ISSI & JII Terkoreksi Dalam di 2026, Tapi Valuasi Murah Buka Peluang

by Minsya
6 minutes read

Kalau kamu pegang portofolio saham syariah sepanjang tahun ini, kamu pasti sudah merasakan sendiri betapa beratnya pasar 2026. Bukan cuma perasaan — datanya memang menunjukkan indeks saham syariah Indonesia sedang berada di salah satu fase koreksi paling dalam dalam beberapa tahun terakhir. Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) dan Jakarta Islamic Index (JII) sama-sama terkoreksi dua digit sejak awal tahun, bahkan lebih dalam dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Tapi di balik angka merah itu, ada beberapa sinyal yang justru menarik untuk dicermati: laba emiten yang mayoritas masih tumbuh, valuasi pasar yang makin murah, dan tanda-tanda dana asing mulai kembali masuk. Yuk kita bedah pelan-pelan supaya kamu punya gambaran utuh, bukan cuma ikut panik lihat portofolio memerah.

Berdasarkan data yang dirangkum InvestorTrust dari IDX Daily Statistics, per 31 Juli 2026 IHSG ditutup di level 6.236,13 atau terkoreksi 27,88% secara year-to-date (ytd). Ini menempatkan IHSG sebagai salah satu bursa dengan kinerja terburuk di kawasan ASEAN sepanjang tujuh bulan pertama 2026.

Yang perlu kamu tahu, indeks saham syariah justru terkoreksi lebih dalam. ISSI tercatat turun sekitar 30,30% ytd, sementara JII bahkan anjlok hingga 36,04%. Sebagai pembanding, LQ45 turun 26,62%, IDX80 melemah 29,62%, dan KOMPAS100 terkoreksi 31,58%. Artinya, indeks-indeks berbasis saham syariah kebetulan menanggung tekanan yang relatif lebih berat dibanding indeks konvensional utama.

Kenapa bisa begitu? Salah satu penyebabnya ada di komposisi sektoral. Indeks syariah cenderung punya bobot besar di sektor-sektor yang kebetulan paling tertekan tahun ini, seperti energi, infrastruktur, dan properti. Sementara sektor keuangan konvensional seperti perbankan besar tidak masuk dalam saringan saham syariah karena unsur ribanya.

Sektor Energi dan Infrastruktur Jadi Beban Terberat

Kalau ditelusuri per sektor, tekanan paling dalam sepanjang 2026 terjadi di sektor Properti dan Real Estat yang turun sekitar 33,46%, disusul Infrastruktur yang minus 33,44%, dan Energi yang melemah 33,32%. Ketiga sektor ini punya porsi yang cukup signifikan di daftar konstituen saham syariah, sehingga koreksinya ikut menyeret ISSI dan JII.

Contoh nyata datang dari salah satu emiten energi dan petrokimia besar. IDX Channel melaporkan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) membukukan laba bersih USD190 juta di semester I-2026, turun 64% dibanding periode yang sama tahun lalu, meski pendapatannya justru naik 76,1% menjadi USD5,68 miliar berkat integrasi kilang dan aset ritel. EBITDA perseroan juga tergerus sekitar 45% menjadi USD1,08 miliar. Kombinasi laba yang menyusut di beberapa emiten berbobot besar seperti ini ikut menekan kinerja indeks.

Menariknya, dalam jangka pendek justru sektor energi dan komoditas sempat menjadi motor pemulihan indeks saham syariah dari titik terendahnya. Jadi sektor yang sama bisa jadi beban secara ytd, sekaligus jadi penggerak saat pasar mulai rebound — tergantung timeframe yang kamu lihat.

Paradoks: Laba Emiten Kuat, Tapi Harga Saham Jatuh

Ini bagian yang bikin banyak investor garuk-garuk kepala. Menurut catatan InvestorTrust, sekitar 80% emiten di Bursa Efek Indonesia masih membukukan laba, dengan pertumbuhan keuntungan korporasi yang secara agregat cukup solid. Sektor perbankan bahkan mencetak laba jumbo. Tapi kenapa harga sahamnya malah jatuh?

Jawabannya ada pada arus dana asing. Sepanjang 2026, investor asing terus menarik dana dari pasar saham domestik. Akumulasi net sell asing tercatat menembus kisaran Rp71,99 triliun secara ytd hingga akhir Juli. Ketika dana asing keluar dalam jumlah besar, harga saham tertekan terlepas dari sebagus apa pun kinerja fundamental emitennya. Ini fenomena yang dipicu sentimen global dan ketidakpastian, bukan semata masalah internal perusahaan.

Kabar baiknya, tekanan itu mulai menunjukkan tanda mereda. Pada perdagangan 30 Juli 2026, investor asing sempat membukukan net buy sekitar Rp262,93 miliar, terutama masuk ke saham-saham perbankan besar. Meski secara ytd asing masih net sell, berkurangnya laju penjualan bersih ini bisa jadi sinyal awal bahwa investor mulai melihat valuasi saham Indonesia semakin menarik.

