KEJU! Emiten Gak Likuid Kinerja Mantap

by adminsysa

Profil Singkat KEJU

KEJU (PT Mulia Boga Raya Tbk.) didirikan pada tanggal 25 Agustus 2006 yang memiliki kegiatan usaha utama sebagai distributor produk makanan dan dairy. Baru pada tahun 2007, KEJU mulai mencari lahan untuk mendirikan pabrik, untuk selanjutnya pada tahun 2008 pabriknya di Cikarang mulai berproduksi.

Pada tahun 2010, KEJU pertama kali memproduksi keju cheddar dengan mereknya sendiri yaitu Prochiz dengan kemasan 2 kg dan 180 gram. Saat ini KEJU memiliki beberapa macam produk, antara lain Prochiz Cheddar, Prochiz Gold Cheddar , Prochiz slice, Prochiz Gold Slice, Prochiz Easy Melt dan Prochiz Spready. Selain Prochiz, KEJU juga memiliki merk lain yaitu TopChiz.

Semenjak tahun 2013, sampai dengan saat ini, KEJU terus berinovasi dan menambah varian produknya mulai dari jenis premium yang kandungan cheddar dan cita rasanya lebih tinggi, sampai dengan mayonaise untuk salad dressing. KEJU memasarkan produk-produknya ke tiga negara, yakni Malaysia, Thailand, dan Filipina.

Baru pada tanggal 25 November 2019, KEJU resmi melantai di Bursa Efek Indonesia dengan menawarkan 100 juta saham baru kepada publik.

Pada 14 Oktober 2020, terjadi perubahan kendali perusahaan dari pemegang saham pendiri kepada PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk (Kode emiten: GOOD). Saat ini, Garudafood mengendalikan perusahaan dengan porsi saham mayoritas sebanyak 66,07%.

Model Bisnis

KEJU mempunyai model bisnis yang hampir sama dengan perusahaan consumer goods lainnya. Membeli bahan baku dari supplier, kemudian mengolah bahan baku di pabrik mereka. Setelah itu mendistribusikan produk mereka melalui distributor mereka sendiri dan bantuan pihak ketiga.

Supplier bahan baku KEJU sebagian besar dari perusahaan yang ada di Indonesia, terkecuali bahan baku cheddar (salah satu bahan terpenting dalam pembuatan keju) yang masih harus impor dari Fonterra Limited, Selandia Baru. Fluktuasi nilai tukar tentunya akan sangat berpengaruh terhadap harga beli cheddar yang dibeli KEJU

Saat ini, KEJU mengoperasikan 1 pabrik di daerah Cikarang dengan luas area mencapai 4.800 m2, luas bangunan pabrik mencapai 3.360 m2 yang terdiri atas 7 lini produksi. Pada tahun 2019, kapasitas produksi KEJU mencapai lebih dari 30.000 MT/tahun. Utilisasi rata-rata mesin sekitar 60%. Produktivitas mesin masih bisa ditingkatkan dan efisien sehingga biaya produksi semakin murah.

Dalam distribusi produknya, KEJU didukung dengan jaringan penyebaran melalui 44 distributornya yang menjangkau Food service (seperti penyedia makanan, kafe, restoran, toko kue, pabrik roti), Modern trade (alfamart, indomaret, supermarket) dan General trade (pengecer grosir, retail). 

Selain itu, KEJU juga mulai mencoba memasarkan produknya lewat e-commerce dengan membuka official store di Tokopedia, Shopee, Blibli, dan JD.ID.

Emiten KEJU
Sumber: Public Expose KEJU Juni 2021

Kinerja Kuantitatif

Pertumbuhan penjualan KEJU terus mengalami peningkatan dari tahun 2018 sampai 2020 (jika penerapan PSAK 72 tidak diterapkan) dengan CAGR (Compounded Annual Growth Rate) sebesar 9,8%. Selain itu, angka GPM (Gross Profit Margin) juga semakin membaik. Ini menunjukkan ada upaya efisiensi yang dilakukan dalam penggunaan beban pokok penjualan produk dari KEJU.

Laba usaha dan laba bersih bisa melesat lebih tinggi dari angka penjualannya. Nah, kita harus hati-hati disini. Jika kita membedah bagian laba/rugi di laporan keuangan KEJU, kita bisa melihat alasan dibaliknya. Pertumbuhan laba bersihnya tidak murni dari hasil operasional. 

Contohnya di tahun 2020, ada laba dari hasil penjualan aset tetap sebesar 2,6 miliar. Selain itu, ada juga keuntungan dari akun penghasilan lainnya dan penghasilan keuangan serta penurunan beban operasi lainnya. Yang mana akun keuangan ini belum tentu akan berulang kedepannya.

Sumber: Public Expose KEJU Juni 2021

Meskipun masih adanya pandemi, penjualan KEJU di Q2 2021 masih bisa bertumbuh sebesar 17% dibandingkan Q2 2020. Laba bersih juga bertumbuh sebesar 26% diperiode yang sama. Pelan-pelan penjualan ke Food service mulai pulih dibandingkan dengan 2020. Selain itu, penjualan KEJU ke Modern Trade juga masih terus meningkat.

