PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) : Sejarah dan Profil

by Minsya
6 minutes read

PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) ialah industri penghasil semen terbesar kedua di Indonesia. Tidak hanya semen, perusahaan ini juga menghasilkan beton siap pakai dan mengolah tambang agregat serta tras. Dibalik kesuksesannya, perusahaan ini telah mengalami berbagai hal di masa lalu yang perlu diketahui sebagai berikut.

Disebut dengan Indocement, Perusahaan Indocement Tunggal Prakarsa Tbk ialah produsen semen terkenal di Indonesia yang mulai beroperasi sejak tahun 1975. Tentunya, logo Indocement sudah tidak asing lagi bagi warga Indonesia karena mudah ditemui pada produk semen. 

Seperti yang diketahui bahwa logo ini memiliki lingkaran berwarna biru dan bertuliskan ‘TIGA RODA’. Tulisan didalamnya ini disusun berbentuk lingkaran pada bagian atasnya. Tulisan ‘SEMEN’ disusun berbentuk setengah lingkaran dan terletak pada bagian bawahnya. Di tengah lingkaran birunya, ada lingkungan merah kecil yang berisi gambar tiga roda dengan warna putih.

Didirikan pada 16 Januari 1985, perusahaan ini awalnya ialah hanya sebuah pabrik semen di Citeureup, Jawa Barat. Industri semen ini dibangun oleh PT District Indonesia Cement Enterprise yang berkapasitas sebanyak 500.000 ton per tahunnya. Di akhir Desember 2020, perusahaan ini berhasil memiliki 13 pabrik yang menghasilkan 24,9 juta ton per tahunnya.

Secara keseluruhan, 10 pabrik beroperasi di Kompleks Pabrik Citeureup, Bogor, Jawa TImur. Sementara itu, 3 pabrik lainnya berlokasi di Kompleks Pabrik Cirebon, Kompleks Pabrik Tarjun,  dan Kalimantan Selatan. Berhasil memiliki 13 pabrik, perusahaan ini menerapkan beberapa strategi pada bisnisnya.

Adapun strategi bisnis yang diterapkan oleh Indocement yaitu efisiensi produk dengan menjalankan inisiatif, berupa efisiensi penggunaan energi, penerapan cost benefit analysis, serta proses automasi. Selain itu, efisiensi biaya perawatan juga digunakan dengan menerapkan condition based maintenance. Program ini berasal dari Heidelberg Cement Group.

Efisiensi yang diterapkan oleh perusahaan ini dilakukan dengan batubara kalori rendah agar biara energy tertekan, purchasing power meningkat serta layanan dengan konsep Shared Service Center terintegrasi. Industri ini juga menerapkan efisiensi logistic agar fungsi terminal-terminal semen terjaga keoptimalannya. Transformasi digital juga dilakukan pada seluruh lini bisnis.

Indocement Tunggal
https://www.indocement.co.id/Berita-dan-Media/Foto-dan-Video

Agar rantai suplai semen ‘Tiga Roda’ terjamin, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) menyediakan sejumlah terminal dengan metode pengangkutan semen yang telah terintegrasi. Perusahaan ini juga memiliki terminal semen untuk melancarkan kegiatan distribusinya. Secara rinci, ada 10 terminal semen milik Indocement yang tersebar di Indonesia.

Sejarah Singkat dari Indocement Tunggal Prakarsa

PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) mulai mengukir sejarahnya pada tahun 1975. Hal ini ditandai dengan berdirinya PT Distinct Indonesia Cement Enterprise atau DICE. Perusahaan ini ialah pabrik semen yang menghasilkan kapasitas 500.000 ton di Citeureup, Jawa Barat. Lalu, disusul dengan munculnya perusahaan serta pabrik lainnya. 

Dalam 10 tahun, ada 8 pabrik tambahan yang berdiri dengan kapasitas produksi 7,7 juta ton per tahunnya. Pabrik-pabrik tersebut dikelola oleh enam perusahaan yang berbeda-beda. Sejumlah pabrik tersebut bergabung sehingga menjadi PT Inti Cahaya Manunggal. Namun, pada 1985, perusahaan ini mengganti namanya menjadi PT Indocement Tunggal Prakarsa. 

Adapun perusahaan-perusahaan yang digabung di atas yaitu PT Perkasa Agung utama Indonesia Cement Enterprise, PT Perkasa Inti Abadi Indonesia Cement Enterprise, PT Distinct Indonesia Cement Enterprise, PT Perkasa Indonesia Cement Enterprise, PT Perkasa Indah Indonesia, PT Perkasa Abadi Mulia Indonesia Cement Enterprise, dan Cement Putih Enterprise. 

