualan tahun 2021 sebesar Rp 520 Miliar. Beberapa strategi ekspansi dilakukan diantaranya menggarap pasar baru di China dan Timur Tengah.

Dengan perhitungan matematis sederhana, dari data Q1 kita bisa prediksi nilai penjualan di Q2 dan Q4 2021 yang nilainya ternyata tidak jauh berbeda dari target management.

Tidak lama berselang, muncul Laporan Keuangan Q2 yang semuanya sejalan dengan analisa awal. Penjualan mencapai Rp 256 Miliar dengan laba bersih Rp 8M. Tidak 100% tepat namun cukup mendekati.

Terkait ekspansi yang disampaikan perusahaan saat Public Expose, kita tidak memiliki data yang cukup sehingga tidak memasukan faktor pertumbuhan pada analisa kuntitatif. Pada akhirnya kita hanya melakukan update analisa dari Laporan Keuangan Q2 yang nilainya tidak terlalu jauh berbeda (target harga jual konservatif masih Rp 134) dan kembali menunggu.

Pasar Mulai Mengapresiasi Kinerja DSFI

(source : stockbit app)

Tanpa diduga sebelumnya, pasar dengan cepat sekali mengapresiasi emiten ini. Setelah selama 2 bulan sideway di harga Rp 73/lembar, dalam 1 minggu melonjak hingga menyentuh harga Rp 141/lembar, kalau kita cicil DSFI dari sejak harga 70an mungkin kita bisa mendapat return 100% dari emiten ini kurang dari 3 bulan.

Saat ini harga saham DSFI bergerak di sekitar Rp 113-125 dan masih ada peluang untuk mencapai harga Rp 186 terutama bila kinerjanya terus tumbuh dengan inisiatif strategi ekspansi yang semua itu harus dibuktikan pada laporan keuangan kuartal selanjutnya. Namun dengan harganya saat ini MOS (Margin of Safety) sudah mulai  berkurang sehingga peluang untuk turun semakin besar. DYOR.

Di Pasar Modal setiap tahun selalu saja ada kesempatan mendapatkan emiten turnaround yang menawarkan potensi return hingga 100% bahkan lebih dalam waktu singkat. Namun tentu saja tidak ada yang tahu pasti kapan harga akan diapresiasi oleh pasar. Pada prinsipnya, seorang investor harusnya memilih view jangka panjang dan mengangap satu contoh diatas hanya sebagai bonus atas pekerjaan rumah yang sudah dilakukan, dengan menganalisa mencari saham murah dan bagus.

Disclaimer : Artikel ini bersifat edukatif, tidak ada ajakan untuk menjual atau membeli. Analisa sederhana diatas tidak serta merta bisa digunakan pada semua emiten, bergantung pada bisnis model tiap perusahaan.

Ario Fatoni, pernah menjadi karyawan bank 9 tahun di unit CFO dan memutuskan resign untuk menjadi entrepreneur serta mulai fokus mendalami value investing di pasar modal syariah.

October 5, 2021 0 comments
0 FacebookTwitterPinterestEmail
Emiten Syariah

Gawat! Investor Saham ISSP Wajib Baca Ini Sebelum Berinvestasi

by Minsya September 27, 2021
written by Minsya 5 minutes read

PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (Kode saham ISSP) menjadi buah bibir para value investor semenjak merilis laporan keuangan Q2 2021 kemarin. Laba ISSP naik hingga 8366% dari periode sebelumnya.

Hal ini cukup menarik karena ISSP yang bermain di industry yang terdampak pandemi tapi kenapa justru mampu membukukan kinerja yang moncer dan laba yang meroket.

Untuk menjawab pertanyaan tadi, Sabtu, 25 September 2021 Syariahsaham telah mengadakan webinar bareng Emiten bersama Bapak Johannes W. Edward, selaku Chief Strategy & Business Development Officer, Corporate Secretary and Investor Relations dari ISSP.

