Skip to content
Saham Syariah Indonesia
Banner
  • PANDUAN PEMULA
    • TENTANG SAHAM
    • PROFIL RISIKO
    • MULAI SAHAM
    • KOMUNITAS
    • APA ITU SAHAM SYARIAH
  • SAHAM SYARIAH
    • REGULASI OJK
    • FATWA DSN-MUI
    • INDEKS SAHAM SYARIAH
    • INVESTASI SYARIAH
  • PRODUK
    • CEK SAHAM SYARIAH
    • KELAS FATAMMA
    • KELAS FUNDAMENTAL
    • MM SEDERHANA
  • BLOG
Home - Berita Saham Syariah - Page 2
Category:

Berita Saham Syariah

emiten saham
Berita Saham Syariah

Emiten Saham Syariah: Guncangan Harga Minyak Dunia & Panen Dividen

by Minsya March 13, 2026
written by Minsya 5 minutes read

Emiten saham aman? Dunia investasi hari ini dikejutkan oleh lonjakan harga komoditas energi yang cukup ekstrem. Di saat yang sama, bursa domestik memberikan sinyal optimisme melalui performa impresif emiten-emiten yang masuk dalam kategori saham syariah. Sebagai investor yang mengedepankan prinsip keberkahan dan kehati-hatian (Prudent), fenomena ini memerlukan pembacaan yang lebih jeli daripada sekadar melihat pergerakan angka di layar running trade.

Badai Minyak Dunia: Mengapa Lonjakan 9 Persen Harus Diwaspadai?

Harga minyak mentah dunia baru saja mencatatkan lonjakan signifikan sebesar 9%, menyentuh level tertinggi dalam empat tahun terakhir. Kenaikan ini bukan sekadar angka statistik, melainkan alarm bagi stabilitas ekonomi makro global.

Analisis Fundamental Energi

Lonjakan ini dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik di wilayah produsen utama serta kendala distribusi yang menyebabkan supply shock. Ketika harga minyak dunia naik, dampaknya akan merembes ke segala lini:

  1. Biaya Logistik: Hampir semua sektor industri bergantung pada distribusi. Kenaikan harga BBM global akan menaikkan biaya pengapalan dan transportasi darat.

  2. Inflasi (Ghalat al-As’ar): Dalam perspektif ekonomi Islam, kenaikan harga barang yang disebabkan oleh faktor eksternal (seperti kelangkaan suplai) adalah tantangan bagi daya beli umat. Ini dapat memicu inflasi yang jika tidak dikendalikan, akan merugikan sektor riil.

  3. Tekanan pada Emiten Manufaktur: Emiten yang memiliki ketergantungan tinggi pada bahan baku impor atau energi fosil akan mengalami penyusutan profit margin.

Sudut Pandang Syariah terhadap Fluktuasi Harga

Islam memandang harga sebagai hasil dari mekanisme pasar yang adil. Namun, lonjakan harga minyak yang tidak terkendali seringkali dimanfaatkan oleh para spekulan untuk melakukan Najash (penawaran palsu) atau Ikhtikar (penimbunan). Investor syariah disarankan untuk tetap tenang dan tidak terjebak dalam Panic Buying pada saham-saham energi yang harganya sudah terlampau “pucuk”.

Sumber: IDX Channel – Harga Minyak Dunia Melonjak 9 Persen

Baca Juga : Geopolitik Timur Tengah Memanas: Strategi Investasi Saham Syariah Hadapi Dampak Perang Iran

emiten saham
NotebookLM

Berkah Dividen: Analisis Fundamental HAIS dan MDIY

Di tengah mendidihnya harga minyak, kabar sejuk datang dari lantai bursa. Dua emiten syariah, PT Hasnur Internasional Shipping Tbk (HAIS) dan PT Mulia Boga Raya Tbk (MDIY), memberikan kepastian mengenai pembagian dividen.

HAIS: Ketangguhan Logistik Laut

HAIS mengumumkan jadwal pembagian dividen sebesar Rp26,12 Miliar. Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang pengangkutan komoditas (khususnya batu bara), HAIS sebenarnya berada di posisi yang unik. Meskipun biaya bahan bakar naik, permintaan akan angkutan komoditas energi tetap tinggi.

  • Analisis Syariah: Keuntungan yang dibagikan oleh HAIS merupakan hasil dari Ijarah (jasa sewa) kapal dan operasional nyata. Pembagian dividen ini adalah bentuk bagi hasil yang sangat dianjurkan dalam Islam, karena investor turut menanggung risiko dan menikmati keuntungan secara proporsional.

MDIY: Raja Keju yang Royal

PT Mulia Boga Raya Tbk (MDIY) menunjukkan kelasnya dengan dividen jumbo sebesar Rp443,7 Miliar. Sebagai produsen keju Prochiz, MDIY membuktikan bahwa sektor konsumsi adalah sektor yang paling defensif terhadap gejolak ekonomi. Orang mungkin akan mengurangi bepergian saat harga minyak naik, tetapi mereka tetap butuh makan.

  • Analisis Investasi: Laba triliunan yang diraih MDIY menunjukkan manajemen kas yang sangat baik. Bagi investor syariah, ini adalah instrumen yang tepat untuk menjaga cash flow melalui pendapatan pasif (passive income) yang halal dan terukur.

Sumber: * EmitenNews – Jadwal Dividen HAIS

  • EmitenNews – Laba Triliunan MDIY Siap Gelontor Dividen

Kebangkitan Sektor Konstruksi: Rekor Laba TOTL

PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL) mencatatkan prestasi gemilang dengan laba bersih Rp414 Miliar di tahun 2025, melejit 56%. Di saat banyak perusahaan konstruksi (terutama BUMN) berjuang dengan beban utang (leverage) yang tinggi, TOTL muncul sebagai oase konstruksi yang sehat.

Mengapa TOTL Menarik Bagi Investor Syariah?

Salah satu syarat saham masuk dalam Daftar Efek Syariah (DES) adalah rasio utang berbasis bunga terhadap total aset tidak boleh lebih dari 45%. TOTL secara konsisten menjaga struktur permodalannya agar tetap ramping dan efisien.

  • Strategi Efisiensi: Kenaikan laba 56% tanpa penambahan utang yang signifikan menunjukkan bahwa perusahaan memiliki keunggulan kompetitif dalam memenangkan tender dan mengelola biaya material (yang mungkin naik akibat harga minyak).

  • Makna Moral: Mencari keuntungan dalam bisnis konstruksi harus disertai dengan ketepatan waktu dan kualitas kerja (amanah). Lonjakan laba TOTL mencerminkan kepercayaan pasar terhadap integritas pengerjaan proyek mereka.

Sumber: IDX Channel – Laba Bersih TOTL Melejit 56 Persen

Inovasi dan Hilirisasi: Proyek DME BUMI dan Ekspansi SMGR

Dua raksasa bursa, BUMI dan SMGR, melakukan langkah strategis yang akan mengubah peta persaingan industri di masa depan.

BUMI dan Gasifikasi Batu Bara

Grup Bakrie-Salim melalui PT Bumi Resources Tbk (BUMI) tengah menjajaki proyek gasifikasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME).

  • Analisis Dampak: Langkah ini merupakan bentuk hilirisasi yang sangat didorong oleh pemerintah. DME diharapkan dapat menggantikan LPG yang selama ini banyak diimpor. Secara ekonomi syariah, kemandirian energi nasional adalah bagian dari menjaga Maslahah Mursalah (kepentingan umum), karena mengurangi ketergantungan pada utang luar negeri dan fluktuasi kurs.

SMGR (Semen Indonesia) dan Teknologi Tanah

PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) menggandeng Taiheiyo dari Jepang untuk masuk ke bisnis soil stabilization.

  • Inovasi Produk: Ini bukan lagi soal menjual semen biasa. SMGR sedang menjual solusi teknologi untuk memperkuat tanah pada proyek pembangunan jalan dan gedung. Langkah ini memperluas pasar SMGR dari sekadar pemain komoditas menjadi pemain solusi infrastruktur yang memiliki nilai tambah tinggi.