Selain itu, angka ROE KEJU dari setelah IPO (Initial Public Offering) masih konsisten selalu diatas 20%. Hal ini juga didukung dengan peningkatan angka margin laba bersih dan hutang berbunga yang diambil manajemen untuk mengungkit nilai ROE perusahaan. Tapi ini bukan hal yang mengkhawatirkan, karena kemampuan KEJU dalam menghasilkan kas juga sangat baik.

Pertumbuhan dan Prospek

Berdasarkan data dari Nielsen (salah satu perusahaan research terkemuka), penjualan keju Indonesia per Q1 2020 di Modern Trade telah bertumbuh secara CAGR sebesar 12,3%. Diproyeksikan dalam 5 tahun kedepan, industry keju masih akan bertumbuh CAGR sebesar 9,9%.

Pangsa pasar KEJU sendiri di Modern Trade berada di urutan kedua, berdasarkan penjualan dan volume masing-masing sebesar 22% dan 30%. Dalam industri ini, keju Kraft masih menguasai pangsa pasar sebagai pemain yang sudah lama penetrasi di pasar keju Indonesia.

Pangsa pasar yang disasar oleh KEJU dan Kraft sama, yaitu pasar premium. Namun, KEJU menawarkan harga yang lebih rendah. Kedepan, KEJU kemungkinan akan lebih banyak mengeluarkan biaya marketing (seperti iklan, promosi, diskon, dll) untuk merebut pasar dari market leader. KEJU juga sudah cukup aktif menggunakan Instagram dan Tiktok sebagai media promosi.

Sumber: Public Expose KEJU Juni 2021

Seperti yang sudah kita lihat dibagian kinerja kuantitatif, KEJU juga terus mengalami pertumbuhan penjualan. Saat ini ada 3 segmen produk yang dimiliki KEJU. Lalu segmen manakah yang menjadi growth driver bagi KEJU? 

Penjualan keju blok masih mendominasi total penjualan KEJU dengan kisaran rata-rata 88%. Pertumbuhan CAGR penjualan dari 2016 – 2019 (level sebelum pandemi) cukup baik, sebesar 8%. GPM keju blok juga masih terjaga diatas 30%. Kedepan, pertumbuhan keju blok akan sangat tergantung terhadap perkembangan industri kuliner yang menggunakan bahan keju. Jalur distribusi melalui food service akan menjadi kontributor utama untuk pertumbuhan KEJU. 

Dalam beberapa tahun terakhir, makanan dengan bahan keju cukup banyak diminati oleh masyarakat.  Sehingga ini akan mendorong produsen makanan untuk membuat menu-menu yang unik dan enak menggunakan bahan keju.

Selain pasar domestik, pasar ekspor KEJU memperlihatkan pertumbuhan yang pesat. Pada tahun 2020, penjualan ke luar negeri tercatat sebesar Rp31,4 miliar, meningkat 41,7% atau Rp9,3 miliar dibanding tahun sebelumnya yang mencapai Rp22,2 miliar. Saat ini KEJU juga sudah memasarkan produknya ke Brunei Darussalam.

Selain itu, Garudafood yang sudah menjadi pengendali KEJU menarik untuk diikuti. Apakah akan mampu meningkatkan kinerja KEJU atau tidak. Garudafood sendiri punya perusahaan distribusi dengan jaringan yang cukup luas, sehingga akan sangat membantu KEJU dalam hal distribusi.

Risiko Investasi

Dari segi bisnis, KEJU cukup rentan terkena dampak kurs rupiah karena mereka membeli bahan baku cheddar dari Selandia Baru. Penurunan angka GPM diwaktu mendatang sangat mungkin terjadi.

Dari sisi brand, KEJU belum memiliki brand awareness yang tinggi sehingga belum mempunyai pricing power untuk menaikkan harga jual. Kedepan, bisa saja pertumbuhan penjualan dan laba bersih tidak akan secepat sekarang karena persaingan dengan pemain lain. Memang saat ini pemain dalam industry keju masih sangat sedikit. Namun, jika pemain lain mulai mengetahui “legitnya” bisnis ini, bukan hal yang mustahil pangsa pasar mereka akan direbut pesaing baru.

Dari sisi likuiditas di pasar saham, KEJU termasuk kurang likuid. Market cap 1,97 T dan volumenya yang tergolong masih sedikit sehingga membuat saham ini kurang populer dibandingkan emiten bluechip lainnya.

Bagaimana pendapat anda? Apakah saham KEJU layak beli atau tidak? Silahkan sampaikan pendapat anda di kolom komentar.

Yoga Ahmad Gifari (Rusia)
Graduated as master of Railway Track Management, but enthusiastic with sharia stock market.

Related Posts

Leave a Comment