Skip to content
Saham Syariah Indonesia
Banner
  • PANDUAN PEMULA
    • TENTANG SAHAM
    • PROFIL RISIKO
    • MULAI SAHAM
    • KOMUNITAS
    • APA ITU SAHAM SYARIAH
  • SAHAM SYARIAH
    • REGULASI OJK
    • FATWA DSN-MUI
    • INDEKS SAHAM SYARIAH
    • INVESTASI SYARIAH
  • PRODUK
    • CEK SAHAM SYARIAH
    • KELAS FATAMMA
    • KELAS FUNDAMENTAL
    • MM SEDERHANA
  • BLOG
Home - Berita Saham Syariah - Page 8
Category:

Berita Saham Syariah

Berita Saham Syariah

Laba Kembali Positif, Bagaimana Potensi Saham RALS?

by Minsya August 10, 2021
written by Minsya 5 minutes read

Profil Perusahaan Saham RALS

Situasi pandemi memperparah bisnis retail. Mall dan pusat perbelanjaan terpaksa harus ditutup untuk mengurangi penyebaran virus Covid-19. Tak heran, di tahun 2020 dan Q1 2021 Ramayana membukukan rugi bersih di laporan keuangannya. Memasuki Q2 tahun 2021, Ramayana sudah kembali membukukan laba bersih.  Lalu, bagaimana Ramayana bisa survive di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat dan pandemi ini?

PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (kode emiten: RALS) merupakan perusahaan ritel yang bergerak di bidang department store yang menyediakan produk pakaian, tas, sepatu, dan aksesoris serta supermarket yang menawarkan produk peralatan rumah tangga, elektronik, makanan, minuman dan produk segar. Namun ditahun 2018, RALS telah menutup bisnis supermarketnya yang bekerjasama dengan SPAR. 

Selama bertahun-tahun, RALS telah fokus melayani pelanggan dari segmen ekonomi kebawah, yang merupakan bagian terbesar masyarakat Indonesia. RALS tidak hanya hadir di pusat kota besar, namun juga di kota kecil diseluruh Indonesia. Seringkali Ramayana merupakan tempat belanja modern pertama dan utama di kota setempat. Hingga Juni 2021, total ada 102 gerai RALS yang tersebar di 63 kota dari pulau Sumatera hingga Papua.

Bisnis Model

Secara umum, bisnis retail memiliki model bisnis yang sederhana. Retailer membeli pasokan barang jadi dari wholesaler (pembeli jumlah besar) atau langsung dari pabrikan. Kemudian, dijual langsung ke konsumen akhir. RALS meyewa tempat-tempat yang cukup strategis untuk menjual barang-barang tersebut.

Dengan suppliernya RALS mempunyai 2 perjanjian dalam penjualan, yaitu penjualan putus dan konsinyasi. Penjualan putus berarti RALS membeli barang dari supliernya dan barang tersebut menjadi tanggungjawab RALS bila barang tidak laku terjual. Sedangkan penjualan konsinyasi ibaratnya supplier ini nitip jualkan di lapak RALS. Kemudian, RALS akan mendapatkan komisi dari setiap barang supplier yang laku. Sisa barang yang tidak laku kemudian dikembalikan ke supplier.

Ramayana Prime – Hasil Transformasi Ramayana

RALS yang sebelumnya fokus di segmen kelas C dan D (bawah), saat ini sedang menjajal segmen baru di kelas B (menengah ke atas). Ramayana mendesain ulang beberapa konsep gerainya lebih premium yang kemudian dinamakan Ramayana Prime. Ramayana Prime ini mirip seperti mall kecil atau plaza yang mana didalamnya tidak hanya ada gerai Ramayana saja, namun juga ada brand-brand terkenal seperti KFC, Pizza Hut, Hokben, Solaria, Ace Hardware, XXI untuk menarik traffic pengunjung. Dengan konsep ini, mereka juga akan mendapatkan uang sewa dari pemilik brand yang berjualan di area mall kecil mereka. Hingga tahun 2019, total sudah ada 5 Ramayana Prime. Manajemen sendiri menargetkan RALS akan mempunyai 20 Ramayana Prime.

saham rals
Sumber: https://kutipan-news.co.id

Pada tahun 2017, pendapatan sewa sudah mulai berkontribusi untuk RALS. Hal ini bisa kita lihat di catatan kaki laporan keuangan perusahaan.