Banyak insight menarik yang bisa kita dapat dari penjelasan dan tanya jawab bersama Bapak Edward. Selain pertanyaan tadi, kita juga dapat informasi penting terkait kondisi, tantangan dan prospek perusahaan. Jarang-jarang loh, kita dapat kesempatan mendapatkan informasi primer langsung dari direksi perusahaan.

Nah, barangkali kemarin Anda tidak hadir atau Anda melewatkan beberapa informasi penting. Berikut akan kita ulas serta analisis perusahaan dari segi fundamental. Baca sampai akhir ya.

Profil Singkat Saham ISSP

ISSP didirikan pada tahun 1971 di Surabaya sebagai produsen pipa baja. Semenjak itu, ISSP terus bertumbuh menjadi perusahaan dengan kapasitas produksi terbesar di Indonesia dan berpengalaman dalam memproduksi berbagai macam pipa baja/tabung & berbagai produk terkait lainnya.

Pada 22 Februari 2013, ISSP resmi tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Dalam penawaran umum (IPO) tersebut, ISSP meraih dana segar sebsar Rp735,07 miliar untuk pengembangan usaha.

Saat ini pemegang saham mayoritas ISSP adalah PT Chakra Bakti Para Putra sebanyak 55,94%, Pemberton Asian Opportunities Fund sebanyak 6,68% dan sisanya pemegang saham publik sebanyak 37,38%.

Selain itu, ISSP mempunyai 3 entitas anak dan perusahaan asosiasi, yaitu PT SPINDO Engineering Industry, PT Sanko Steel Indonesia dan PT Poses.

Saham ISSP
Sumber: Laporan Public Expose ISSP 2021

Model Bisnis

ISSP sebagai produsen pipa baja perlu memasok bahan baku berupa baja karbon dan gulungan stainless dari pemasok luar negeri dan dalam negeri. Jaringan pemasok yang dimilki oleh ISSP pun cukup luas sehingga tidak mempunyai ketergantungan oleh perusahaan tertentu. Ini memberikan keleluasaan ISSP dalam menentukan pemasok mana yang memberikan harga yang menarik.

Sumber: Laporan Public Expose ISSP 2021

Seperti yang bisa dilihat diatas, bahwa terdapat pergesaran kontribusi pemasok yang di tahun 2020 didominasi oleh luar negeri. Kemudian di tahun 2021, mayoritas pemasok beralih ke dalam negeri.

Hasil produksi pipa ISSP juga digunakan dalam berbagai industry seperti industri infrastruktur, otomotif, minyak dan gas, pipa air minum, dan lain sebagainya. Selain itu, ISSP juga menyediakan jasa layanan pelapisan (coating dan protection) internal dan eksternal.

Sumber: Laporan Public Expose ISSP 2021

Untuk pangsa pasar domestik, ISSP telah menjajaki pasar ritel (penjualan ke distributor atau agent) dan proyek, dimana keduanya berkontribusi setara 50% bagi pendapatan ISSP. Pendapatan proyek sendiri didapat dari proyek-proyek perusahaan negara (BUMN) seperti Pertamina, Wijaya Karya, Waskita Karya, Adhi Karya, dll.

Saat ini pendapatan ISSP masih didominasi penjualan dalam negeri. ISSP juga sudah mulai menggenjot ekspor terutama ke Amerika Serikat dan Kanada.

Dari sisi sektor industri, penjualan ISSP didominasi oleh penjulan ke perusahaan di sektor konstruksi. Walaupun terdampak pandemi sekalipun, kontribusi sektor konstruksi masih kuat sebesar 61% dari penjualan di Q1 2021.

Sumber: Laporan Public Expose ISSP 2021

Baca Juga : Saham PTBA: Tetap Konsisten Profit Di Bisnis Siklikal

Rajanya Produsen Baja di Indonesia

ISSP memiliki 6 fasilitas manufaktur terdiri dari 4 pabrik produksi di Karawang, Surabaya, Sidoarjo & Pasuruan dan 2 gudang di Bandung dan Samarinda. Total 37 lini produksi yang masing-masing dapat dikalibrasi untuk menghasilkan berbagai jenis pipa.

