IHSG : 5 Faktor Ekonomi Makro Yang Mempengaruhi Harga Saham

by adminsysa
4 mins read

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)

Dalam mengukur kinerja saham, Bursa Efek Indonesia (BEI) menggunakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) untuk dijadikan acuan oleh para investor dalam menggambarkan harga saham. Jadi, IHSG secara umum merupakan gambaran kegiatan di pasar modal. Seperti yang kita ketahui bahwa harga saham bersifat tidak menetap dan dapat berubah sewaktu-waktu. Nah, pergerakan harga saham tersebut dapat kita lihat dalam IHSG ini.

Dengan melihat IHSG ini juga, investor dapat menentukan kapankah waktu yang tepat untuk menjual ataupun membeli saham karena IHSG juga menggambarkan tren pasar saham. Sebenarnya, terdapat beberapafaktor yang dapat mempengaruhi nilai IHSG di bursa saham, diantaranya faktor presepsi masyarakat, faktor fundamental, faktor ekonomi makro dan faktor kebijakan pemerintah.

Namun dalam artikel ini, pembahasan akan di fokuskan pada faktor ekonomi makro. Adapun beberapa contoh faktor ekonomi makro yang mempengaruhi nilai/harga saham pada IHSG di Bursa Efek Indonesia (BEI) adalah sebagai berikut:

1. Inflasi

Mungkin sebagian dari pembaca ada yang  belum mengetahui definisi inflasi. Inflasi merupakan istilah dalam ekonomi yang digunakan untuk menggambarkan kondisi perekonomian suatu negara yang tengah mengalami kenaikan harga baik barang maupun jasa dalam waktu yang cukup lama. Tentunya hal ini akan berpengaruh terhadap harga saham atau IHSG.

Mengingat inflasi merupakan indikator ekonomi yang menjadi penyebab kenaikan harga barang, maka otomatis, inflasi yang tinggi akan menyebabkan harga produksi meningkat sehingga minat masyarakat untuk membeli produk pada suatu perusahaan akan menurun karena kenaikan harga tersebut. Kecuali, jika produk tersebut merupakan produk yang bersifat primer atau produk yang benar-benar menjadi kebutuhan pokok.

Investor akan lebih memilih untuk berinvestasi saat inflasi stabil. sehingga saat inflasi stabil, perdagangan di pasar modal akan meningkat dan tentunya berpengaruh pada IHSG. Beberapa contoh penyebab terjadinya inflasi adalah sebagai berikut:

Investor akan lebih memilih untuk berinvestasi saat inflasi stabil. sehingga saat inflasi stabil, perdagangan di pasar modal akan meningkat dan tentunya berpengaruh pada IHSG. Beberapa contoh penyebab terjadinya inflasi adalah sebagai berikut:

  1. Karena meningkatnya permintaan yang melebihi penawaran sehingga menyebabkan ketersediaan produk terbatas 
  2. Tingginya harga produksi 
  3. Uang yang beredar di masyarakat lebih banyak dari pada yang dibutuhkan. 
IHSG
freepik.com

2. Jumlah Uang Yang Beredar

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Putu Marta Edi Kusuma dan Ida Bagus Badjra dalam jurnalnya yang berjudul Pengaruh Inflasi, JUB, Nilai kurs Dollar dan Pertumbuhan GDP terhadap IHSG di Bursa Efek Indonesia (BEI), dikatakan bahwa semakin tinggi jumlah uang yang beredar, maka semakin tinggi juga tingkat bunga.

Tingginya jumlah uang yang beredar juga akan berpengaruh terhadap harga barang sehingga harga barang akan meningkat. Akibatnya, para investor akan lebih memilih untuk mendepositokan modalnya daripada menanamkan modal dalam saham. Tentunya hal tersebut akan mempengaruhi pergerakan IHSG.  

3. Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dollar

Jika nilai tukar rupiah terhadap nilai dollar Amerika Serikat melemah, maka nilai IHSG akan menurun. Contoh lemahnya nilai rupiah ini pernah terjadi pada tahun 2015. Nilai rupiah melemah hingga 0,76%. Sebelumnya Rp. 14.263 dan setelah mengalami pelemahan, jumlah nya menurun menjadi 14.271.

4. Nilai Kurs

Dalam jurnal Putu Marta Edi Kusuma dan Ida Bagus Badjra juga dikatakan bahwa nilai kurs dollar menjadi variabel yang dapat mempengaruhi pergerakan IHSG di BEI. Andai kata nilai kurs menurun dollar melemah terhadap rupiah dan ada kemungkinan nilai kurs dollar akan menguat dan rupiah mengalami apresiasi terhadap dollar pada periode berikutnya, maka investor akan lebih memilih untuk berinvestasi modal dalam bentuk dollar dengan tujuan ketika rupiah mengalami apresiasi terhadap dollar, investor akan menjualnya dalam bentuk rupiah.

5. Tingkat Bunga di Indonesia

Seperti yang kita ketahui, suku bunga di Indonesia bergerak secara fluktuaktif dan cenderung meningkat. Tentunya hal tersebut akan menjadi bahan pertimbangan bagi masyarakat untuk berinvestasi di pasar modal. Selain itu, hasil penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Joni menunjukkan bahwa bila terjadi kenaikan tingkat suku bunga Bank Indonesia (BI Rate) sebesar 1%, maka akan menyebabkan penurunan IHGS sebesar 52.55458%. Maka dapat disimpulkan bahwa suku bunga berpengaruh pada nilai IHSG.

Suka dengan artikel ini? Yuk sharing ke temen-temen kamu ya. Semoga bermanfaat!

Related Posts

Leave a Comment