Sumber: Laporan Tahunan RALS 2018
Sumber: Laporan keuangan RALS 31 Juni 2021

Merambah Penjualan Online

Semenjak kehadiran e-commerce di Indonesia, RALS seperti didorong untuk mengadopsi teknologi (digitalisasi). Sejak tahun 2016, RALS mulai membuka penjualan melalui website resminya dan marketplace Tokopedia. Di tahun berikutnya, RALS juga membuka toko online di Lazada, Shopee, JD.ID dan Blibli. Saat ini penjualan online belum berkontribusi besar terhadap pendapatan RALS. Sampai dengan bulan Juni 2020, penjualan online berkontribusi sebesar 0,4% dari total penjualan, naik 0,2% dari tahun 2019.  

Selain membuka official store online di banyak marketplace, RALS juga meluncurkan member card apps dan pemesanan lewat Whatsapp. Ini sebagai upaya RALS untuk lebih dekat dan memberikan apresiasi lebih kepada para pelanggan setianya. Para pelanggan yang menggunakan aplikasi ini tentunya akan mendapat berbagai keuntungan seperti pengantaran barang langsung ke alamat pelanggan, kemudahan bertransaksi, belanja praktis dengan poin, promo dan diskon ekslusif khusus member di seluruh merchant RALS, promo cash back, serta info flash sale dengan harga termurah yang diadakan setiap hari.

Kinerja Kuantitatif

Lalu, bagaimana kinerja kuantitatif RALS? Mari kita mulai dengan melihat grafik pendapatan dana laba bersih dibawah.

Sumber: RTI Mobile

Pendapatan RALS dari tahun 2012 sampai 2020 sebenarnya cukup stagnan. Ini dikarenakan penambahan gerai RALS yang kurang efektif dan malahan ada yang kurang produktif. Namun, laba bersihnya mulai tahun 2017 – 2020 mulai meningkat karena kontribusi pendapatan sewa dari Ramayana Prime.

Bisnis yang kelihatan sederhana tapi dapat memberikan keuntungan yang lebih besar daripada yang rumit. RALS adalah contohnya. Terlihat dari angka ROE dan ROIC selalu diatas 10% (kecuali di 2020 karena pandemi). Rasio ROIC-nya bahkan lebih tinggi dari ROE-nya. Mengapa? Karena bisnis retail ini tidak memerlukan modal yang banyak seperti bisnis manufaktur, konstruksi dan infrastruktur, namun tetap bisa menghasilkan kas yang besar. Tinggal bagaimana perusahaan bisa memutar persediaannya dengan cepat dan efektif.

Tidak heran jika kita melihat di bagian neraca perusahaan, kas yang dimiliki oleh RALS sangatlah melimpah. Sehingga sebagian kasnya ada yang ditempatkan di deposito. Namun, ada sisi buruk ketika kas yang tersedia tidak digunakan dengan efektif. Ratio perputaran asset terus mengalami penurunan sehingga pelan-pelan akan menurunkan juga nilai ROE dan ROIC.

Hingga saat ini, RALS merupakan salah satu dari sekian emiten yang tidak memiliki hutang ke bank. Kas yang melimpah hasil dari operasi bisnis menyebabkan RALS tidak perlu menambah resiko keuangan mereka dengan mengambil pinjaman.

Selain itu, RALS ini juga menjadi emiten yang cukup rajin bagi deviden dengan DPR (Devidend Payout Ratio) rata-rata 50 – 60%.

Valuasi

Pada tanggal 9 Agustus 2021, harga penutupan RALS berada diangka 630. Harga RALS sendiri sudah jatuh lebih dari 50% dari harga sebelum pandemi. Tercatat PBV 1,2 kali dan PER 16 kali jika menggunakan data terakhir (annualized). RALS saat ini diperdagangkan di dekat harga terendahnya, sehingga menarik untuk masuk watchlist para investor.

Dengan asumsi harga sekarang jika nanti RALS membagikan dividen ke level sebelum pandemi, maka deviden yield yang didapat sekitar 8%.

Sumber : Google

Apakah tertarik membeli saham RALS?