Saat ini, ISSP adalah pemimpin pasar di industry pipa baja dengan kompetitor lainnya yang cukup jauh tertinggal oleh ISSP dari segi total volume produksi pipa baja.

Menurut keterangan Bapak Johannes, hanya ISSP yang bermain di hampir semua sektor industri yang membutuhkan pipa baja. Kompetitor lain hanya fokus ke beberapa sektor tertentu karena volume produksi yang masih kecil. Ini menjadi keunggulan kompetitif bagi ISSP dibandingkan dengan kompetitor lain.

Sumber: Laporan Public Expose ISSP 2021

Laba Bersih Q2 2021 Naik 8366%???

Untuk menjawab pertanyaan itu, mari kita bedah laporan keuangan Q2 2021 ISSP.

Sumber: Laporan Keuangan Q2 2021 ISSP

Ditahun 2020 kemarin kinerja keuangan ISSP cukup terdampak karena pandemi, sehingga banyak proyek-proyek infrastruktur yang ditunda dan berdampak buruk ke laba bersih. Selain itu, beban keuangan yang cukup besar di tahun Q2 2020 membuat laba bersih ISSP makin tertekan.

Di tahun 2021, sektor konstruksi sudah mulai berjalan kembali sehingga berdampak baik ke kinerja ISSP di Q2 2021.

Terlihat juga ada efisiensi di akun beban pokok pendapatan, sehingga gross margin meningkat. Di Q2 2021, gross margin ISSP sebesar 22,1%. Sedangakan di Q2 2020 sebesar 12,3 %.

Profitabilitas Historis

Lalu bagaimana dengan kinerja profitabilitas historis ISSP?

Sumber: Laporan Keuangan ISSP

Penjualan dari tahun 2013 – 2019 sendiri hanya bertumbuh CAGR sebesar 6%. Sedangkan laba bersih turun sebesar -2%. Penjualan dan laba bersih ISSP sendiri cukup naik signifikan di periode 2016 – 2019 masing-masing sebesar 14% dan 22%. Ini berkat proyek-proyek infrastruktur sedang ramai digenjot terutama proyek infrastruktur negara.

Dari segi operasional, ISSP belum konsisten dan terpengaruh oleh harga bahan baku baja dunia, terutama di tahun 2018. Meskipun pendapatan meningkat, gross margin perusahaan justru turun dari tahun sebelumnya. Namun, setelah itu ISSP mampu memperbaiki manajemen pembelian bahan baku sehingga angkanya terus membaik. 

Sumber: Laporan Keuangan ISSP

Selain itu, dari segi ROE (Return On Equity) juga terlihat tidak konsisten akibat volatilitas laba bersihnya. Baru pada tahun 2021, ROE perusahaan berhasil menembus angka 10%, karena keberhasilan manjemen dalam melakukan langkah efisiensi.

Sumber: Data ROE ISSP hasil olahan penulis

Valuasi Relatif Yang Masih Murah

Sumber : Trading View

Saat ini, harga saham ISSP berada diangka Rp 286, kembali ke kisaran harga ketika IPO di tahun 2014. Harga ISSP sendiri sudah naik hingga lebih 100% sepanjang tahun 2021 ini karena kinerja keuangan yang juga menigkat signifikan. Rasio PBV sekarang diangka 0,6 kali dan PER 5,5 kali. Cukup menarik melihat rasio tersebut.

Bagaimana pendapat anda mengenai prospek ISSP? Apakah masih menarik untuk dibeli? Tetap lakukan analisa mendalam secara mandiri dan sesuaikan dengan strategi masing-masing.

Semoga bermanfaat.

Disclaimer: Artikel ini bukan ajakan untuk membeli dan hanya untuk kepentingan edukasi. Tetap melakukan analisa dan keputusan investasi sendiri. Your money, your decision.

Yoga Ahmad Gifari (Rusia)
Graduated as master of Railway Track Management, but enthusiastic with sharia stock market.