Sumber:

  • Katadata – Proyek Gasifikasi Batu Bara BUMI

  • IDX Channel – SIG (SMGR) Ekspansi Bisnis Soil Stabilization

Strategis: Membangun Portofolio yang "Resilient" dan Berkah

Menghadapi situasi pasar yang dinamis seperti saat ini, investor syariah tidak boleh hanya menjadi pengikut arus (herd behavior). Berikut adalah rangkuman strategi yang bisa Coach terapkan:

  1. Diversifikasi pada Emiten “Real Business”: Fokuslah pada perusahaan yang memiliki produk nyata dan dibutuhkan masyarakat banyak, seperti MDIY di sektor konsumsi atau TOTL di konstruksi berkualitas.

  2. Waspada Sektor Energi: Meskipun harga minyak naik menguntungkan emiten energi, pastikan emiten tersebut memiliki tata kelola yang baik dan masuk dalam Daftar Efek Syariah untuk menghindari unsur spekulasi yang berlebihan.

  3. Pemanfaatan Dividen untuk Re-investasi: Gunakan dividen yang didapat dari HAIS atau MDIY untuk membeli saham syariah lain yang sedang undervalued. Inilah cara kerja compounding interest yang halal (pertumbuhan aset secara eksponensial).

  4. Prinsip Tawakkal & Ikhtiar: Di tengah gejolak global, tugas kita adalah melakukan analisis (ikhtiar) terbaik dan menyerahkan hasilnya kepada Allah. Hindari perilaku Gharar (ketidakpastian) dengan tidak berinvestasi pada instrumen yang tidak kita pahami fundamentalnya.

Investasi syariah adalah perjalanan panjang menuju kemenangan finansial yang hakiki. Dengan tetap berpegang pada data dan prinsip syariah, volatilitas pasar bukan lagi ancaman, melainkan peluang untuk memanen keberkahan.

Suka dengan artikel ini? Yuk sharing ke temen-temen kamu ya. Semoga bermanfaat!

March 13, 2026 0 comments
0 FacebookTwitterPinterestEmail
Geopolitik Timur Tengah
Berita Saham Syariah

Geopolitik Timur Tengah Memanas: Strategi Investasi Saham Syariah Hadapi Dampak Perang Iran

by Minsya March 2, 2026
written by Minsya 3 minutes read

Geopolitik Timur Tengah Memanas setelah Tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, memicu ketidakpastian global yang memaksa investor melakukan penyesuaian portofolio secara masif. Pasar modal Indonesia kini berada dalam tekanan besar setelah eskalasi konflik militer antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran mencapai titik puncaknya. IHSG diproyeksikan bergerak fluktuatif di rentang support 8.050 hingga 8.100, dengan kecenderungan melemah akibat aksi risk-off investor global yang mulai menjauhi aset berisiko di pasar negara berkembang.

Badai Geopolitik dan Risiko Outflow Saham Big Caps Syariah

Dalam konteks pasar modal syariah, tekanan utama datang dari potensi aliran modal keluar (outflow) pada saham-saham berkapitalisasi besar (big caps). Investor asing cenderung melepas saham yang likuid untuk mengamankan likuiditas di tengah ketidakpastian. Saham-saham seperti Astra International (ASII) dan beberapa emiten perbankan yang masuk dalam indeks syariah menjadi yang paling rentan terkena dampak selling pressure ini. Selain itu, sektor penerbangan syariah juga dibayangi sentimen negatif akibat kenaikan biaya avtur yang dipicu melambungnya harga minyak dunia.

Secara fundamental, risiko terbesar terletak pada kenaikan biaya energi global. Iran telah memberikan peringatan keras mengenai penutupan Selat Hormuz, jalur yang dilewati sekitar 20% konsumsi minyak dunia. Jika ini terjadi, inflasi global akan melonjak, yang pada gilirannya akan menekan margin keuntungan emiten syariah di sektor manufaktur dan konsumsi. Di sisi domestik, data inflasi Februari 2026 yang diperkirakan mencapai 4% menjadi beban tambahan bagi daya beli masyarakat. Investor kini harus lebih jeli memilah emiten yang memiliki struktur utang rendah dan daya tahan kuat terhadap fluktuasi kurs rupiah yang ikut tertekan sentimen perang.

Baca Juga : 10 Istilah Saham untuk Pemula yang Wajib Kamu Ketahui

Geopolitik Timur Tengah
Created with AI

Peluang Cuan Sektor Komoditas dan Kepatuhan Syariah

Meskipun pasar secara keseluruhan dibayangi awan mendung, gejolak geopolitik ini justru membuka peluang pada sektor tertentu yang menjadi “safe haven” atau penerima manfaat langsung. Sektor energi dan pertambangan mineral menjadi primadona baru. Emiten syariah seperti Aneka Tambang (ANTM) diproyeksikan menguat seiring naiknya harga emas sebagai aset lindung nilai. Selain itu, emiten batubara dan minyak gas seperti Harum Energy (HRUM), Indika Energy (INDY), dan Surya Esa Perkasa (ESSA) berpotensi mencetak cuan di tengah lonjakan harga komoditas energi dunia.

Analisis teknikal menunjukkan bahwa saham-saham komoditas ini memiliki resistansi yang lebih kuat terhadap koreksi IHSG. Misalnya, ESSA dan HRUM diperkirakan mampu menembus level resistansi baru karena permintaan energi yang tetap tinggi di tengah gangguan suplai global. Bagi investor syariah, momen ini merupakan waktu yang tepat untuk melakukan rebalancing portofolio dengan memperbesar bobot pada saham-saham yang masuk dalam Daftar Efek Syariah (DES) yang memiliki eksposure pada komoditas ekspor.

Dari sisi kepatuhan syariah, investor tidak perlu khawatir berlebihan selama emiten yang dikoleksi tetap menjaga rasio utang berbasis bunga di bawah 45% dan pendapatan non-halal di bawah 10%. Justru, emiten komoditas seringkali memiliki posisi kas yang kuat di tengah kenaikan harga jual rata-rata (ASP), sehingga memperkuat profil syariah mereka dari sisi neraca keuangan. 

Strategi terbaik saat ini adalah fokus pada saham-saham undervalued dengan fundamental solid yang mampu bertahan di tengah volatilitas. Perlu diingat bahwa dalam setiap krisis geopolitik, sektor energi dan emas selalu menjadi benteng terakhir bagi para pemodal untuk mempertahankan nilai aset mereka.

Suka dengan artikel ini? Yuk sharing ke temen-temen kamu ya. Semoga bermanfaat!

March 2, 2026 0 comments
0 FacebookTwitterPinterestEmail
cina
Berita Saham Syariah

Dampak Ketegangan Cina–Amerika terhadap Saham & Saham Syariah Indonesia

by Minsya October 14, 2025
written by Minsya 5 minutes read

Geopolitik Memanas, Pasar Saham Bergejolak

Ketegangan antara Cina dan Amerika Serikat kembali meningkat sejak awal Oktober 2025. Perselisihan terbaru dipicu oleh kebijakan tarif baru yang diberlakukan Washington terhadap produk-produk teknologi asal Cina, disertai pembatasan ekspor semikonduktor dan komponen penting lainnya. Sebagai respons, Beijing juga mengumumkan kebijakan balasan berupa pengenaan tarif impor tambahan dan pembatasan ekspor mineral langka ke AS.

Ketegangan ini langsung memicu gejolak di pasar global. Bursa saham di Asia, Eropa, dan Amerika serempak mengalami tekanan, sementara investor global beralih ke aset aman seperti emas, dolar AS, dan obligasi pemerintah.

Namun, bagaimana dampaknya terhadap pasar saham Indonesia, khususnya saham syariah yang semakin mencuri perhatian investor lokal?

Jalur Pengaruh Geopolitik ke Pasar Saham

Hubungan ekonomi global yang semakin terintegrasi membuat pasar Indonesia tak bisa lepas dari efek domino konflik negara besar. Ketegangan antara AS dan Cina mempengaruhi pasar saham Indonesia melalui beberapa saluran utama:

  1. Sentimen Investor Global
    Ketika ketidakpastian meningkat, investor cenderung mengurangi eksposur pada pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Hal ini dapat menekan IHSG dan Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) dalam jangka pendek.
  2. Gangguan Rantai Pasok dan Ekspor-Impor
    Indonesia memiliki keterkaitan dagang yang cukup besar dengan Cina, terutama dalam sektor bahan baku industri dan manufaktur. Jika rantai pasok terganggu, laba perusahaan bisa menurun—terutama pada sektor otomotif, manufaktur, dan tambang.
  3. Fluktuasi Nilai Tukar dan Modal Asing
    Konflik global biasanya membuat dolar AS menguat, sementara mata uang emerging markets, termasuk rupiah, melemah. Rupiah yang melemah akan menekan perusahaan dengan utang luar negeri besar, termasuk beberapa emiten di sektor energi.
  4. Perubahan Harga Komoditas Dunia
    Cina adalah konsumen utama berbagai komoditas, seperti batu bara, nikel, dan minyak. Ketika ekonominya melambat akibat perang dagang, permintaan terhadap komoditas tersebut menurun, yang bisa memengaruhi kinerja saham-saham tambang.