Jika anda punya saran, masukkan dan ide mengenai series analisa fundamental emiten, silahkan tulis di kolom komentar.

Jangan lupa cek saham kamu di : https://syariahsaham.id/cek-saham-syariah/

Yoga Ahmad Gifari (Rusia)
Graduated as master of Railway Track Management, but enthusiastic with sharia stock market.

August 10, 2021 0 comments
0 FacebookTwitterPinterestEmail
Berita Saham Syariah

Update! 83 Emiten Syariah Ini Tanpa Hutang ke Bank

by Minsya August 9, 2021
written by Minsya 1 minutes read

Emiten Tanpa Hutang

Di dalam Fatwa DSN-MUI Nomor 135 sudah dijelaskan mengenai penentuan saham syariah. Salah satunya adalah ratio hutang berbasis bunga tidak boleh melebihi >45%. Artinya emiten yang punya hutang ke Bank diatas 45% dari total assetnya tidak akan masuk dalam Daftar Efek Syariah (DES).

Nah gimana dengan emiten yang tidak punya hutang ke bank? Apakah ada?

Kali ini kita simak pembahasan mengenai saham-saham apa saja kah yang tidak punya hutang ke bank. Simak video ini ya.

tanpa utang

Dari video diatas dapat disimpulkan bahwa emiten yang tidak memiliki hutang ke bank semakin banyak. Itu kenapa saham syariah bisa menjadi pilihan untuk kita dalam melakukan hijrah investasi. Semoga bermanfaat!

Baca Juga : [SINOPSIS BUKU] “SARI KELAPA” Karya Mang AMSI

August 9, 2021 0 comments
1 FacebookTwitterPinterestEmail
Berita Saham Syariah

Strategi Bukalapak – Bermitra Untuk Bertumbuh

by Minsya July 27, 2021
written by Minsya 6 minutes read

IPO Bukalapak

Tahun 2021 akan menjadi sejarah baru bagi pasar modal Indonesia. Rencana IPO dua unicorn kebanggaan Indonesia, yaitu Bukalapak dan GoTo meningkatkan hype tersendiri dikalangan investor.

Di awal bulan Juli kemarin, Bukalapak bahkan sudah mengadakan public expose dan mengeluarkan prospektus kepada investor yang mana akan menjadi sumber informasi sebelum memutuskan untuk membeli saham perusahaan. Bahkan muncul berita jika saham perusahaan sudah oversubscribed (kelebihan penawaran) setara dengan 4 kali nilai penawaran (Rp750 – 850).

bukalapak

Banyak informasi menarik yang ada di prospektus Bukalapak. Bisnis model perusahaan dan segmen market menjadi bagian yang paling menarik untuk dikulik. Di tulisan kali ini kita akan lebih menggali aspek-aspek kualitatif dari Bukalapak.

Indikator Utama

Sebelumnya, kita harus memahami terlebih dahulu ada beberapa indikator utama dalam industri yang digeluti Bukalapak ini. Berikut adalah beberapa indikator yang digunakan oleh Bukalapak dalam mengukur kinerja mereka.

  1. GMV (Gross Merchandise Value)

Total pembelian yang difasilitasi oleh platform Bukalapak, baik yang terbayar ataupun tidak terbayarkan. Selain menghitung nilai barang, GMV juga menghitung biaya tambahan seperti biaya pembayaran, logistik, layanan dan biaya lain-lain.

  1. TPV (Total Processing Value)

Berbeda dengan GMV, TPV hanya mengukur total seluruh pembelian terbayar yang difasilitasi platform. Indikator ini sendiri lebih dipilih dibandingkan GMV karena lebih mewakili bisnis Buka. Buka juga menghitung proporsi TPV yang dihasilkan dari daerah non-Tier 1 dan para mitra, yang mana ini segmen yang menjadi target customer yang disasar Bukalapak. 

  1. ATV (Average Transaction Value)

Nilai transaksi rata-rata yang mana nilai TPV dibagi dengan jumlah transaksi.

  1. ATU (Annual Transacting Users)

Jumlah pengguna yang bertransaksi tahunan yang mana pengguna melakukan setidaknya satu transaksi berbayar dalam 12 bulan terakhir.