September 27, 2021 0 comments
0 FacebookTwitterPinterestEmail
Emiten Syariah

Saham PTBA: Tetap Konsisten Profit Di Bisnis Siklikal

by Minsya September 14, 2021
written by Minsya 5 minutes read

Saat ini harga batu bara dunia sudah mengalami kenaikan 3 kali lipat semenjak tahun 2020, dari harga 50 USD per ton hingga menembus 177 USD per ton. Sebelumnya dari tahun 2018 sampai 2020 harga batu bara terus tertekan hingga ke level terendahnya di 50 USD.

Tak heran jika harga saham batu bara yang sudah lama tertidur bangkit kembali di tahun 2021 ini mengikuti peningkatan harga batu bara acuan dunia.

Secara historis perusahaan batu bara akan membukukan kerugian jika harga jual batu bara turun. Ini sudah menjadi nature bisnis komoditas yang siklikal.

Meskipun begitu, PTBA tetap mampu konsisten membukukan laba disaat perusahaan lain membukukan kerugian jika harga batu bara turun.

Setelah di tahun 2020 laba bersih turun, di Q2 2021 laba bersih PTBA naik 38% dibandingkan dengan Q2 2020.

Lalu apa rahasia PTBA bisa terus membukukan profit di bisnis komoditas yang siklikal? Simak terus artikel ini sampai habis.    

Saham PTBA

Profil Singkat Saham PTBA

PT Bukit Asam Tbk. (kode saham: PTBA) merupakan perusahaan batu bara milik negara (BUMN) yang sudah berdiri sejak 2 Maret 1981. Secara historis PTBA merupakan hasil nasionalisasi dari Belanda sejak era kolonial.

PTBA melantai di Bursa efek Indonesia pada tahun 2003 dengan menawarkan sahamnya ke publik sebanyak 346.500.000 lembar saham.

Pada tahun 2017, PTBA bergabung dalam holding industri pertambangan milik negara yang dipimpin oleh PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum). Sehingga saham yang sebelumnya dimiliki langsung oleh negara berpindah ke Inalum.

Hingga saat ini, Inalum menguasai mayoritas saham perusahaan sebanyak 65,93%, pemegang saham lainnya sebanyak 31,15%, dan 2,92% saham treasuri. Pemerintah Indonesia masih memegang saham preferen perusahaan sebesar 5 lembar.

Sumber: Laporan Tahunan 2020 PTBA

Portofolio Bisnis PTBA

Sebagai salah satu perusahaan tambang terbesar di Indonesia, PTBA memiliki lini bisnis di semua aspek pertambangan. Dari upstream (penambangan dan eksplorasi batu bara), logistik dan downstream (pengolahan batu bara).

Sumber: Public Expose 2021 PTBA

Aktivitas penambangan/produksi batu bara dilakukan oleh PTBA sendiri dan melalui entitas anak perusahaan yaitu PT Internasional Prima Coal. Saat ini, produksi batu bara PTBA disumbang dari unit pertambangan Tanjung Enim, Sumatera Selatan; Unit Pertambangan Peranap, Riau dan Unit Pertambangan di Palaran, Kalimantan Timur.

Mayoritas produksi batu bara PTBA disumbang dari unit pertambangan Tanjung Enim dengan porsi 98%.

Pada semester I  2021, produksi batu bara PTBA mencapai 13,27 juta ton atau naik 10,6% dari produksi batu bara semester I 2020 sebesar 12 juta ton.

Dari segi logistik, PTBA mempunyai anak perusahaan dalam penyediaan jasa pelabuhan dan jasa pengangkutan kereta api.

PTBA juga melakukan kerjasama dengan PT Kereta Api Indonesia (Persero) dalam proses pengangkutan batu bara di Tanjung Enim, Sumatera Selatan.

Berdasarkan geografis, penjualan batu bara PTBA dibagi menjadi dua, domestik dan ekspor. Di dalam negeri, PTBA menjual mayoritas batu baranya ke PLN dan PT Indonesia Power (anak perusahaan PLN). Untuk negara tujuan ekspornya, seperti China, India, Filipina, Taiwan, Vietnam dan Malaysia.