Apa Hubungannya dengan DES, ISSI, dan JII?

Buat kamu yang masih baru, penting untuk paham dulu apa yang kamu pegang. ISSI (Indeks Saham Syariah Indonesia) adalah indeks yang memuat SELURUH saham yang masuk Daftar Efek Syariah (DES) dan tercatat di Bursa Efek Indonesia. DES sendiri adalah daftar resmi efek yang memenuhi prinsip syariah, yang disaring dan ditetapkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) secara berkala. Jadi ISSI itu cerminan luas dari seluruh alam semesta saham syariah.

Sementara JII (Jakarta Islamic Index) lebih selektif. JII hanya berisi 30 saham syariah paling likuid dan berkapitalisasi besar. Ada juga JII70 yang memuat 70 saham. Karena JII isinya saham-saham big cap, pergerakannya sangat dipengaruhi segelintir emiten besar. Ketika beberapa saham berbobot besar terkoreksi dalam, JII bisa jatuh lebih tajam dibanding ISSI yang lebih terdiversifikasi — dan itulah yang kita lihat tahun ini.

Memahami perbedaan ini penting karena strategi kamu bisa berbeda tergantung indeks acuan yang kamu ikuti. Kalau kamu investasi lewat reksa dana indeks syariah atau ETF yang mengacu JII, eksposur kamu ke saham big cap jadi lebih terkonsentrasi dibanding kalau kamu mengacu ISSI.

Valuasi Makin Murah, Peluang Rebound Terbuka

Di sinilah letak sisi optimisnya. Koreksi tajam sepanjang 2026 membuat valuasi pasar Indonesia menjadi salah satu yang paling murah dalam beberapa tahun terakhir. IHSG kini diperdagangkan pada Price Earnings Ratio (PER) sekitar 12,68 kali dengan Price to Book Value (PBV) sekitar 1,66 kali — jauh di bawah rata-rata historisnya.

Valuasi murah di tengah fundamental emiten yang mayoritas masih sehat adalah kombinasi yang biasanya menarik perhatian investor jangka panjang. Sejumlah analis menilai koreksi yang sudah terlalu dalam membuka peluang rebound pada paruh kedua 2026, terutama jika sentimen domestik membaik, kepastian kebijakan ekonomi meningkat, dan aliran dana asing kembali deras masuk.

Tentu, murah tidak otomatis berarti langsung naik. Pasar bisa saja tetap tertekan lebih lama kalau sentimen global belum pulih. Tapi buat investor syariah dengan horizon panjang, level harga seperti sekarang layak dijadikan bahan pertimbangan, bukan alasan untuk panik menjual di titik terendah.

Apa Artinya bagi Investor Saham Syariah

Biar kamu nggak cuma dapat data mentah, ini beberapa poin yang bisa kamu jadikan pegangan:

1. Jangan panik lihat angka merah indeks. Koreksi ISSI dan JII tahun ini lebih banyak didorong arus keluar dana asing dan sentimen global, bukan karena emiten syariah beramai-ramai merugi. Faktanya, mayoritas emiten masih mencetak laba. Bedakan antara harga yang turun karena panik pasar dan bisnis yang benar-benar memburuk.

2. Manfaatkan valuasi murah dengan strategi bertahap. Kalau kamu punya dana nganggur dan horizon panjang, level valuasi rendah seperti sekarang bisa jadi momen menabung saham secara bertahap (dollar cost averaging), bukan sekaligus. Ini membantu kamu meredam risiko kalau pasar ternyata masih turun lebih dalam.

3. Perhatikan komposisi sektoral portofoliomu. Karena indeks syariah berat di energi, infrastruktur, dan properti, ada baiknya kamu cek apakah portofoliomu terlalu terkonsentrasi di sektor yang sedang tertekan. Diversifikasi antar sektor yang lolos saringan syariah bisa membantu menstabilkan kinerja.

4. Pantau arus dana asing sebagai indikator. Berbaliknya asing dari net sell ke net buy — seperti yang mulai terlihat di akhir Juli — sering jadi sinyal awal pemulihan. Jadikan ini salah satu indikator, tapi jangan dijadikan satu-satunya dasar keputusan.

Catatan penting: kinerja masa lalu bukan jaminan hasil di masa depan. Seluruh angka indeks dan valuasi di atas mengacu pada data per akhir Juli 2026 yang dirangkum dari sumber media, dan bisa berubah sewaktu-waktu. Artikel ini bersifat edukasi dan bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual efek tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan sesuaikan dengan profil risikomu.

Dirangkum & ditulis ulang dari InvestorTrust dan IDX Channel.

You may also like

Leave a Comment