Reaksi Pasar Global dan Regional

Menurut laporan Reuters (13 Oktober 2025), indeks saham Cina turun hingga 2,8% akibat kekhawatiran pasar terhadap tarif baru AS. Bursa Jepang dan Korea Selatan pun ikut melemah, sementara Indeks Dow Jones dan Nasdaq di Amerika juga mengalami tekanan.

Di Indonesia, indeks IHSG sempat terkoreksi tipis pada pekan kedua Oktober. Namun menariknya, saham-saham berlabel syariah yang bersifat defensif — seperti sektor telekomunikasi (TLKM), konsumsi (ICBP), dan farmasi (KLBF) — justru cenderung stabil. Hal ini menunjukkan bahwa saham syariah dengan fundamental kuat relatif lebih tahan terhadap gejolak global.

Baca Juga : 10 Istilah Saham untuk Pemula yang Wajib Kamu Ketahui

cina
https://www.liputan6.com/bisnis/read/4083735/as-china-kembali-bertemu-bahas-perang-dagang-donald-trump-sebut-berjalan-baik

Dampak Langsung terhadap Saham Syariah

Meskipun ketegangan AS–Cina berskala global, efeknya terhadap saham syariah di Indonesia cenderung tidak terlalu besar dibandingkan saham non-syariah, dengan alasan berikut:

  • Rasio Utang Lebih Rendah:
    Emiten syariah diwajibkan menjaga rasio utang terhadap aset maksimal 33%, sesuai ketentuan POJK No. 8 Tahun 2025. Ketika suku bunga global naik akibat ketegangan geopolitik, perusahaan berutang besar akan terpukul—sementara emiten syariah relatif aman.
  • Pendapatan Non-Halal Rendah:
    Emiten syariah memiliki porsi pendapatan non-halal maksimal 5%, yang berarti lebih fokus pada sektor riil dan produksi domestik, bukan transaksi spekulatif internasional yang rawan terpengaruh konflik global.
  • Sektor Lebih Defensif:
    Banyak saham syariah berasal dari sektor konsumsi, infrastruktur domestik, dan kesehatan — sektor-sektor yang lebih stabil dibandingkan industri ekspor-impor.

Namun demikian, beberapa saham syariah di sektor tambang dan energi (seperti ANTM, ADRO, dan PGAS) tetap rentan terhadap fluktuasi harga komoditas akibat penurunan permintaan global dari Cina.

Peluang di Tengah Krisis

Dalam setiap ketegangan global, selalu ada peluang baru yang muncul. Indonesia berpotensi menjadi alternatif basis produksi bagi perusahaan-perusahaan yang ingin menghindari tarif impor AS terhadap produk asal Cina. Kondisi ini dapat meningkatkan investasi asing langsung (FDI) ke Indonesia, terutama di sektor industri dan teknologi halal.

Selain itu, permintaan terhadap produk-produk konsumsi dalam negeri tetap kuat karena didorong oleh stabilitas daya beli masyarakat. Emiten seperti ICBP (Indofood CBP) dan KLBF (Kalbe Farma) dapat menjadi contoh saham syariah yang diuntungkan dari pasar domestik yang solid.

Strategi Investasi Syariah Saat Ketegangan Global

Berikut beberapa strategi yang bisa diterapkan investor syariah di tengah ketidakpastian global:

  1. Pilih Saham Syariah Fundamentally Strong
    Fokus pada emiten dengan rasio utang rendah, arus kas positif, dan pangsa pasar kuat. Contoh yang masih stabil hingga Oktober 2025:
    • TLKM (Telekomunikasi Indonesia)
    • ICBP (Konsumsi)
    • KLBF (Farmasi)
    • ADRO (Energi bersih & batubara)
    • ANTM (Tambang nikel dan emas)
  2. Diversifikasi ke Reksadana Syariah
    Jika belum siap memilih saham sendiri, reksadana syariah bisa jadi alternatif. Beberapa produk seperti Sucorinvest Sharia Equity Fund dan Mandiri Syariah Investa Atraktif menunjukkan performa positif di tengah fluktuasi pasar.
  3. Hindari Saham Berisiko Tinggi
    Hindari saham yang volatilitasnya tinggi, terutama di sektor ekspor-impor, semikonduktor, atau properti yang bergantung pada investor asing.
  4. Pantau Daftar Efek Syariah (DES) Terbaru
    Dengan adanya aturan POJK 8/2025, ada potensi perubahan daftar saham syariah. Investor perlu memastikan saham yang dimiliki tetap memenuhi kriteria syariah terbaru.
  5. Manfaatkan Momen Koreksi Pasar
    Saat harga saham turun karena sentimen global, investor bisa memanfaatkan momentum untuk “buy on weakness” pada saham syariah yang fundamentalnya tetap kuat.

Risiko yang Perlu Diwaspadai

  • Volatilitas Pasar Global — Sentimen bisa berubah cepat tergantung pernyataan atau kebijakan dari AS dan Cina.
  • Pelemahan Rupiah — Bisa menekan emiten yang masih memiliki utang atau bahan baku impor.
  • Keterbatasan Informasi Syariah — Investor sering terlambat mendapatkan informasi terkait perubahan status syariah suatu emiten.
  • Krisis Lanjutan — Jika konflik melebar ke sektor finansial atau militer, dampak terhadap bursa bisa lebih dalam.

Konflik Cina–Amerika memang bukan isu baru, namun gelombang ketegangan yang muncul di tahun 2025 membawa pengaruh nyata terhadap arah pasar global. Bagi investor Indonesia, terutama yang berfokus pada saham syariah, kondisi ini menuntut kecermatan dan kehati-hatian lebih.

Kabar baiknya, saham syariah justru memiliki daya tahan yang relatif lebih kuat di tengah badai geopolitik — berkat karakteristiknya yang berbasis sektor riil, rendah utang, dan bebas spekulasi berlebihan.

Ke depan, investor syariah perlu terus memperhatikan:

  • Fundamental perusahaan, bukan sekadar sentimen global,
  • Kepatuhan terhadap prinsip syariah, dan
  • Kebijakan makroekonomi pemerintah Indonesia yang bisa menjaga stabilitas pasar domestik.

Dengan strategi yang tepat, justru di tengah ketegangan global seperti sekarang, peluang investasi syariah di Indonesia bisa tumbuh semakin matang dan berkelanjutan.

Suka dengan artikel ini? Yuk sharing ke temen-temen kamu ya. Semoga bermanfaat!

October 14, 2025 0 comments
0 FacebookTwitterPinterestEmail
syariah
Berita Saham Syariah

Dominasi Saham Syariah di BEI 2025: Apa Artinya bagi Investor Ritel?

by Minsya September 30, 2025
written by Minsya 2 minutes read

Jakarta, 2025 — Pasar modal syariah di Indonesia terus menunjukkan gelagat positif. Data terbaru dari Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat bahwa hingga Agustus 2025, kapitalisasi pasar efek syariah mencapai Rp 8.851 triliun, atau menyumbang sekitar 78,7% dari total perdagangan saham. Angka ini menegaskan bahwa saham syariah kini bukan lagi “segmen kecil”, melainkan kekuatan utama dalam dinamika pasar modal nasional.

Lalu, apa makna dominasi ini bagi investor ritel?

Mengapa Saham Syariah Bisa Dominan?