Sumber: Public Expose 2021 PTBA

PTBA cukup aktif dalam mengembangkan bisnis mereka di sisi downstream. Saat ini PTBA, sedang membangun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di Mulut Tambang yang proses konstruksinya masih 80%.

Energi baru terbarukan juga menjadi fokus kedepan PTBA dengan mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di area dekat tambang mereka. Selain itu, PTBA bersinergi dengan Angkasa Pura II mengembangkan (PLTS) di atap gedung bandara Soekarno Hatta yang saat ini sudah beroperasi.

PTBA bekerjasama dengan Pertamina dan mitra strategisnya juga sedang mengembangkan proyek Coal to DME (Dimethyl Eter) di Tanjung Enim. Pengembangan DME ini akan menggantikan LPG di Indonesia serta meningkatkan supply energi dari dalam negeri yang mana saat ini masih banyak impor.

Baca Juga Ini : Saham BTPS: BBRI & BBCA Kalah Sama Bank Ini

Diuntungkan Karena Relasi

Mari menjawab pertanyaan utama dari artikel ini. Jika anda menggali laporan keuangan perusahaan dibagian catatan kaki, maka anda akan menemukan jawabannya. Ternyata, sebanyak 40% penjualan batu bara PTBA disumbang dari penjualan ke PLN dan PT Indonesia Power yang berbentuk kontrak jangka panjang.

Sumber: Website PTBA

Secara CAGR, pertumbuhan penjualan ke PLN dana PT Indonesia Power dari tahun 2013 – 2019 (level sebelum pandemi) sebesar 16,3%. Tentunya kedepan PTBA akan sangat diuntungkan bila kedepan PLN terus menambah kapasitas listrik demi memenuhi kebutuhan listrik dalam negeri.

Sumber: Laporan Tahunan PTBA

Adanya hubungan berelasi karena sama-sama dimiliki negara menjadi keuntungan tersendiri bagi PTBA dibandingkan dengan perusahaan tambang lain.

Sisanya sebanyak 60% dijual ke perusahaan negara dan swasta, baik dalam negeri maupun ekspor keluar negeri.

Rasio ROE (Return On Equity) PTBA juga selalu diatas 20% sejak 2014 – 2019. Kecuali di 2020 akibat imbas pandemi. Itupun ROE-nya masih bisa diatas angka 10%.

Sumber: Data ROE PTBA hasil olahan penulis

Resiko Bisnis

Meskipun terus membukukan profit, tetap saja profitabilitas yang dimilik oleh PTBA volatile tergantung dengan siklus batu bara. Meskipun PTBA banyak memberlakukan kontrak jangka panjang dengan mitra, harga batu bara yang disepakati tetap mengikuti harga yang berlaku dipasaran.

Selain itu, jika produksi naik maka biaya pengangkutan akan naik juga. Sehingga rasio GPM (Gross Profit Margin) akan makin tertekan.

Ini merupakan bagian dari resiko berbisnis di sektor komoditas. Anda bisa melihat korelasi dari harga batu bara internasional dengan margin keuntungan operasional PTBA dibawah.

Sumber: Chart harga batu bara Ice Newcastle dari Investing.com
Sumber: Laporan keuangan PTBA

Summary Highlight

Harga saham PTBA sempat naik di bulan Desember 2020, kemudian turun kembali ke harga 2350 per tanggal 10 September 2021.

Harga sahamnya hanya naik 10% dari bulan September 2020 di harga 2100 dibandingkan harga saham PTBA sekarang di 2350. Padahal di periode yang sama harga batu bara acuan sudah naik 3 kali lipat. Masih ada ruang kenaikan harga saham karena kinerja keuangan PTBA juga mengalami kenaikan.

Nampaknya, beberapa isu lingkungan atau ESG (Environment, Social & Governance) yang diterapkan oleh beberapa fund manager membuat harga saham batu bara belum banyak naik.

Bagaimana pendapat anda? Apakah saham PTBA layak beli atau tidak? Tetap lakukan analisa mendalam secara mandiri dan sesuaikan dengan strategy masing-masing.

