Rombak Besar Indeks Saham Syariah 2026: JII & ISSI Berubah, Ini yang Wajib Diketahui Investor

by Minsya
4 minutes read

Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali melakukan evaluasi mayor terhadap indeks-indeks saham syariah pada periode Mei 2026. Perombakan ini bukan sekadar rutinitas administratif — bagi kamu yang membangun portofolio berbasis prinsip syariah, perubahan konstituen JII dan ISSI berdampak langsung pada komposisi aset yang dianggap sesuai kaidah Islam. Di saat yang sama, data terbaru menunjukkan pasar modal syariah RI tumbuh pesat, membuka peluang sekaligus tantangan baru.

Artikel ini merangkum dan menganalisis empat perkembangan penting: perbedaan mendasar JII dan ISSI, detail perombakan indeks Mei 2026, saham-saham yang masuk dan keluar, serta pertumbuhan jangka panjang pasar modal syariah. Semua disaring dari sudut pandang investor saham syariah.

Memahami Dua Barometer Utama: JII vs ISSI

Sebelum membahas perombakan, penting memahami dua acuan pokok pasar syariah. Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) adalah indeks komposit yang mencakup SELURUH saham syariah yang tercatat di BEI, selama emiten tersebut masuk dalam Daftar Efek Syariah (DES) yang diterbitkan OJK. Saat ini ISSI menaungi lebih dari 630 saham — cerminan pasar syariah secara keseluruhan.

Sementara itu, Jakarta Islamic Index (JII) jauh lebih ketat dan eksklusif. Konstituennya dipilih dari daftar ISSI, lalu disaring lagi menjadi 30 saham syariah paling likuid dengan kapitalisasi pasar terbesar. Artinya, JII merepresentasikan saham-saham syariah kelas berat (blue chip), sedangkan ISSI menggambarkan luasnya semesta saham halal di bursa.

Bagi investor, perbedaan ini krusial: jika kamu mencari eksposur luas dan diversifikasi maksimal, ISSI adalah acuannya. Jika kamu memburu likuiditas tinggi dan saham syariah papan atas, JII lebih relevan.

Detail Perombakan Mei 2026: Siapa Masuk, Siapa Keluar

Pada evaluasi mayor Mei 2026 yang berlaku efektif 2 Juni hingga 30 November 2026, BEI memasukkan tujuh saham baru ke JII dan mengeluarkan tujuh saham lainnya. Perubahan di ISSI bahkan lebih masif: 16 saham masuk sebagai konstituen baru, sementara 72 saham dikeluarkan dari indeks.

Tujuh saham yang resmi masuk ke JII antara lain PT Alamtri Minerals Indonesia (ADMR), PT Solusi Sinergi Digital (WIFI), PT Dian Swastatika Sentosa (DSSA), PT Pantai Indah Kapuk Dua (PANI), dan PT Pertamina Geothermal Energy (PGEO). Masuknya nama-nama dari sektor energi, pertambangan mineral, dan digital ini menandakan pergeseran bobot sektoral dalam indeks syariah unggulan.

Di sisi lain, sejumlah saham berkapitalisasi besar seperti ASII, BRPT, INCO, dan ISAT mengalami penyesuaian posisi. PT Indosat (ISAT), misalnya, keluar dari JII namun masih bertahan di JII70 dan ISSI. Perombakan juga menyentuh indeks turunan lain seperti JII70, IDXSHAGROW, dan IDXMESBUMN (indeks saham syariah BUMN).

Dominasi Konglomerasi dalam Indeks Syariah

Satu fakta menarik yang perlu dicermati investor: pergerakan JII maupun ISSI sangat dipengaruhi oleh segelintir grup konglomerasi raksasa. Ekosistem bisnis milik Prajogo Pangestu, misalnya, menyumbang bobot signifikan melalui PT Barito Pacific (BRPT) dan PT Chandra Asri Pacific (TPIA).

Jejak Grup Salim terlihat melalui PT Indofood Sukses Makmur (INDF) dan PANI, sementara Grup Sinar Mas hadir lewat DSSA. Bagi investor syariah, konsentrasi ini adalah pisau bermata dua: di satu sisi memberi stabilitas dari emiten mapan, di sisi lain menimbulkan risiko konsentrasi bila kinerja grup tertentu memburuk.

Pasar Modal Syariah Tumbuh 184% dalam Satu Dekade

Di tengah dinamika perombakan indeks, kabar besarnya adalah pertumbuhan struktural pasar modal syariah. BEI mencatat jumlah saham syariah melonjak 184% — dari 237 saham pada 2011 menjadi 673 saham per Mei 2026. Kapitalisasi pasar ISSI pun naik 255% menjadi sekitar US$399 miliar.

Yang paling mencolok adalah ledakan jumlah investor. Berdasarkan data Sharia Online Trading System (SOTS), jumlah investor syariah tumbuh lebih dari 425 kali lipat dibandingkan awal peluncuran pada 2011. Momentum ini diperkuat lewat penyelenggaraan Elevate 2026 dan Sharia Investment Week yang mempertemukan regulator, pelaku pasar, dan investor global.

Apa Artinya bagi Investor Saham Syariah

Perombakan indeks bukan alasan untuk panik menjual atau membeli. Justru, ini momen yang tepat untuk meninjau ulang portofolio kamu:

1. Cek status DES saham kamu. Saham yang keluar dari ISSI bisa jadi tak lagi memenuhi kriteria syariah. Pastikan holdingmu masih tercatat dalam Daftar Efek Syariah OJK terbaru.

2. Waspadai risiko konsentrasi. Dengan dominasi konglomerasi di JII, diversifikasi ke ISSI atau reksa dana syariah bisa menyeimbangkan portofolio.

3. Manfaatkan momentum pertumbuhan. Pertumbuhan 184% dan lonjakan investor menunjukkan pasar syariah semakin dalam dan likuid — kabar baik untuk investasi jangka panjang yang sesuai prinsip.

4. Pantau saham baru JII. ADMR, PGEO, WIFI, dan lainnya kini masuk radar. Lakukan analisis fundamental sebelum masuk — status syariah tidak otomatis berarti valuasi menarik.

Kesimpulannya, rombak besar indeks syariah 2026 menegaskan bahwa pasar modal syariah Indonesia semakin matang. Bagi investor, kuncinya adalah tetap berpegang pada prinsip syariah sambil disiplin melakukan analisis fundamental. Selalu verifikasi status DES sebelum mengambil keputusan.

Sumber: dirangkum dan ditulis ulang dari CNBC Indonesia, Ajaib, IDNFinancials, dan Bareksa. Artikel ini bersifat edukasi, bukan rekomendasi jual/beli.

You may also like

Leave a Comment