Ada beberapa faktor yang menjelaskan tren ini:

  1. Regulasi dan dukungan otoritas. OJK dan BEI gencar meluncurkan program serta indeks baru, seperti IDX Sharia Growth, untuk memperluas akses dan panduan investasi berbasis syariah.
  2. Pertumbuhan jumlah investor syariah. Menurut BEI, hingga April 2025 jumlah investor saham syariah mencapai 174 ribu orang, tumbuh signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya.
  3. Kesadaran masyarakat. Meningkatnya minat terhadap produk keuangan syariah mendorong lebih banyak investor pemula masuk ke pasar.
  4. Kinerja emiten syariah. Beberapa sektor berbasis syariah—seperti energi terbarukan, konsumsi halal, dan infrastruktur—menunjukkan kinerja positif yang menarik minat investor.

Baca Juga : 10 Istilah Saham untuk Pemula yang Wajib Kamu Ketahui

syariah
https://infobanknews.com/pembukaan-perdagangan-perdana-bursa-efek-indonesia-2025/

Implikasi bagi Investor Ritel

Dominasi saham syariah memiliki dampak langsung pada investor ritel:

Lebih banyak pilihan. Dengan mayoritas saham masuk kategori syariah, investor punya ruang diversifikasi lebih luas.

Likuiditas meningkat. Saham syariah kini diperdagangkan dengan volume besar, sehingga lebih mudah untuk masuk/keluar pasar.

Reputasi pasar naik. Indonesia semakin dikenal sebagai salah satu pusat pasar modal syariah global.

Namun meski berlabel syariah, tidak semua saham otomatis “bagus”. Investor tetap harus menilai fundamental perusahaan, laporan keuangan, dan prospek bisnis sebelum membeli.

“Pasar syariah semakin matang. Ini saatnya investor ritel lebih melek dan bijak dalam memilih instrumen syariah,” ujar salah satu analis pasar modal.

Sumber 

  • Bursa Efek Indonesia (IDX) – Statistik Pasar Modal Syariah (Agustus 2025).
  • Kontan, “Saham Syariah Dominasi Bursa, Daftar Ini Layak Dipantau Trader dan Investor” (Agustus 2025).
  • Emitennews, “Investor Syariah Tembus 174 Ribu per April 2025” (Mei 2025).

Suka dengan artikel ini? Yuk sharing ke temen-temen kamu ya. Semoga bermanfaat!

September 30, 2025 0 comments
0 FacebookTwitterPinterestEmail
perang
Berita Saham Syariah

Kenapa Saat Ada Perang Seperti Israel-Iran IHSG Bisa Tertekan?

by Minsya June 19, 2025
written by Minsya 3 minutes read

Konflik Geopolitik dan Perang

Konflik geopolitik seperti perang antara Israel dan Iran tidak hanya berdampak lokal, tetapi juga memiliki imbas signifikan terhadap pasar keuangan global, termasuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Indonesia. Perang menciptakan ketidakpastian global yang luas, dan pasar modal sangat sensitif terhadap ketidakpastian ini. Berikut adalah beberapa alasan utama mengapa IHSG cenderung melemah saat terjadi konflik berskala besar.

Ketidakpastian Global Memicu Kepanikan Investor

Dalam dunia investasi, ketidakpastian adalah musuh utama. Ketika terjadi perang, khususnya di kawasan strategis seperti Timur Tengah, investor global cenderung mengambil langkah defensif. Mereka khawatir risiko geopolitik bisa berdampak pada stabilitas ekonomi dunia. Alhasil, banyak investor institusional maupun ritel memilih menarik investasinya dari pasar saham dan mengalihkan dana ke instrumen yang dianggap aman (safe haven) seperti emas, obligasi pemerintah, atau dolar AS.

Hal ini berdampak langsung pada pasar modal di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Ketika banyak saham dijual dan sedikit yang membeli, tekanan jual menyebabkan IHSG turun. Data historis menunjukkan bahwa pada saat-saat konflik seperti invasi Rusia ke Ukraina tahun 2022 atau ketegangan AS-Tiongkok, IHSG sempat terkoreksi signifikan karena investor menghindari risiko.

Baca Juga : Harga Emas Tembus 2 juta, Bagaimana Dengan Saham Emas?

perang
Source by : Shuterstock

Lonjakan Harga Minyak Dunia dan Dampaknya ke Inflasi Domestik

Timur Tengah merupakan pusat produksi dan distribusi minyak dunia. Ketika konflik meletus di wilayah ini, distribusi minyak bisa terganggu, yang memicu lonjakan harga minyak mentah global. Sebagai contoh, saat ketegangan Israel-Iran meningkat, harga minyak jenis Brent pernah menembus level USD 90 per barel.

Indonesia yang masih mengimpor sebagian besar kebutuhan BBM-nya sangat rentan terhadap fluktuasi harga minyak. Harga BBM yang tinggi berimbas langsung pada naiknya biaya logistik, transportasi, dan produksi barang. Ini menciptakan tekanan inflasi yang berdampak pada turunnya daya beli masyarakat. Inflasi yang tinggi juga mempersempit ruang konsumsi rumah tangga, yang merupakan motor utama pertumbuhan ekonomi nasional.

Akibatnya, sektor-sektor konsumsi, industri, hingga transportasi di bursa saham tertekan karena prospek profitabilitasnya ikut suram.

Penarikan Dana oleh Investor Asing (Capital Outflow)

Meskipun konflik tidak terjadi di Indonesia, aliran modal asing sangat dipengaruhi oleh kondisi global. Ketika bursa saham di negara maju seperti AS atau Eropa terpukul karena perang, investor asing cenderung menarik dananya dari negara berkembang untuk menutup kerugian atau menghindari risiko lebih lanjut.

Indonesia sangat bergantung pada aliran modal asing, khususnya di pasar saham dan obligasi. Data dari Bursa Efek Indonesia menunjukkan bahwa porsi kepemilikan asing di saham-saham big cap masih cukup besar. Oleh karena itu, saat mereka menjual saham dalam jumlah besar, pasar langsung merespons dengan penurunan tajam. Hal ini diperparah oleh efek domino: penurunan harga saham mendorong aksi jual lanjutan dari investor lokal yang ikut panik.

Pelemahan Nilai Tukar Rupiah dan Beban Ekonomi Tambahan

Capital outflow oleh investor asing mengakibatkan peningkatan permintaan terhadap dolar AS, karena mereka menukar rupiah untuk menarik modal. Kondisi ini menyebabkan nilai tukar rupiah melemah. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang melemah menambah beban impor barang dan bahan baku industri.

Akibatnya, perusahaan-perusahaan yang tergantung pada bahan baku impor akan menghadapi peningkatan biaya produksi. Hal ini bisa menurunkan margin keuntungan mereka, yang membuat prospek saham-saham sektor manufaktur, konsumsi, dan energi makin tidak menarik bagi investor.

Selain itu, rupiah yang terdepresiasi juga memperbesar risiko inflasi. Bank Indonesia pun mungkin akan terpaksa menaikkan suku bunga untuk menstabilkan rupiah, dan langkah ini dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi secara umum

Singkatnya, Perang seperti konflik Israel-Iran menciptakan kekhawatiran dan ketidakpastian. Harga minyak naik, rupiah melemah, dan investor asing menarik dana. Semua itu menyebabkan tekanan besar pada pasar saham, dan akhirnya IHSG ikut turun. Dampak perang terhadap IHSG bukan hanya karena peristiwa itu sendiri, tetapi karena efek berantai yang ditimbulkan terhadap sentimen investor, harga energi, aliran modal, dan stabilitas makroekonomi domestik.  

Bagaimana nih Sobat Minsya, portonya masih ikut merah seperti IHSG atau ikut kapal emas dan migas? 

Suka dengan artikel ini? Yuk sharing ke temen-temen kamu ya. Semoga bermanfaat!

June 19, 2025 0 comments
0 FacebookTwitterPinterestEmail
suku bunga acuan
Berita Saham Syariah

BI Turunkan Suku Bunga Acuan ke 5,5% untuk Dorong Pertumbuhan Ekonomi

by Minsya May 21, 2025
written by Minsya 2 minutes read

BI Turunkan Suku Bunga Acuan

Jakarta, 21 Mei 2025 — Bank Indonesia (BI) hari ini resmi menurunkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,5% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 20–21 Mei 2025. Langkah ini diambil guna mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia di kondisi inflasi yang terkendali dan stabilitas nilai tukar rupiah yang terjaga saat ini.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, menyampaikan bahwa suku bunga deposit facility turut diturunkan sebesar 25 bps menjadi 4,75%, dan suku bunga lending facility menjadi 6,25%. Keputusan ini sejalan dengan proyeksi inflasi tahun 2025 dan 2026 yang berada dalam kisaran target 2,5% ±1%.