Disclaimer: Artikel ini bukan ajakan untuk membeli dan hanya untuk kepentingan edukasi. Tetap melakukan analisa dan keputusan investasi sendiri. Your money, your decision.

Yoga Ahmad Gifari (Rusia)
Graduated as master of Railway Track Management, but enthusiastic with sharia stock market.

September 14, 2021 0 comments
0 FacebookTwitterPinterestEmail
Emiten Syariah

Saham BTPS: BBRI & BBCA Kalah Sama Bank Ini

by Minsya September 6, 2021
written by Minsya 5 minutes read

Bank apa ini kok saya tidak pernah dengar? Apa tidak salah ketik? BTPN Mungkin maksudnya?

Kami tidak typo menuliskan artikel ini. Wajar tidak banyak tahu karena ukuran asetnya belum sebesar BRI dan BCA. BTPS sempat fenomenal ketika IPO di pertengahan tahun 2018. Bank syariah yang katanya lebih profitable dibandingkan dengan bank syariah lain disambut meriah oleh para investor.

Harga sahamnya terus naik hingga hampir 500% di awal tahun 2021. Setelah itu, harga sahamnya turun hingga ke harga 1800an akibat pandemi. Saat ini, harga saham BTPS kembali naik hingga ke harga 2800an.

Lalu, bagaimana kinerja bisnis dari BTPS? Beneran lebih profitable dari bank BRI dan BCA? Simak terus artikel ini hingga akhir.

Profil Singkat Saham BTPS

Bank BTPN Syariah Tbk. (kode emiten: BTPS) adalah bank hasil spin-off dari Bank BTPN Tbk. pada tanggal 14 Juli 2014. Sebelumnya BTPS berdiri sebagai unit usaha syariah dari BTPN dan hasil konversi dari PT Bank Sahabat Purba Danarta (BSPD).

Pada tanggal 8 Mei 2018, BTPS resmi melantai di bursa dengan menawarkan saham baru sebanyak 770,37 juta lembar saham.

BTPS merupakan satu-satunya bank yang fokus melayani segmen prasejahtera produktif yang belum tersentuh oleh layanan perbankan.

Selain itu, BTPS juga memberikan kegiatan pemberdayaan dan literasi keuangan bagi perempuan di segmen ini dan memberikan akses, layanan serta produk perbankan sesuai prinsip syariah sehingga mereka dapat mewujudkan impian meraih kehidupan yang lebih baik.

BTPS saat ini dimiliki oleh Bank BTPN Tbk sebagai pemegang saham mayoritas sebesar 70%, 29,97% dimiliki oleh publik dan 0,03% saham treasuri.

saham btps
Sumber: Laporan tahunan BTPS 2020

Model Bisnis Yang Unik & Inovatif

Secara umum bisnis model perbankan itu sama saja. Jika anda belum memahami, anda bisa membaca artikel kami sebelumnya disini.

Porsi dana pihak ketiga (DPK) yang diterima oleh BTPS didominasi oleh dana mahal atau deposito Mudharabah sebesar 80%. Sisanya, 20% dalam bentuk tabungan atau wadiah.

Supaya dapat menarik minat nasabah untuk menitipkan dananya, BTPS menawarkan tingkat bagi hasil yang sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan deposito di bank konvensional. Per Juni 2021, BTPS memberikan tingkat bagi hasil sebesar 4,97% untuk deposito mudharabah 1 bulan. Bandingkan dengan rata-rata bank lain yang saat ini hanya memberikan bunga deposito 3 – 4% saja.

Dalam menjalankan bisnisnya, BTPS hanya didukung oleh 26 kantor cabang. Cukup sedikit dibandingkan bank-bank lain. Jumlah karyawan BTPS per 30 Juni 2021 adalah 12.110 orang.

Dari segi portofolio pembiayaan, BTPS hanya fokus untuk melayani segmen prasejahtera produktif khususnya perempuan. Karena segmen ini biasanya tidak mempunyai jaminan, BTPS menawarkan pembiayaan dengan margin keuntungan yang tinggi atas kompensasi resiko yang harus mereka tanggung. Margin keuntungan yang diambil oleh BTPS sebesar 25 – 30%.