Pada tahun 1989, perusahaan ini mulai beroperasi dengan melaksanakan Penawaran Umum Saham Perdana. Pada 5 Desember 1989, perusahaan ini juga menjadi perusahaan publik yang mencatat seluruh sahamnya yang terdata di BEI atau Bursa Efek Indonesia dengan kode INTP. Untuk mengantisipasi adanya pertumbuhan pasar yang semakin kuat, INTP menambah jumlah pabriknya.

Penambahan jumlah pabrik yang dilakukan oleh PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) bertujuan untuk meningkatkan kapasitas produksi. Hal ini dilakukan dengan mengakuisisi Plant 9 pada tahun 1991. Pada 1996, Indocement juga merampungkan pembangunan Plant 10 yang berlokasi di Kompleks Pabrik Cirebon, Cirebon, Jawa Barat. Sementara itu Plant 11 selesai dibangun pada 1997.

Dari hasil merger PT Indo Kodeco, Indocement resmi menjadi pemilik pabrik penghasil semen yang ada di Tarjun, Kalimantan Selatan. Pabrik inilah yang menjadi Plant 12 milik Indocement. Pada tahun 2001, pemegang saham mayoritasnya yaitu Heidelberg Cement Group setelah mengakuisisi 61,7% saham.

Heidelbergcement AG mengalihkan seluruh saham miliknya dari Indocement ke Birchwood Omnia Ltd pada 2008. Perusahaan Birchwood Omnia ini milik Heidelberg Cement Group 100%. Tidak sampai situ, perusahaan Birchwood Omnia memutuskan untuk menjual 14,1% sahamnya kepada publik. Dengan begitu, saham Indocement oleh HeidelbergCement melalui Birchwood Omnia menjadi 51%.

Indocement mulai mengoperasikan seluruh pabriknya yang disebut sebagai Plant 14 di kompleks Pabrik Citeureup. Pabrik ini ialah pabrik semen terintegrasi terbesar milik PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP). Kapasitas produk semen yang dihasilkan yaitu 44 juta ton per tahun.  

Selain terbesar, Pabrik Citeureup juga menjadi pabrik semen terbesar milik Indocement serta HeidelbergCement Group. Pada September 2022, bersama PT Semen Bosowa Maros serta PT Bosowa Corporindo, perusahaan ini membuat Perjanjian Sewa pakai Aset. Hingga kini, perusahaan ini telah memiliki 13 pabrik yang menghasilkan produk semen sebesar 25,5 juta ton per tahunnya.

Produk yang Dihasilkan oleh Indocement

Produk semen yang dihasilkan oleh Indocement pada 31 Desember 2016 ialah 24,9 juta ton per tahunnya. Disamping itu perusahaan ini juga mempunyai kapasitas produksi beton siap pakai sebesar 5 juta meter kubik per tahunnya dengan 38 batching plant serta 632 truk mixer. Agregat yang dihasilkan juga berkapasitas 2,7 juta ton.

Indocement juga menghasilkan semen jenis OPC atau Ordinary Portland Cement serta Portland Composite Cement atau PCC sebagai produk utamanya. Produk-produk tersebut sudah dihasilkan sejak tahun 2005. Selain itu, perusahaan ini juga menghasilkan jenis semen lain, seperti Portland Cement Type II serta Type V serta Oil Well Cement.

Menariknya, perusahaan ini ialah satu-satunya penghasil semen berjenis semen putih atau white cement yang ada di Indonesia. Untuk memenuhi permintaan kostumer, Indocement pun mengeluarkan produk secondary brand untuk menghasilkan semen berkualitas dengan harga yang terjangkau. Produk ini ialah Semen Rajawali yang merupakan merek semen bertipe Pozzolana Portland Cement atau PCC.

Adapun semen yang dipasarkan ialah semen bermerk ‘Tiga Roda’ serta ‘Semen Rajawali’. Tidak hanya semen merk ‘Semen Tiga Roda’, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) juga menyediakan produk lainnya, seperti beton siap pakai serta barang tambang. Beberapa diantaranya ialah TR-10 Mortar Serbaguna, TR-15 Thinbed, dan TR-20 Plester Plus, Duracem, dan Ready Mix Concrete.

Itulah sekilas informasi mengenai profil, sejarah hingga produk apa saja yang dihasilkan oleh PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP). Bisa disimpulkan bahwa perusahaan ini telah mengalami berbagai perkembangan sehingga berhasil menjadi salah satu industri penghasil semen terbesar kedua di Indonesia.

Suka dengan artikel ini? Yuk sharing ke temen-temen kamu ya. Semoga bermanfaat!

You may also like

Leave a Comment

-
00:00
00:00
Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00