“Keputusan ini konsisten dengan perkiraan inflasi yang rendah dan terkendali, serta upaya mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamentalnya, untuk turut mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” kata Perry dalam konferensi pers, Rabu (21/5/2025).

Baca Juga : Harga Emas Tembus 2 juta, Bagaimana Dengan Saham Emas?

suku bunga acuan
Nobar Suku Bunga BI

Beberapa alasan penurunan suku bunga acuan ini, antara lain :

  • Inflasi yang Terkendali: Tingkat inflasi berada dalam kisaran target BI, memberikan ruang bagi pelonggaran kebijakan moneter.
  • Stabilitas Nilai Tukar Rupiah: Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menunjukkan stabilitas, mendukung keputusan penurunan suku bunga.
  • Pertumbuhan Ekonomi yang Melambat: Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2025 tercatat sebesar 4,87% (yoy), lebih rendah dari perkiraan sebelumnya, sehingga diperlukan stimulus tambahan untuk mendorong aktivitas ekonomi

Bagaimana Pengaruhnya terhadap Pasar Saham?

Seperti yang disampaikan oleh Gubernur Bank Indonesia, bahwa penurunan suku bunga acuan bertujuan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Para ekonom juga menilai bahwa penurunan suku bunga ini dapat mendorong pertumbuhan kredit dan investasi, serta memberikan stimulus bagi sektor riil.

Sektor riil adalah bagian dari perekonomian yang berkaitan langsung dengan produksi barang dan jasa. Dengan kata lain, sektor ini mencakup seluruh aktivitas ekonomi yang menghasilkan output nyata yang dapat digunakan atau dikonsumsi.

Jadi kebijakan penurunan Suku Bunga ini akan langsung berpengaruh pada harga-harga saham di beberapa sektor tertentu seperti Industri Manufaktur, Kontruksi dan Infrastruktur, Property, Pertambangan dan Energi, Perdagangan dan Jasa Produksi, serta sektor Pertanian dan Perkebunan.

Dalam beberapa hal sektor Perbankan juga akan terpengaruh, Penurunan suku bunga BI mendorong bank menurunkan suku bunga kredit, sehingga meningkatkan permintaan pinjaman dari masyarakat dan dunia usaha. Hal ini berpotensi mendorong pertumbuhan kredit dan aktivitas ekonomi, meskipun bisa menekan margin keuntungan bank dalam jangka pendek.

Keputusan BI untuk menurunkan suku bunga acuan mencerminkan respons terhadap kondisi ekonomi domestik dan global, dengan tujuan utama menjaga stabilitas makroekonomi dan mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan.

Suka dengan artikel ini? Yuk sharing ke temen-temen kamu ya. Semoga bermanfaat!

May 21, 2025 0 comments
0 FacebookTwitterPinterestEmail
Harga emas
Berita Saham Syariah

Harga Emas Tembus 2 juta, Bagaimana Dengan Saham Emas?

by Minsya April 22, 2025
written by Minsya 1 minutes read

Harga Emas Tembus 2 juta

Harga Emas Tembus 2 juta, Bagaimana Dengan Saham Emas? Di tengah perang dagang yang dimulai oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan kritik yang semakin tajam terhadap Gubernur Federal Reserve Jerome Powell, ketidakpastian perekonomian global semakin meningkat. Menjadikan emas masih diburu investor sebagai asset safe-heaven.

Harga emas Antam mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah pada Selasa (22/4/2025), menembus Rp2.016.000/gram. Ini naik Rp36.000 dari hari sebelumnya. Harga buyback juga naik Rp36.000 ke Rp1.865.000/gram. Lonjakan harga emas di pasar local menjadikannya jauh mengungguli tingkat pengembalian (return) IHSG dalam jangka waktu terpanjang yakni 30 tahun terakhir.

Harga emas Antam 30 tahun lalu masih di kisaran Rp25.000 per gram, dengan harga hari ini hampir Rp2 juta per gram, terjadi kenaikan hampir 8.000%. Sementara itu, IHSG naik hampir 3.000% selama periode yang sama.

Baca Juga : 10 Istilah Saham untuk Pemula yang Wajib Kamu Ketahui

Harga emas
Source by : Bloombergtechnoz

Saham Emas Pilihan

Bisa kita lihat untuk saham emas terjadi kenaikan seperti salah satu contohnya saham ANTM yang naik  +56% semenjak dibukanya perdagangan setelah lebaran sepekan yang lalu hingga selasa ini. Saham-saham emas syariah lainnya yang naik dalam sepekan ini juga ada saham :

  • J Resource Asia Pasific Tbk.(PSAB), dengan kenaikan + 26%
  • Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA), dengan kenaikan +23%
  • Bumi Resource Mineral Tbk. (BRMS), dengan kenaikan +20% , dan
  • Arci Indonesia Tbk. (ARCI), dengan kenaikan +37%

Jadi, bagaimana nih apakah saham emas masih menarik kedepannya diiringi harga emas yang masih menguat?

Suka dengan artikel ini? Yuk sharing ke temen-temen kamu ya. Semoga bermanfaat!

April 22, 2025 0 comments
1 FacebookTwitterPinterestEmail
ultrajaya
Berita Saham Syariah

Ultrajaya Cetak Laba Bersih Rp 760 Miliar, Naik 23%

by Minsya August 19, 2024
written by Minsya 6 minutes read

PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ) berhasil mencatatkan peningkatan laba yang signifikan sebesar 23,69% pada semester I 2024 dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Kenaikan laba ini ditopang oleh pertumbuhan pendapatan perusahaan yang tetap stabil.

Berdasarkan Laporan Keuangan Semester I 2024 yang dirilis pada Senin (19/8), pendapatan bersih ULTJ naik sebesar 7,36% menjadi Rp 4,44 triliun, dibandingkan Rp 4,13 triliun pada semester I 2023. Sebagian besar pendapatan ini berasal dari penjualan minuman di pasar domestik, yang mencapai Rp 4,89 triliun, naik dari Rp 4,54 triliun.

Namun, penjualan makanan mengalami penurunan menjadi Rp 40,50 miliar dari Rp 44,76 miliar, sementara penjualan ekspor minuman meningkat sedikit menjadi Rp 6,54 miliar dari Rp 6,41 miliar, dan penjualan ekspor makanan turun menjadi Rp 1,61 miliar dari Rp 3,12 miliar.

Semester I 2024 Laba Ultrajaya Naik Signifikan

Laba kotor produsen minuman susu olahan ini tercatat meningkat 11,54% menjadi Rp 1,49 triliun dari Rp 1,34 triliun pada semester I 2023. Margin laba kotor perusahaan juga naik menjadi 33,68%, dari sebelumnya 32,42% pada periode yang sama tahun lalu.

Selain itu, laba usaha ULTJ tumbuh sebesar 22,21% menjadi Rp 933,71 miliar dari Rp 763,99 miliar pada semester I 2023. Laba tahun berjalan mencapai Rp 760 miliar, naik 23,39% dari Rp 615,90 miliar, sementara laba bersih tercatat Rp 755,13 miliar, meningkat signifikan dari Rp 610,85 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Total aset ULTJ hingga 30 Juni 2024 mencapai Rp 8,34 triliun, naik dari Rp 7,5 triliun per 31 Desember 2023.

Liabilitas ULTJ tercatat sebesar Rp 1,30 triliun pada akhir Juni 2024, meningkat dari Rp 836,9 miliar di akhir Desember 2023. Sementara itu, ekuitas perusahaan tercatat Rp 7,02 triliun pada semester I-2024, naik dari Rp 6,86 triliun di akhir Desember 2023.

ULTJ memiliki kas dan setara kas sebesar Rp 2,91 triliun hingga Juni 2024, naik dari Rp 2,49 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Pertumbuhan ini mencerminkan kinerja keuangan PT Ultrajaya Milk Industry yang solid, didukung oleh peningkatan penjualan di segmen utama perusahaan, meskipun terjadi penurunan di segmen makanan dan beberapa pasar ekspor.

Untuk tahun 2024, ULTJ telah mengalokasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) sekitar US$ 30 juta.