Untuk memitigasi resiko yang besar ini, BTPS membangun sistem komunitas untuk para “krediturnya” dan dibimbing oleh para community officer dari pihak BTPS sebagai pembimbingnya. Setiap anggota akan mengadakan pertemuan rutin setiap dua minggu sekali untuk bimbingan intensif dan membayar cicilan pembiayaan.

Jika ada anggota yang mengalami masalah terkait cicilan, komunitas akan membantu dalam bentuk uang solidaritas. Asal anggota tersebut tetap punya itikad baik untuk melunasi dan dapat terus melanjutkan usahanya.

Sumber: Laporan tahunan BTPS 2020

Profitabilitas dan Pertumbuhan Yang Tinggi

Margin keuntungan yang tinggi mengakibatkan BTPS punya profitabilitas yang tinggi dan bahkan mampu melebihi profitabilitas dari duo bank dengan aset besar di Indonesia, BBCA dan BBRI.

Selain itu, rasio asset turnover (penghasilan dibagi dengan total aset) BTPS juga lebih tinggi dari bank lainnya. Ini karena model bisnis BTPS yang tidak mengharuskan mereka mempunyai banyak kantor cabang.

Jumlah pembiayaan yang disalurkan BTPS bertumbuh dengan pesat. Sebelum pandemi, pembiayaan BTPS bertumbuh CAGR 22% dari tahun 2016 – 2019. Apalagi setelah ada dana segar yang masuk lewat skema IPO di tahun 2018, pembiayaan mereka bertumbuh 23% dari tahun sebelumnya.

Bahkan di masa pandemi, pembiayaan mereka masih bisa bertumbuh. Per Juni 2021, pembiayaan BTPS bertumbuh 5,5% dibandingkan tahun penuh 2020.

Tidak heran, jika pendapatan dan laba bersih ikut bertumbuh sebesar >20% tiap tahunnya sebelum pandemi. Di tahun 2020, laba bersih menurun sebesar 63,7% karena pembentukan saldo CKPN (cadangan kerugian penurunan nilai aset produktif dan non-produktif) untuk mengantisipasi penurunan nilai pembiayaan selama pandemi.

Baca Juga : Saham TSPC : Analisa Fundamental Pemilik Brand Hemaviton

Bagaimana BTPS Mengelola Resiko Bisnis

Kita bisa mengukur tingkat pengelolaan resiko dari rasio NPF (Non Performing Financing) , FDR (Financing to Deposit Ratio) dan coverage ratio.

Pada Q2 2021, rasio NPF bruto BTPS sebesar 2,38%, meningkat dari sebelumnya hanya 1,79% di Q2 2020. Dampak pandemi mulai terlihat pada pembiayaan yang disalurkan BTPS setelah ditahun sebelumnya terdapat kebijakan restrukturisasi dari OJK. Sehingga pembiayaan yang direstrukturisasi bisa diakui kembali ke kategori pembiayaan lancar.  

Angka FDR BTPS selalu konsisten diatas 90%. Bahkan ditahun 2020, FDR BTPS sebesar 97%. Angka FDR yang tinggi (hingga mencapai 100%) menandakan BTPS terlalu agresif dalam menyalurkan pembiayaannya dibandingkan dana pihak ketiga ada pada mereka.

Ini juga menandakan BTPS belum mampu memacu peningkatan dana pihak ketiga agar bertumbuh seimbang dengan pertumbuhan pembiayaan yang disalurkan.

Coverage ratio menghitung perbandingan saldo CKPN dibandingkan dengan jumlah pembiayaan yang bermasalah. Secara historis coverage ratio BTPS selalu diatas 100%. Bahkan di tahun 2020 coverage ratio mencapai 466%. BTPS sudah bersiap jika seandainya seluruh pembiayaan bermasalahnya ternyata macet dan harus dihapus buku.