  1. ATM (Annual Transacting Mitras)

Jumlah mitra yang bertransaksi tahunan yang mana mitra melakukan setidaknya satu transaksi berbayar dalam 12 bulan terakhir.

  1. CAC (Customer Acquisition Cost)

Biaya akuisisi gabungan dari pengguna online baru dan pengguna yang kembali aktif setelah tidak aktif lagi selama 12 bulan terakhir. Pengguna online baru dihitung ketika mereka melakukan transaksi berbayar pertama di platform Buka.

Sumber: Prospektus Bukalapak 2021

Kalau kita perhatikan dari tabel diatas, semua indikator terus bertumbuh dari tahun ke tahun, kecuali ATV dan CAC. Ini menandakan hal yang baik. Khusus untuk indikator CAC, angkanya semakin menurun dari tahun ke tahun. Ini berarti biaya yang dikeluarkan Bukalapak untuk mengakuisi pelanggannya semakin mengecil dan efektif.

Baca Juga : Membongkar Rasio ROE UNVR Yang Konsisten >100%

Bisnis Model

Bukalapak sendiri merupakan platform online yang mempertemukan antara penjual dengan pembeli. Posisi Bukalapak disini sebagai perantara/pihak ketiga antara penjual dan pembeli. Kemudian, Bukalapak akan mendapatkan komisi dari transaksi yang terjadi di platform mereka.

Pengembangan dan perawatan platform digital berupa aplikasi Bukalapak sangatlah penting. Kepuasan dan kenyamanan bertransaksi harus terus ditingkatkan sehingga para penjual dan pembeli bisa bertahan menggunakan platform mereka. Selain itu, program marketing yang menggiurkan seperti diskon, cashback, gratis ongkir dan harbolnas (hari belanja online nasional) juga menjadi magnet tersendiri untuk pembeli untuk terus bertransaksi.

Berdasarkan laporan keuangan, Buka membagi 3 jenis pendapatannya, yaitu pendapatan dari marketplace, mitra & BukaPengadaan. Pendapatan marketplace berasal dari komisi penjualan, jasa pengiklanan & layanan logistik untuk pengiriman barang kepada pengguna. Pendapatan Mitra diperoleh dari  komisi penjualan produk fisik oleh pedagang dan principal FMCG (Fast-Moving Consumer Goods) ke mitra, komisi atas penjualan produk virtual mitra ke pelanggan dan layanan logistiknya.

Sedangkan, pendapatan BukaPengadaan diperoleh dari penjualan produk Bukalapak atau mitra kepada pelanggan baik produk fisik maupun virtual. Pendapatan dari BukaPengadaan ini sendiri terdiri dari biaya barang dan marjin. Berbeda dengan dua pendapatan sebelumnya yang mana hanya berupa komisi penjualan.

Pendapatan di segmen Mitra bertumbuh lebih cepat dibandingkan segmen lainnya. Pertumbuhan pendapatan Mitra dari 2018 ke 2019 sebesar 396,3%, sedangkan dari 2019 ke 2020 sebesar 169,9%. Kedepan ini akan menjadi mesin pertumbuhan bagi Bukalapak sehingga bisa menghasilkan laba.

Sumber: Prospektus Bukalapak 2021

Mitra Bukalapak Sebagai Mesin Pertumbuhan

Persaingan diantara para pelaku di industri e-commerce sangatlah kompetitif. Aksi bakar uang tak terelakkan. Discount, cashback, gratis ongkir ditawarkan kepada para pelanggan supaya masuk dan bertransaksi di platform mereka. Hal inilah yang menyebabkan para pelaku industry masih membukukan rugi bersih dilaporan keuangan mereka.

Namun, Bukalapak sendirinya kelihatannya sudah mulai meninggalkan kompetisi bakar uang dengan pelaku e-commerce lain. Ini juga bisa kita lihat pada angka CAC yang semakin menurun. Bukalapak akan lebih fokus ke segmen market yang telah coba dirintis sejak tahun 2017, yaitu UMKM terutama usaha ritel mikro seperti warung, toko kelontong, kios, kedai, dll di kota non-Tier 1. Kota non-Tier 1 adalah kota-kota selain DKI Jakarta (tidak termasuk Kepulauan Seribu), Kota Bandung, Kabupaten Bandung dan Bandung Barat, Kota Semarang dan Kabupaten Semarang, Kota Surabaya, dan Kota Medan. Pada tahun 2020, Bukalapak memegang market share sebesar 35% di kota non-Tier 1 di Indonesia berdasarkan GMV, dan menguasai pangsa pasar sekitar 14,8% dari seluruh segmen e-commerce di Indonesia pada tahun yang sama.