Baca Juga : Laba Bersih Mayora Meroket 40,9% di Kuartal II 2024

ultrajaya

Modal Capex Ultrajaya

Sekretaris Perusahaan Ultrajaya, Helina Widayani, mengungkapkan bahwa alokasi belanja modal (capex) perusahaan akan difokuskan untuk pembangunan pabrik dan gudang di kawasan industri MM2100.

Helina menjelaskan bahwa peningkatan kinerja Ultrajaya pada tahun 2023 didorong oleh peningkatan penjualan Perseroan serta pengelolaan biaya yang lebih efisien.

“Permintaan konsumen tahun lalu cenderung stabil tanpa adanya lonjakan signifikan,” ujarnya.

Ultrajaya juga menargetkan pertumbuhan penjualan yang dapat mencapai dua digit tahun ini. Namun, hingga kuartal I 2024, pertumbuhan penjualan masih belum terlihat signifikan, meskipun terdapat momentum Pemilu 2024 dan bulan Ramadan.

Peningkatan penjualan Ultrajaya akan didorong oleh produk-produk unggulan ultra high temperature (UHT), seperti produk olahan susu (dairy) dan teh siap minum (RTD).

“Untuk produk dairy, varian rasa cokelat masih menjadi favorit, diikuti oleh varian full cream,” tambahnya.

Helina juga menyebutkan bahwa Ultrajaya akan menerapkan sejumlah strategi untuk meningkatkan kinerja pada tahun 2024, baik dari sisi pemasaran maupun produksi.

“Kami akan memperluas jangkauan distribusi, terutama di luar Pulau Jawa, agar produk lebih mudah dijangkau oleh konsumen,” jelasnya.

Terkait dengan cukai minuman manis, Ultrajaya sedang mengkaji langkah-langkah strategis dan tidak akan menaikkan harga secara mendadak.

Kajian ini mencakup berapa besar kontribusi gula dalam biaya produksi serta bagaimana mengompensasinya dengan komponen material lain.

“Komitmen kami untuk menyediakan produk yang baik dan sehat bagi masyarakat juga akan menjadi pertimbangan dalam menentukan langkah selanjutnya,” ujarnya.

Modal Capex Ultrajaya

Sekretaris Perusahaan Ultrajaya, Helina Widayani, mengungkapkan bahwa alokasi belanja modal (capex) perusahaan akan difokuskan untuk pembangunan pabrik dan gudang di kawasan industri MM2100.

Helina menjelaskan bahwa peningkatan kinerja Ultrajaya pada tahun 2023 didorong oleh peningkatan penjualan Perseroan serta pengelolaan biaya yang lebih efisien.

“Permintaan konsumen tahun lalu cenderung stabil tanpa adanya lonjakan signifikan,” ujarnya.

Ultrajaya juga menargetkan pertumbuhan penjualan yang dapat mencapai dua digit tahun ini. Namun, hingga kuartal I 2024, pertumbuhan penjualan masih belum terlihat signifikan, meskipun terdapat momentum Pemilu 2024 dan bulan Ramadan.

Peningkatan penjualan Ultrajaya akan didorong oleh produk-produk unggulan ultra high temperature (UHT), seperti produk olahan susu (dairy) dan teh siap minum (RTD).

“Untuk produk dairy, varian rasa cokelat masih menjadi favorit, diikuti oleh varian full cream,” tambahnya.

Helina juga menyebutkan bahwa Ultrajaya akan menerapkan sejumlah strategi untuk meningkatkan kinerja pada tahun 2024, baik dari sisi pemasaran maupun produksi.

“Kami akan memperluas jangkauan distribusi, terutama di luar Pulau Jawa, agar produk lebih mudah dijangkau oleh konsumen,” jelasnya.

Terkait dengan cukai minuman manis, Ultrajaya sedang mengkaji langkah-langkah strategis dan tidak akan menaikkan harga secara mendadak.

Kajian ini mencakup berapa besar kontribusi gula dalam biaya produksi serta bagaimana mengompensasinya dengan komponen material lain.

“Komitmen kami untuk menyediakan produk yang baik dan sehat bagi masyarakat juga akan menjadi pertimbangan dalam menentukan langkah selanjutnya,” ujarnya.

Minuman Berpemanis Kena Cukai?

Pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2024 sebagai tindak lanjut dari Undang-Undang (UU) Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan. Melalui peraturan ini, pemerintah berencana untuk memungut cukai serta memberlakukan larangan iklan, promosi, dan sponsor pada waktu, lokasi, dan kelompok sasaran tertentu untuk produk pangan olahan yang melebihi batas gula, garam, dan lemak.

Menanggapi kebijakan tersebut, Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan dan Minuman (GAPMMI) Adhi Lukman menyatakan bahwa cukai serta pembatasan iklan dan promosi ini dapat mempersempit ruang gerak pelaku usaha pangan olahan dalam menjalankan bisnisnya dan menjangkau konsumen. Menurutnya, dalam situasi pertumbuhan industri makanan dan minuman yang melambat saat ini, kebijakan tersebut dapat membuat industri semakin sulit berkembang, kehilangan daya saing, dan bahkan berisiko untuk menutup operasinya, yang pada akhirnya bisa mengurangi lapangan pekerjaan.

Adhi memahami bahwa tujuan dari PP 28/2024 adalah untuk mengurangi angka Penyakit Tidak Menular (PTM) di masyarakat. Namun, ia berpendapat bahwa kebijakan ini seolah-olah menempatkan seluruh beban permasalahan PTM pada produsen pangan olahan saja. Padahal, risiko PTM dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk gaya hidup, kurangnya aktivitas fisik, asupan cairan yang tidak memadai, pengelolaan stres, serta pola konsumsi yang tidak seimbang.

Adhi juga menekankan bahwa kondisi kesehatan yang terganggu tidak hanya disebabkan oleh konsumsi jenis pangan tertentu, sehingga pembatasan pada kandungan gula, garam, dan lemak dalam produk pangan olahan saja tidak akan cukup efektif dalam menurunkan angka PTM. Berdasarkan hal tersebut, ia meminta agar pemerintah melakukan tinjauan menyeluruh terhadap PP 28/2024 dengan pendekatan yang komprehensif, melibatkan kajian risiko, dan berkolaborasi dengan industri pangan olahan sebagai pelaku utama dan pembina industri.

Langkah ini, menurut Adhi, penting agar tujuan nasional untuk menciptakan masyarakat yang sehat dan industri yang berdaya saing dapat berjalan selaras. Ia juga menggarisbawahi pentingnya edukasi kepada konsumen mengenai pentingnya pola konsumsi yang seimbang sesuai dengan kebutuhan individu, serta perlunya istirahat dan aktivitas fisik yang cukup, sehingga konsumen dapat membuat pilihan yang lebih bijak terkait kandungan gula, garam, dan lemak dalam produk pangan yang mereka konsumsi.

Suka dengan artikel ini? Yuk sharing ke temen-temen kamu ya. Semoga bermanfaat!

August 19, 2024 0 comments
0 FacebookTwitterPinterestEmail
mayora
Berita Saham Syariah

Laba Bersih Mayora Meroket 40,9% di Kuartal II 2024

by Minsya August 13, 2024
written by Minsya 7 minutes read

PT Mayora Indah Tbk (MYOR), salah satu perusahaan produsen makanan dan minuman terkemuka di Indonesia, mencatatkan peningkatan laba yang signifikan pada kuartal II tahun 2024. Laba bersih perusahaan melonjak 40,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, mencapai Rp1,7 triliun. Pertumbuhan laba yang luar biasa ini menegaskan posisi Mayora sebagai salah satu pemain utama dalam industri FMCG (Fast Moving Consumer Goods) di Indonesia dan menunjukkan efektivitas strategi perusahaan dalam menghadapi tantangan pasar yang dinamis.

Laba Bersih Mayora Meroket 40,9%

PT Mayora Indah Tbk (MYOR) berhasil mencatatkan pertumbuhan yang solid baik dari sisi laba bersih maupun penjualan pada semester I-2024.

Menurut laporan keuangan perusahaan, MYOR membukukan laba bersih sebesar Rp 1,71 triliun pada semester I-2024, naik 40,92% year on year (yoy) dibandingkan dengan Rp 1,21 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Penjualan ekspor MYOR juga mengalami peningkatan, mencapai Rp 6,57 triliun pada Juni 2024, naik dari Rp 6,31 triliun pada Januari hingga Juni 2023.

