Geopolitik Timur Tengah Memanas setelah Tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, memicu ketidakpastian global yang memaksa investor melakukan penyesuaian portofolio secara masif. Pasar modal Indonesia kini berada dalam tekanan besar setelah eskalasi konflik militer antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran mencapai titik puncaknya. IHSG diproyeksikan bergerak fluktuatif di rentang support 8.050 hingga 8.100, dengan kecenderungan melemah akibat aksi risk-off investor global yang mulai menjauhi aset berisiko di pasar negara berkembang.
Badai Geopolitik dan Risiko Outflow Saham Big Caps Syariah
Dalam konteks pasar modal syariah, tekanan utama datang dari potensi aliran modal keluar (outflow) pada saham-saham berkapitalisasi besar (big caps). Investor asing cenderung melepas saham yang likuid untuk mengamankan likuiditas di tengah ketidakpastian. Saham-saham seperti Astra International (ASII) dan beberapa emiten perbankan yang masuk dalam indeks syariah menjadi yang paling rentan terkena dampak selling pressure ini. Selain itu, sektor penerbangan syariah juga dibayangi sentimen negatif akibat kenaikan biaya avtur yang dipicu melambungnya harga minyak dunia.
Secara fundamental, risiko terbesar terletak pada kenaikan biaya energi global. Iran telah memberikan peringatan keras mengenai penutupan Selat Hormuz, jalur yang dilewati sekitar 20% konsumsi minyak dunia. Jika ini terjadi, inflasi global akan melonjak, yang pada gilirannya akan menekan margin keuntungan emiten syariah di sektor manufaktur dan konsumsi. Di sisi domestik, data inflasi Februari 2026 yang diperkirakan mencapai 4% menjadi beban tambahan bagi daya beli masyarakat. Investor kini harus lebih jeli memilah emiten yang memiliki struktur utang rendah dan daya tahan kuat terhadap fluktuasi kurs rupiah yang ikut tertekan sentimen perang.

Peluang Cuan Sektor Komoditas dan Kepatuhan Syariah
Meskipun pasar secara keseluruhan dibayangi awan mendung, gejolak geopolitik ini justru membuka peluang pada sektor tertentu yang menjadi “safe haven” atau penerima manfaat langsung. Sektor energi dan pertambangan mineral menjadi primadona baru. Emiten syariah seperti Aneka Tambang (ANTM) diproyeksikan menguat seiring naiknya harga emas sebagai aset lindung nilai. Selain itu, emiten batubara dan minyak gas seperti Harum Energy (HRUM), Indika Energy (INDY), dan Surya Esa Perkasa (ESSA) berpotensi mencetak cuan di tengah lonjakan harga komoditas energi dunia.
Analisis teknikal menunjukkan bahwa saham-saham komoditas ini memiliki resistansi yang lebih kuat terhadap koreksi IHSG. Misalnya, ESSA dan HRUM diperkirakan mampu menembus level resistansi baru karena permintaan energi yang tetap tinggi di tengah gangguan suplai global. Bagi investor syariah, momen ini merupakan waktu yang tepat untuk melakukan rebalancing portofolio dengan memperbesar bobot pada saham-saham yang masuk dalam Daftar Efek Syariah (DES) yang memiliki eksposure pada komoditas ekspor.
Dari sisi kepatuhan syariah, investor tidak perlu khawatir berlebihan selama emiten yang dikoleksi tetap menjaga rasio utang berbasis bunga di bawah 45% dan pendapatan non-halal di bawah 10%. Justru, emiten komoditas seringkali memiliki posisi kas yang kuat di tengah kenaikan harga jual rata-rata (ASP), sehingga memperkuat profil syariah mereka dari sisi neraca keuangan.
Strategi terbaik saat ini adalah fokus pada saham-saham undervalued dengan fundamental solid yang mampu bertahan di tengah volatilitas. Perlu diingat bahwa dalam setiap krisis geopolitik, sektor energi dan emas selalu menjadi benteng terakhir bagi para pemodal untuk mempertahankan nilai aset mereka.
Suka dengan artikel ini? Yuk sharing ke temen-temen kamu ya. Semoga bermanfaat!