Penutup

Peluang pertumubuhan BTPS sendiri masih cukup luas. BTPS saat ini hanya bermanuver di wilayah Jawa dan Sumatera. Di wilayah lain masih cukup banyak masyarakat prasejahtera yang masih butuh layanan keuangan dan juga bimbingan dalam berusaha.

Selain itu, BTPS bisa mengeksplorasi fee-based income melalui kerjasama dengan pihak ketiga seperti fintech dan e-commerce dalam pengembangan layanan produk finansial maupun non-finansial.

Sumber: Website BTPS

Per 3 September 2021, market cap BTPS sebesar 22,65 Triliun. Harga sahamnya sudah kembali naik dan sekarang dihargai Rp 2940 per lembar saham. Rasio PER 14,71 kali dan PBV 3,54 kali.

Mulai tahun 2020 tahun lalu, BTPS mulai membagikan deviden kepada pemegang sahamnya dengan DPR (Dividend Payout Ratio) 25 – 30%.

Bagaimana pendapat anda? Apakah saham BTPS layak beli atau tidak? Silahkan sampaikan pendapat anda di kolom komentar.

Disclaimer: Artikel ini bukan ajakan untuk membeli dan hanya untuk kepentingan edukasi. Tetap melakukan analisa dan keputusan investasi sendiri. Your money, your decision.

Yoga Ahmad Gifari (Rusia)
Graduated as master of Railway Track Management, but enthusiastic with sharia stock market.

September 6, 2021 0 comments
0 FacebookTwitterPinterestEmail
Saham Pemula

Begini Cara Cek Profil Emiten di Bursa Efek Indonesia

by Minsya May 24, 2021
written by Minsya 1 minutes read

Masih bingung cara memilih saham di Bursa Efek Indonesia?

Atau bingung mencari profil emiten yang listing di Bursa Efek Indonesia?

Kamu sekarang ga perlu bingung lagi untuk mencari tahu profil emiten yang akan kamu beli sahamnya. Cukup akses website milik bursa di alamat ini. Tinggal kamu ganti saja tanda bintang (*****) dengan kode saham yang kamu mau lihat profilnya.

https://www.idx.co.id/Portals/0/StaticData/ListedCompanies/PerformanceSummary/****.pdf

Misalnya kamu mau cek saham UNVR (PT Unilever Indonesia Tbk.) kamu tinggal ketik alamat website seperti berikut :

https://www.idx.co.id/Portals/0/StaticData/ListedCompanies/PerformanceSummary/UNVR.pdf

Nanti kamu akan langsung mendownload file yang dimaksud.
Gimana? Mudah bukan?

Selamat mencoba ya!

 

*Kamu bisa cek saham yang kamu cari apakah masuk kategori Syariah atau bukan di link ini ya.

 

 

Baca juga : Apa Itu Saham?

May 24, 2021 0 comments
0 FacebookTwitterPinterestEmail
Newer Posts
Older Posts

CEK SAHAM SYARIAH

BELAJAR APA?

  • Analisis Fundamental
  • Berita Saham Syariah
  • Emiten Syariah
  • Investasi Syariah
  • Keuangan Syariah
  • Pojok Komunitas
  • Saham Pemula

SYSAVEST 2026

KONTAK KAMI

Main Office :
QP Office, Perkantoran Tanjung Mas Raya, Blok B1 Nomor 44, Tanjung Barat, Jagakarsa, Jakarta Selatan 12530

Telp : 0878 5758 0315

Email : media@syariahsaham.id

Terdaftar DI

Copyright © 2024 PT Syariah Saham Indonesia. All Right Reserved.

Saham Syariah Indonesia
  • PANDUAN PEMULA
    • TENTANG SAHAM
    • PROFIL RISIKO
    • MULAI SAHAM
    • KOMUNITAS
    • APA ITU SAHAM SYARIAH
  • SAHAM SYARIAH
    • REGULASI OJK
    • FATWA DSN-MUI
    • INDEKS SAHAM SYARIAH
    • INVESTASI SYARIAH
  • PRODUK
    • CEK SAHAM SYARIAH
    • KELAS FATAMMA
    • KELAS FUNDAMENTAL
    • MM SEDERHANA
  • BLOG