Sementara itu, beban pokok penjualan tercatat sebesar Rp 12,03 triliun pada semester I-2024, meningkat dari Rp 10,8 triliun pada periode yang sama di tahun 2023.

Setelah dikurangi beban pokok penjualan, penjualan bersih menghasilkan laba kotor sebesar Rp 4,19 triliun, naik 6,29% dari Rp 3,94 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Beban usaha penjualan menunjukkan penurunan menjadi Rp 1,7 triliun pada semester I-2024, dari Rp 1,8 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Namun, beban umum dan administrasi meningkat dari Rp 380,8 miliar pada semester I-2023 menjadi Rp 417,8 miliar per Juni 2024.

Total beban usaha MYOR pada semester I-2024 tercatat sebesar Rp 2,1 triliun, turun dari Rp 2,2 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Dengan peningkatan laba bersih menjadi Rp 1,71 triliun pada Juni 2024, laba per saham dasar meningkat menjadi Rp 77 pada semester I-2024, dari sebelumnya Rp 55 pada periode yang sama tahun lalu.

MYOR mencatatkan total aset sebesar Rp 27,44 triliun, naik dari Rp 23,87 triliun pada akhir Desember 2023. Sementara itu, ekuitas tercatat sebesar Rp 15,80 triliun pada semester I-2024, sedikit menurun dari Rp 15,28 triliun pada akhir Desember 2023.

MYOR juga mencatatkan kas dan setara kas akhir periode sebesar Rp 5,90 triliun hingga Juni 2024, naik dari Rp 5 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Baca Juga : PT Indah Kiat Pulp and Paper Tbk (INKP) Sejarah dan Profil Singkat

mayora
https://www.mayoraindah.co.id/berita/Satu-Lagi-Dari-Mayora-Kopiko-Dapat-Dua-Jempol-Dari-Elon-Musk-29

Faktor-Faktor Pendukung Pertumbuhan Laba

Pertumbuhan laba MYOR yang signifikan tidak terjadi begitu saja. Beberapa faktor utama berkontribusi terhadap kinerja positif perusahaan pada kuartal II 2024 ini. Salah satu faktor utama adalah peningkatan penjualan yang didorong oleh ekspansi pasar, baik di dalam negeri maupun internasional. Produk-produk unggulan MYOR seperti biskuit, kopi instan, dan minuman siap saji terus mendapatkan tempat di hati konsumen, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di pasar global.

Peningkatan permintaan di pasar internasional, terutama di negara-negara Asia Tenggara dan Timur Tengah, menjadi pendorong utama peningkatan penjualan. MYOR telah berhasil memperkuat kehadirannya di pasar-pasar tersebut melalui strategi pemasaran yang efektif dan pengembangan produk yang disesuaikan dengan preferensi lokal. Ekspansi ini tidak hanya meningkatkan volume penjualan tetapi juga memperluas pangsa pasar perusahaan di tingkat global.

Selain itu, inovasi produk juga menjadi faktor kunci dalam pertumbuhan laba MYOR. Perusahaan secara konsisten meluncurkan produk-produk baru yang memenuhi kebutuhan dan preferensi konsumen yang terus berkembang. Dengan fokus pada kualitas dan inovasi, MYOR berhasil mempertahankan loyalitas konsumen sekaligus menarik konsumen baru. Produk-produk baru yang diluncurkan selama kuartal II 2024 telah mendapatkan respons positif dari pasar, yang tercermin dalam peningkatan penjualan.

Efisiensi Operasional dan Pengendalian Biaya

Di tengah peningkatan penjualan, MYOR juga berhasil menjaga efisiensi operasional dan pengendalian biaya yang ketat. Ini adalah faktor penting lainnya yang berkontribusi pada peningkatan laba perusahaan. Dalam beberapa tahun terakhir, Mayora telah melakukan berbagai inisiatif untuk meningkatkan efisiensi di seluruh lini produksi dan distribusi. Penggunaan teknologi terbaru dalam proses produksi dan pengelolaan rantai pasok telah memungkinkan perusahaan untuk mengurangi biaya produksi dan meningkatkan margin laba.

Selain itu, MYOR juga menerapkan strategi pengadaan bahan baku yang lebih efisien dan berkelanjutan. Perusahaan telah menjalin kemitraan dengan pemasok lokal dan internasional untuk memastikan ketersediaan bahan baku berkualitas tinggi dengan harga yang kompetitif. Pendekatan ini tidak hanya membantu Mayora mengendalikan biaya tetapi juga mendukung keberlanjutan jangka panjang dari sumber daya yang digunakan dalam produksinya.

Pengendalian biaya yang efektif juga tercermin dalam pengelolaan utang perusahaan. MYOR berhasil mengurangi beban utang secara signifikan melalui restrukturisasi keuangan dan manajemen utang yang hati-hati. Dengan menurunkan biaya bunga dan memperpanjang jangka waktu pembayaran utang, perusahaan dapat meningkatkan likuiditas dan mengalokasikan lebih banyak sumber daya untuk pengembangan bisnis.

Investasi dalam R&D dan Pengembangan Produk

Salah satu pilar utama keberhasilan MYOR adalah komitmen perusahaan terhadap penelitian dan pengembangan (R&D). Selama bertahun-tahun, MYOR telah mengalokasikan sebagian besar pendapatannya untuk investasi dalam R&D, dengan tujuan mengembangkan produk-produk inovatif yang memenuhi kebutuhan pasar yang terus berkembang. Investasi ini telah menghasilkan portofolio produk yang beragam dan unggul, yang menjadi kekuatan utama perusahaan dalam menghadapi persaingan di industri FMCG.

Pada kuartal II 2024, MYOR meluncurkan beberapa produk baru yang mendapatkan respons positif dari konsumen. Produk-produk ini, yang mencakup berbagai kategori makanan dan minuman, dirancang untuk memenuhi tren konsumen terkini, termasuk permintaan akan produk-produk yang sehat, praktis, dan berkualitas tinggi. Pengembangan produk-produk ini didukung oleh riset pasar yang mendalam dan pemahaman yang baik terhadap preferensi konsumen.

MYOR juga terus memperkuat kapasitas produksinya dengan mengadopsi teknologi terbaru di fasilitas produksinya. Peningkatan kapasitas produksi ini memungkinkan perusahaan untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat tanpa mengorbankan kualitas produk. Dengan kapasitas produksi yang lebih besar, Mayora juga mampu merespons perubahan permintaan pasar dengan lebih cepat dan efisien.

Ekspansi Pasar dan Penguatan Merek

Ekspansi pasar menjadi salah satu strategi kunci MYOR dalam beberapa tahun terakhir. Perusahaan telah melakukan ekspansi ke berbagai pasar internasional dengan fokus pada negara-negara berkembang yang memiliki potensi pertumbuhan yang tinggi. Di kawasan Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Afrika, Mayora telah berhasil membangun jaringan distribusi yang kuat dan memperkenalkan produk-produknya dengan sukses.

Penguatan merek juga menjadi bagian integral dari strategi ekspansi MYOR. Melalui kampanye pemasaran yang efektif dan kolaborasi dengan mitra lokal, perusahaan berhasil meningkatkan kesadaran merek dan membangun loyalitas konsumen di pasar-pasar baru. Investasi dalam promosi merek juga membantu MYOR mempertahankan posisinya sebagai salah satu merek terkemuka di pasar domestik.

Selain itu, MYOR juga fokus pada keberlanjutan dalam operasinya. Perusahaan telah mengimplementasikan berbagai inisiatif keberlanjutan yang melibatkan seluruh rantai pasok, mulai dari sumber bahan baku hingga distribusi produk. Dengan mengadopsi praktik-praktik yang ramah lingkungan dan berkelanjutan, MYOR tidak hanya memenuhi kebutuhan konsumen yang semakin peduli terhadap isu-isu lingkungan, tetapi juga memperkuat reputasinya sebagai perusahaan yang bertanggung jawab secara sosial dan lingkungan.

