Value Trap, Saham dan Mobil Bekas

by adminsysa
4 mins read

Pernah dengar tentang Value Trap?

Bagi sebagian orang membeli mobil bekas dapat menjadi alternatif untuk mendapatkan mobil bagus dengan harga miring, tentunya dengan pengetahuan si pembeli atas kualitas, harga dan mungkin hal-hal lain terkait otomotif. Pembeli juga terkadang sudah punya patokan berapa harga yang pas untuk mobil tersebut.

Analogi ini mirip sekali dengan bagaimana cara investor membeli saham. Walaupun berbeda jenisnya, dimana saham adalah aset produktif yang bisa naik atau turun harganya sedangkan mobil adalah aset konsumtif yang nilainya terdepresiasi, semakin lama semakin turun. Namun mari kita fokus pada tahapan sebelum membeli mobilnya.

Membeli Mobil

Saat ingin membeli mobil bekas, hal paling pertama yang dilakukan adalah screening misalkan melalui aplikasi OLX jenis mobil, tahun pajak dan lokasi kendaraan. Tidak perlu menunggu lama, bahkan hitungan detik kita sudah mendapat data hasil screening minimal bisa berupa nama, no tlp dan alamat si penjual.

Bisa saja saat itu Anda berspekulasi menelpon si penjual dan langsung melakukan transaksi jual-beli, tapi pada umumnya pasti Anda akan melakukan cek fisik/kondisi mobil, menyalakan mesinnya, cek kebersihan mobil bahkan Anda ingin tahu siapa yang biasa memakai mobil tersebut dan bagaimana dia merawatnya. Tidak jarang pembeli membawa montir untuk memastikan kondisi mesinnya masih ok. Apabila kondisi mobil dinilai masih bagus maka bisa kita masukan dalam watchlist, bisa jadi saat itu belum pas harganya atau masih penasaran dengan mobil lainnya.

Investasi Saham dan Value Trap

IHSG memiliki lebih dari 700 saham didalamnya. Screening adalah cara singkat untuk menghemat waktu Anda menemukan saham yang masuk kriteria awal kita. Anda dapat dengan mudah menemukan saham murah dengan memasukkan parameter PER dan PBV misalnya. Tapi hasil screening tersebut barulah langkah pertama, bukan menjadi alasan kita membeli saham. Keputusan membeli hanya karena valuasi bisa membuat Anda terjebak dalam value trap. Alih-alih mendapat saham murah dan bagus, ternyata saham murah yang memang murahan.

Kembali pada analogi mobil tadi, maka sudah sewajarnya kita cek kondisi perusahaan sebelum membeli. Bedah laporan keuangan, membaca annual report dan public expose yang semuanya tersedia di www.idx.co.id atau bisa langsung masuk ke website perusahaan (cari kolom investor relation). Dari hasil membaca itulah kita bisa melakukan analisa sehingga timbul keyakinan bahwa saham ini sedang murah atau memang murahan. Banyak investor terkemuka yang santai melihat pergerakan harga saham jangka pendek, mereka sabar menunggu perusahaan bertumbuh karena mereka tahu betul perusahaan seperti apa yang mereka beli. Kesabaran yang muncul karena pengetahuan, hasil dari membaca dan menganalisa.

Lalu apakah kita perlu jadi akuntan untuk memahami laporan keuangan? Warren Buffet pernah mengatakan bahwa seseorang tidak perlu jadi akuntan untuk sukses di pasar modal. Lihat saja para investor sukses di beberapa negara, mereka bukan seorang akuntan. Bahkan pernah dikatakan juga bahwa untuk menilai suatu saham cukup dengan perhitungan matematika sederhana.

value trap

Berikut adalah beberapa cara yang dilakukan agar terhindar dari value trap :

Membaca Laporan Keuangan

  1. Perhatikan laba bersihnya apakah ia termasuk recurring income atau cuma laba sesaat seperti pendapatan investasi, penjualan aset atau selisih kurs.
  2. Penjualan harusnya menggenerate cash. Cek penjualan dan bandingkan dengan arus kas dari kegiatan operasi, jangan sampai penjualan malah memperbesar piutang.

Membaca Laporan Tahunan

Tiga hal yang biasanya dibaca untuk screening laporan tahunan :

  1. Financial highlight
    Melihat historical data keuangan perusahaan.
  2. Laporan Direksi
    Biasanya akan menceritakan kendala-kendala yang sedang dihadapi dan langkah manajemen kedepan. Dijelaskan pula faktor eksternal dan internal yang menjadi hambatan untuk mencapai target perusahaan.
  3. Analisa Pembahasan Manajemen
    Dijelaskan lebih detail terkait kinerja per segmen sehingga kita mengetahui sumber-sumber pendapatan perusahaan. segmen mana yang menjadi fokus/tumpuan pendapatan perusahaan.

Ada lagi? silakan tulis di kolom komentar ya.

Ario Fatoni, pernah menjadi karyawan bank 9 tahun di unit CFO dan memutuskan resign untuk menjadi entrepreneur serta mulai fokus mendalami value investing di pasar modal syariah.

Related Posts

Leave a Comment