Berdasarkan data dari Frost & Sullivan, Mitra Bukalapak saat ini yang tercatat ada lebih dari 7 juta Mitra, yang merupakan jaringan terbesar di Indonesia. 3,6 juta diantaranya aktif bertransaksi di Bukalapak. Pada tahun 2017 hanya tercatat 2.870 mitra. Artinya, mitra Bukalapak telah bertumbuh secara CAGR (Compounded Annual Growth Rate) sekitar 631%, dari 2017 ke 2020. Kontribusi mitra pada TPV Bukalapak juga terus meningkat dari sekitar 8% di 2017 menjadi 27% pada tahun 2020.

Sumber: Prospektus Bukalapak 2021

Jumlah mitra yang bertumbuh pesat ini dikarenakan manfaat yang cukup besar yang akan mereka peroleh. Salah satu masalah UMKM adalah rantai pasokan yang berlapis-lapis sehingga mendapatkan harga barang yang mahal dan jangkauannya terbatas. Untuk itu, Bukalapak membangun infrastruktur dan komunitas untuk mengatasi masalah tersebut. Mitra bisa mendapatkan akses langsung ke para distributor, agen atau langsung dari perusahaan FMCG. Para Mitra bisa mendapatkan harga yang lebih murah, punya pilihan variasi dan ketersediaan produk yang lebih banyak dan pengiriman yang cepat dan tepat waktu. Selain itu, para distributor, agen dan perusahaan FMCG juga diuntungkan karena permintaan barang ke mereka juga semakin meningkat.

Pertumbuhan jaringan Mitra Perseroan juga menghasilkan peningkatan pada konversi pelanggan kepada Marketplace Bukalapak, serta meningkatkan aksesibilitas pasar Bukalapak ke konsumen di daerah non-Tier 1 yang sebelumnya tidak menggunakan e-commerce. Dengan model bisnis ini Bukalapak dapat terus bertumbuh dengan cara yang berkesinambungan secara finansial tanpa perlu melakukan pembelanjaan modal yang agresif. Hal ini dibuktikan dengan penurunan CAC dan beban penjualan dan pemasaran Perseroan sementara TPV Perseroan terus bertumbuh dengan kuat

Peluang dan Tantangan

Peluang untuk penetrasi di segmen UMKM masih cukup lebar. Terutama UMKM yang ada di luar pulau Jawa.  Per tanggal 31 Desember 2020, 84% Mitra Perseroan berlokasi di Jawa, dengan 10% berlokasi di Sumatera dan 4% dan 2% masing-masing berlokasi di Indonesia Timur dan Kalimantan.   Bukalapak sebagai perintis, tentunya memiliki keunggulan tersendiri terutama dari segi brand awareness di pasar ritel mikro offline.

Sumber: Prospektus Bukalapak 2021

Namun, dibalik gurihnya model bisnis kemitraan, mengundang pesaing-pesaing e-commerce lain seperti Tokopedia, GoJek, Warung Pintar untuk masuk ke segmen yang sama. Bergabungnya GoJek dan Tokopedia menjadi GoTo juga menjadi ancaman yang harus diperhatikan jika memang GoTo serius menggarap pasar ini.

Bagaimana? Apakah tertarik untuk membeli saham Bukalapak???

Yoga Ahmad Gifari (Rusia)
Graduated as master of Railway Track Management, but enthusiastic with sharia stock market.

July 27, 2021 0 comments
0 FacebookTwitterPinterestEmail
Berita Saham Syariah

Resmi! OJK Terbitkan Daftar Efek Syariah Berlaku 1 Agustus 2021

by Minsya July 26, 2021
written by Minsya 2 minutes read

Daftar Efek Syariah

Jum’at tanggal 23 Juli 2021 yang lalu, pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menerbitkan Keputusan Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Nomor: Kep-33/D.04/2021 tentang Daftar Efek Syariah.