Tantangan dan Prospek ke Depan

Meskipun mencatatkan pertumbuhan laba yang mengesankan, Mayora tetap menghadapi berbagai tantangan di pasar yang semakin kompetitif. Fluktuasi harga bahan baku, ketidakpastian ekonomi global, dan perubahan preferensi konsumen merupakan beberapa tantangan yang harus dihadapi perusahaan dalam menjaga momentum pertumbuhannya.

Namun, dengan strategi yang jelas dan fokus pada inovasi, efisiensi operasional, dan keberlanjutan, Mayora berada dalam posisi yang kuat untuk terus berkembang di masa depan. Perusahaan berencana untuk terus memperluas jangkauan pasarnya, baik di dalam maupun luar negeri, serta meningkatkan investasi dalam R&D untuk menciptakan produk-produk yang lebih inovatif dan relevan dengan kebutuhan konsumen.

Secara keseluruhan, peningkatan laba Mayora sebesar 40,9 persen pada kuartal II 2024 merupakan bukti keberhasilan strategi perusahaan dalam menghadapi dinamika pasar yang terus berubah. Dengan pendekatan yang proaktif dan berkelanjutan, Mayora siap untuk melanjutkan pertumbuhan positifnya dan memperkuat posisinya sebagai pemimpin di industri FMCG, baik di Indonesia maupun di pasar internasional.

Suka dengan artikel ini? Yuk sharing ke temen-temen kamu ya. Semoga bermanfaat!

August 13, 2024 0 comments
2 FacebookTwitterPinterestEmail
BSDE
Berita Saham Syariah

BSDE Akuisisi 91,99 Persen Saham Mayoritas SMDM, Kenapa?

by Minsya August 6, 2024
written by Minsya 3 minutes read

PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) sedang dalam proses akuisisi 91,99% saham PT Suryamas Dutamakmur Tbk (SMDM), setara dengan 4,39 miliar saham. Negosiasi ini dilakukan dengan Top Global Limited (TGL), pemilik saham mayoritas Suryamas.

BSDE Akuisisi 91,99 Persen Saham SMDM

Mengacu pada keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) tertanggal 5 Agustus 2024, BSDE mengonfirmasi sedang dalam tahap negosiasi dengan Top Global Limited untuk mengambil alih saham Suryamas Dutamakmur. Rencana ini melibatkan pembelian 91,99% saham yang dimiliki TGL, yang mewakili porsi signifikan dari modal disetor dan ditempatkan dalam SMDM. Kedua belah pihak telah menyepakati perjanjian pembelian saham bersyarat sebagai bagian dari aksi korporasi ini.

“Setelah transaksi ini rampung, BSDE akan melaksanakan penawaran tender wajib sesuai dengan peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK),” ujar Hermawan Wijaya, Direktur BSDE.

Baca Juga : Upaya Mitratel dalam Pemerataan Akses Telekomunikasi di Indonesia

BSDE

Strategi BSDE

Menurut Hermawan Wijaya, tujuan akuisisi saham SMDM ini sejalan dengan strategi BSDE untuk memperluas cadangan lahan di lokasi-lokasi strategis, mendiversifikasi jangkauan geografis, dan memperluas penetrasi pasar. Proses akuisisi ini akan dilaksanakan dengan memperhatikan semua ketentuan hukum yang berlaku, termasuk regulasi pasar modal.

Sebagai pengendali baru SMDM setelah akuisisi selesai, BSDE berencana untuk melaksanakan penawaran tender wajib sesuai dengan POJK Nomor 9/2018. Penawaran ini dilakukan untuk membeli sisa saham SMDM dengan harga tertinggi antara rata-rata harga tertinggi perdagangan harian saham SMDM di BEI selama 90 hari terakhir sebelum pengumuman negosiasi ini dan harga akuisisi yang dibayarkan kepada TGL.

“Karena rencana akuisisi ini termasuk dalam transaksi afiliasi, BSDE akan mematuhi persyaratan, prosedur, dan keterbukaan informasi sesuai dengan POJK Nomor 42/POJK.04/2020 mengenai transaksi afiliasi dan benturan kepentingan,” tambah Hermawan.

Profil PT Suryamas Dutamakmur Tbk (SMDM)

PT Suryamas Dutamakmur Tbk adalah perusahaan pengembang properti yang telah beroperasi sejak tahun 1989. Suryamas memiliki portofolio proyek properti yang beragam, yang mencakup perumahan, komersial, dan proyek rekreasi. Salah satu proyek andalan Suryamas adalah Rancamaya Golf Estate, sebuah kawasan hunian mewah yang terintegrasi dengan lapangan golf kelas dunia, menawarkan pemandangan yang menakjubkan serta fasilitas premium bagi para penghuninya.

Proyek lainnya, Royal Tajur, adalah perumahan yang menggabungkan keindahan alam dengan desain arsitektur modern, memberikan pengalaman tinggal yang berbeda di kawasan Bogor. Sementara itu, Harvest City, yang terletak di Cibubur Timur, merupakan pengembangan kota baru yang dirancang untuk menjadi pusat aktivitas ekonomi dan sosial baru di koridor Jagorawi. Proyek ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas seperti pusat perbelanjaan, sekolah, dan pusat olahraga, menjadikannya pilihan ideal bagi keluarga yang mencari lingkungan hidup yang seimbang.

Top Global Ltd., sebagai pemegang saham pengendali Suryamas, adalah perusahaan yang berbasis di Singapura dengan fokus pada pengembangan real estat, manajemen, dan investasi properti. Suryamas sendiri adalah emiten properti dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp1,75 triliun, yang mencerminkan posisinya sebagai pemain signifikan dalam industri properti Indonesia.

Penangguhan Perdagangan Saham

Seiring dengan berita akuisisi ini, BEI memutuskan untuk menghentikan sementara perdagangan saham SMDM pada 5 Agustus 2024. Langkah ini diambil untuk meredam peningkatan harga saham yang signifikan dan memberikan waktu bagi investor untuk menganalisis situasi secara matang berdasarkan informasi yang tersedia.

Pada pekan terakhir saham ini terbang naik 71,43% dan dalam periode satu bulan terakhir SMDM naik tajam sebesar 141,27%.

Penghentian sementara perdagangan saham PT Suryamas Dutamakmur Tbk. (SMDM) ini dilakukan di Pasar Reguler dan Pasar Tunai. Tujuannya adalah untuk memberikan waktu bagi para pelaku pasar agar dapat mempertimbangkan informasi yang ada sebelum mengambil keputusan investasi di saham SMDM.

“Semua pihak yang berkepentingan diharapkan untuk selalu memantau keterbukaan informasi yang disampaikan oleh perusahaan,” demikian pernyataan dari pihak otoritas terkait.

Dengan akuisisi ini, Bumi Serpong Damai berharap dapat memperkuat posisinya sebagai pemimpin di industri properti Indonesia, sekaligus memanfaatkan aset-aset Suryamas untuk memperluas jangkauan pasar dan meningkatkan nilai tambah bagi para pemegang sahamnya.

Suka dengan artikel ini? Yuk sharing ke temen-temen kamu ya. Semoga bermanfaat!

August 6, 2024 0 comments
2 FacebookTwitterPinterestEmail
Newer Posts
Older Posts

CEK SAHAM SYARIAH

BELAJAR APA?

  • Analisis Fundamental
  • Berita Saham Syariah
  • Emiten Syariah
  • Investasi Syariah
  • Keuangan Syariah
  • Pojok Komunitas
  • Saham Pemula

SYSAVEST 2026

KONTAK KAMI

Main Office :
QP Office, Perkantoran Tanjung Mas Raya, Blok B1 Nomor 44, Tanjung Barat, Jagakarsa, Jakarta Selatan 12530

Telp : 0878 5758 0315

Email : media@syariahsaham.id

Terdaftar DI

Copyright © 2024 PT Syariah Saham Indonesia. All Right Reserved.

Saham Syariah Indonesia
  • PANDUAN PEMULA
    • TENTANG SAHAM
    • PROFIL RISIKO
    • MULAI SAHAM
    • KOMUNITAS
    • APA ITU SAHAM SYARIAH
  • SAHAM SYARIAH
    • REGULASI OJK
    • FATWA DSN-MUI
    • INDEKS SAHAM SYARIAH
    • INVESTASI SYARIAH
  • PRODUK
    • CEK SAHAM SYARIAH
    • KELAS FATAMMA
    • KELAS FUNDAMENTAL
    • MM SEDERHANA
  • BLOG