Penerbitan keputusan tersebut didasarkan pada hasil penelaahan berkala yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan atas laporan keuangan emiten dan perusahaan publik, data dan informasi pendukung, serta Daftar Efek Syariah yang telah ditetapkan pada periode sebelumnya.

Dikutip dari halaman OJK Minggu (25/07/2021), “Daftar Efek Syariah tersebut merupakan panduan investasi bagi pihak pengguna Daftar Efek Syariah, seperti manajer investasi pengelola reksa dana syariah, asuransi syariah, dan investor yang mempunyai preferensi untuk berinvestasi pada efek syariah.”

Selain itu, Daftar Efek Syariah juga menjadi referensi bagi penyedia indeks syariah, seperti PT Bursa Efek Indonesia dalam menerbitkan Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI), Jakarta Islamic Index (JII), Jakarta Islamic Index 70 (JII 70), dan IDX-MES BUMN 17.

Daftar Efek Syariah

Berlaku Mulai 1 Agustus 2021

Adapun efek syariah yang termuat dalam Daftar Efek Syariah dimaksud meliputi 443 saham emiten dan perusahaan publik, serta efek syariah lainnya. 

Sumber data yang digunakan sebagai bahan penelaahan dalam penyusunan Daftar Efek Syariah dimaksud adalah berasal dari laporan keuangan yang berakhir pada tanggal 31  Desember  2020, serta data pendukung lainnya berupa data tertulis yang diperoleh dari emiten atau perusahaan publik.

Setiap tahunnya, secara periodik Otoritas Jasa Keuangan melakukan penerbitan Daftar Efek Syariah pada akhir Mei dan November yang efektif pada tanggal 1 Juni dan 1 Desember.

Baca Juga : Indeks Saham Syariah

Namun berdasarkan surat Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Nomor S- 30/D.04/2021 tanggal 2 Maret 2021 perihal Penegasan, Perpanjangan, atau Pencabutan Kebijakan Relaksasi Terkait Dengan Adanya Pandemi Corona Virus Disease 2019, penetapan Daftar Efek Syariah periode pertama disesuaikan waktunya menjadi paling lambat 5 (lima) hari kerja sebelum berakhirnya bulan Juli tahun 2021 dan mulai berlaku efektif pada tanggal 1 Agustus 2021.

Selain itu, secara insidentil, penerbitan Daftar Efek Syariah juga dilakukan apabila terdapat emiten atau perusahaan publik yang pernyataan pendaftarannya telah menjadi efektif dan sahamnya memenuhi kriteria sebagai efek syariah, atau apabila terdapat aksi korporasi, informasi, atau fakta material dari emiten atau perusahaan publik yang dapat menyebabkan terpenuhi atau tidak terpenuhinya kriteria efek syariah.

Sumber : halaman OJK – Pengumuman, Minggu (25/07/2021)

July 26, 2021 0 comments
0 FacebookTwitterPinterestEmail
Newer Posts
Older Posts

CEK SAHAM SYARIAH

BELAJAR APA?

  • Analisis Fundamental
  • Berita Saham Syariah
  • Emiten Syariah
  • Investasi Syariah
  • Keuangan Syariah
  • Pojok Komunitas
  • Saham Pemula

SYSAVEST 2026

KONTAK KAMI

Main Office :
QP Office, Perkantoran Tanjung Mas Raya, Blok B1 Nomor 44, Tanjung Barat, Jagakarsa, Jakarta Selatan 12530

Telp : 0878 5758 0315

Email : media@syariahsaham.id

Terdaftar DI

Copyright © 2024 PT Syariah Saham Indonesia. All Right Reserved.

Saham Syariah Indonesia
  • PANDUAN PEMULA
    • TENTANG SAHAM
    • PROFIL RISIKO
    • MULAI SAHAM
    • KOMUNITAS
    • APA ITU SAHAM SYARIAH
  • SAHAM SYARIAH
    • REGULASI OJK
    • FATWA DSN-MUI
    • INDEKS SAHAM SYARIAH
    • INVESTASI SYARIAH
  • PRODUK
    • CEK SAHAM SYARIAH
    • KELAS FATAMMA
    • KELAS FUNDAMENTAL
    • MM SEDERHANA
  • BLOG